Tak Ada yang Sia-Sia dari Pengorbanan yang Kita Lakukan untuk Orang Lain

Fimela diperbarui 29 Agu 2018, 12:45 WIB

Seperti biasa, pagi ini aku memulai hariku dengan penuh semangat karena aku sangat ingin memberikan yang terbaik untuk Praktik Kerja Lapangan (PKL) di semester genap ini. Aku ditempatkan di salah satu puskesmas kecamatan di kota Malang. Aku bertekad akan menyerap seluruh ilmu yang ada di lapangan dan menerapkan semua ilmu yang aku dapat sewaktu berkuliah, agar aku menjadi seorang Farmasis muda yang berkompeten. Ya, anggap saja ini sebagai latihan jika nanti bekerja sebagai seorang farmasis.

Alarm pagiku pun berdering, itu tandanya aku harus segera berangkat. Aku melaju menaiki motor yang telah menemaniku hampir 6 tahun ini dengan kecepatan cukup kencang, karena tak ingin terlambat mengikuti apel pagi yang selalu dilaksanakan sebelum memulai aktivitas di Puskesmas, itu juga adalah salah satu tanggung jawab yang harus aku lakukan selama aku melaksanakan PKL di Puskesmas tersebut.

Tak seperti biasanya, apoteker di puskesmas ini tak kunjung datang, padahal jam kerja sudah dimulai. Entah apa yang terjadi, aku tak punya firasat buruk tentang perempuan paruh baya itu. Namanya Bu Yanik, beliau juga sekaligus menjadi pembimbingku selama aku melakukan PKL di Puskesmas ini.

Tak punya pilihan lain, aku memutuskan untuk menunggu di kursi yang telah tersusun rapi di depan apotek sembari melontarkan senyum kepada beberapa pasien yang perlahan memadati puskesmas ini. Berkali-kali aku menengok jam tangku yang perlahan membuatku khawatir akan ketidak datangan ibu apoteker penanggungjawab itu.

Tak masalah memang jika dia tak datang, tapi aku harus melaporkan pada dia bahwa ada beberapa berkas permintaan obat yang harus ditandatangani pagi ini, dan aku harus segera melayani permintaan itu, kemudian mempersiapkan kebutuhan obat apotek untuk didistribusikan kepada pasien. Nah, jika berkasnya belum tertandatangani, itu artinya kebutuhan obat pasien hari ini tak bisa terpenuhi. Sungguh kasihan rasanya jika pasien pulang tanpa membawa obat yang diharapkan bisa menyembuhkan penyaktinya.

Kembali aku melihat jam di tangan, modar-mandir kesana kemari di depan ruang tunggu cukup sempit itu, jam pelayanan resep pun dimulai, tetapi Bu Yanik belum juga menunjukkan batang hidungnya. Aku mecoba untuk bersabar dan menunggu, sembari merogoh ponselku dan mengirimkan beberapa pesan padanya tapi tetap saja belum ada jawaban dari pesanku itu.

Beberapa kali juga aku mencoba untuk meneleponnya tapi hasilnya pun nihil, di sisi lain aku harus memikirkan alternatif obat yang bisa aku berikan kepada pasien dengan efek terapi obat yang sama dengan tertulis di resep. Tak lama, seorang lelaki paruh baya menghampiriku, dia berkata bahwa Bu Yanik yang kutunggu sedang melakukan medical check up di salah satu rumah sakit di kota ini. Memang sih, beliau kemarin sempat mengeluh tantang penyakit Osteoarstritisnya. Ya, aku pikir itu hal yang biasa karena efek aktivitas yang naik-turun tangga.

Tak banyak berpikir, aku pun memutuskan untuk menunggu di dalam ruangan apotek. Dengan harap-harap cemas aku menunggu datangnya Bu Yanik. Aku tak mungkin memutuskan segala sesuatunya begitu saja tanpa persetujuannya, karena aku hanyalah mahasiswa yang sedang PKL di Puskesmas itu dan tak punya hak untuk memutuskan kebijakan atau permintaan.



Tepat pukul 10.11 WIB ponselku yang aku letakkan di saku kananku pun berdering. Sontak aku pun sedikit sumringah karena telepon yang kutunggu pun datang.

“Halo Agnest, assalamualaikum. Bisa nggak sekarang menemui Bu Yanik di Rumah Sakit Graha Medika? Ini penting!” suaranya terdengar tergesa-gesa disebrang sana.

“Waa.. wa'alaikumsalam bu, oh.. iya bu saya segera ke sana sekarang!” jawabku sambil terbata-bata karena bingung apa yang sebenarnya terjadi padanya. Segera aku bergegas menuju lokasi yang