Hubungan Manis 4 Tahun Kandas karena Masalah Mahar dan 'Beda Kelas'

Fimela diperbarui 25 Agu 2018, 13:00 WIB

Hubungan yang tadinya begitu hangat dan baik-baik saja bisa kandas karena sebuah persoalan yang tak pernah diduga sebelumnya. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Berkorban untuk kebahagiaan orang lain pun bukan hal mudah untuk dilakukan.

***

Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan mengalami hal-hal seperti ini. Saya tidak pernah mengira bahwa saya akan masuk dan tiba pada zona hubungan orang dewasa yang rumit dan penuh halang rintang. Menjalani hubungan manis dan adem ayem selama hampir empat tahun membuat saya terbuai.

Saya dan pasangan saya telah menjalin hubungan sejak awal duduk di bangku perkuliahan. Selama di bangku perkuliahan, tidak banyak masalah atau halangan yang kami hadapi. Memang ada, namun kami selalu mampu menghadapinya. Bertengkar pun sangat jarang bahkan tidak satu tahun sekali. Intensitas pertemuan yang tinggi membuat segala permasalahan sangat mudah diatasi.

Hubungan kami pun berlanjut sampai kami lulus kuliah dan bekerja di instansi pemerintahan di kota masing-masing. Sampai di titik ini, hubungan kami tetap stabil. Setiap beberapa minggu sekali kami luangkan waktu untuk sekadar bertemu beberapa jam serta melepas rindu sambil berkeluh kesah akan masalah satu sama lain di tempat kerja.



Beberapa teman kami menjuluki kami ‘couple goals’ macam anak-anak kekinian. Mereka menyatakan bahwa hubungan kami layak dicontoh karena sangat sehat dan rukun sentosa. Kami pun sangat bahagia, dan sangat menyayangi satu sama lain. Tidak mampu rasanya hanya untuk membayangkan jika kami harus mengalami perpisahan. Bahkan sesuatu yang tidak mungkin bagi kami untuk berpisah karena kami merasa cinta dan perasaan kami amatlah besar.

Sampai pada suatu hari, pasangan saya menunjukkan gelagat yang aneh. Isi pesannya berubah sedikit mellow seperti mengindikasikan akan terjadi sebuah perpisahan. Saya berusaha berbaik sangka, mungkin ia hanya rindu karena hampir dua bulan kami tak dapat bersua karena jadwal dinas luar yang sangat padat bahkan saat weekend.

Puncaknya adalah ketika pasangan saya kembali dari kampung halamannya. Ia mendadak berubah dingin. Nada bicaranya ketus dan terkesan mencari-cari alasan untuk membuat saya marah. Saya merasa bingung. Kalian tahu, saya sampai harus membuka beberapa artikel di internet untuk mencari tahu apa penyebab dari perubahan sikap pasangan saya. Saya memang bukan tipe yang sering menceritakan masalah hubungan kepada teman atau orang-orang sekitar. Biarlah mereka hanya mengetahui yang manis-manis dari hubungan saya. Setelah membaca beberapa artikel di internet, saya menjadi jengah. Karena kebanyakan sumber menyatakan bahwa perubahan sikap tersebut terjadi saat pasangan ingin berpisah.



Jelas saya bingung, sekali lagi saya berusaha berbaik sangka dan menganggap artikel-artikel tersebut adalah artikel universal yang memiliki kemungkinan kecil untuk sesuai dengan keadaan hubungan saya. Sampai di satu masa, tiba-tiba pasangan saya benar-benar memutuskan hubungan kami via SMS! Wow bagus! Bagus sekali hal ini membuat mood dan isi pikiran saya kalut. Ada apa? Mengapa mendadak sekali. Apa stimulus yang datang ? Ah, rasanya saya tidak melakukan hal-hal macam-macam. Bahkan pertengkaran pun nyaris tidak ada akhir-akhir ini.

Diputuskan dalam jarak yang jauh dan terdapat jadwal-jadwal pekerjaan serta dinas yang tidak dapat di reschedule tentu membuat saya muak. Bagaimana ini? Bahkan pasangan saya memutuskan kontaknya dengan saya. Akses pesan via Whatsapp dan Line saya diblokir! Astaga ujian apalagi ini?

Berminggu-minggu saya menantikan waktu selesainya dinas luar kota saya untuk segera menyambangi pasangan saya di kotanya. Ah setiap harinya terasa lama sekali karena saya merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Isi pesan saya kepada pasangan saya, penuh dengan kalimat-kalimat permohonan dan permintaan maaf. Tidak lupa diselingi dengan panggilan-panggilan telepon yang tidak pernah dijawab. Dalam jarak yang jauh saya mencoba bertanya pada teman-temannya, kakaknya atau siapapun yang saya anggap dapat memberikan jawaban namun nihil. Tak ada hasil.



Sampai akhirnya waktu dinas saya berakhir dan saya dapat membuat janji pertemuan dengan pasangan saya, hm... maksudnya mantan pasangan saya walau dengan usaha yang luar biasa. Saya berusaha menahan tangis saat ia menyatakan bahwa ini semua bermula saat kepulangannya ke kampung halaman.

Keluarganya menanyakan keseriusan hubungannya dengan saya serta apakah akan dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Ia menyatakan bahwa keluarganya merasa tidak sanggup untuk meminang saya karena merasa berbeda kelas! Astaga, memang ini zaman kerajaan yang menikah masih memandang strata sosial? Percakapan saya tidak banyak, ia sangat tergesa-gesa untuk meninggalkan saya pergi di kafe itu bahkan saat saya belum sempat meraih tisu untuk menghapus air mata. Satu kalimat yang ia ucapkan sebelum pergi, “Aku tidak mampu melihatmu menangis, aku pergi."

Jelas semua itu belum cukup untuk sekadar menyadarkan saya akan apa yang terjadi. Akan perpisahan yang sangat cepat dan tanpa basa-basi. Sampai akhirnya teman wanita dari pasangan saya menelepon. Kalian tahu kabar apa yang ia bawa  Mantan pasangan saya akan segera mempersiapkan pernikahan pada tahun ini! DUAAR!!! Sesak rasanya.



Saya sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Untungnya saat itu saya berada di sebuah taxi online , minimal saya tidak jatuh lemas tersungkur ke tanah. Teman dari pasangan saya hanya menyatakan, “Keluarganya merasa tidak sanggup membayar mahar dan biaya resepsi denganmu." Haaa? Bahkan pembicaraan mahar dan resepsi pun belum pernah sampai ke keluarga saya. Saya jengah, entah antara sedih ataupun marah. Saya sangat lelah.

Berhari-hari bahkan berminggu-minggu saya tak henti menangis. Menangisi perpisahan saya yang tragis. Menangis karena saya berada dalam jarak yang jauh dan terputus akses komunikasi. Semua pihak seakan bersatu padu menyembunyikan informasi. Saya sangat lelah.

Sampailah suatu hari terdapat pesan datang ke handphone saya. Pengirimnya adalah kakak dari mantan pasangan saya. Ia pun akhirnya memberitahu bahwa kondisi perekonomian keluarga mantan pasangan saya sedang sangat jatuh terpuruk. Setelah melalui rapat keluarga mereka, pada akhirnya diputuskan untuk meminta mantan pasangan saya memutuskan hubungan dengan saya karena mahar! Wah, luar biasa saya mendengarnya. Pihak keluarganya pada akhirnya menyetujui hubungan dia dengan wanita baru yang secara sukarela mau dinikahi tanpa mahar dan resepsi apapun. Hanya itu.

Di satu sisi saya sangat menyayangi keluarga saya khususnya ibu saya yang memang sangat memimpikan bentuk resepsi ini dan itu. Saya tidak bisa menyalahkan ibu saya karena itu merupakan impiannya untuk anak gadis satu-satunya. Walaupun sebenarnya, saya tidak pernah memaksakan keadaan.



Saya memang pernah menyatakan impian pernikahan ibu saya kepada mantan pasangan saya, tapi saya tidak pernah memaksa. Dan saya selalu bersikap biasa dan tidak menunjukkan strata sosial yang tinggi atau sebagainya. Ya biasa saja, toh saya juga orang biasa. Di satu sisi saya tidak bisa menyalahkan kondisi perekonomian keluarga mantan pasangan saya yang sedang kolaps. Dan saya tidak bisa memaksa mantan pasangan saya untuk lebih memilih saya ketimbang keluarganya.

Walau dalam hati kecil saya masih menggerutu harusnya hal-hal seperti ini masih bisa dibicarakan dan dikompromikan. Walau dalam hati kecil saya masih belum terima akan berakhirnya hubungan kami yang sangat manis karena tuntutan dan keadaan keluarga. Walau hati saya masih nyeri melihat dia sudah mendapatkan pasangan baru dan sedang menyiapkan sebuah pernikahan.

Tapi inilah kisah kami. Pengorbanan kami untuk membahagiakan keluarga masing-masing. Pengorbanan kami untuk mengikis perasaan masing-masing. Restu Tuhan ada pada restu orangtua, dan saya sangat mengamini itu. Inilah cerita pengorbanan kami. Pengorbanan berlinang air mata untuk membuat orang-orang yang kami cintai bahagia. Perpisahan karena keadaan merupakan yang tersulit menurut saya. Namun memang ada hal-hal yang tidak dapat kita paksakan sesuai dengan ekspektasi dan keinginan kita. Sudahlah, tak apa. Berkorban untuk orang-orang tersayang bukan hal yang buruk, bukan?





(vem/nda)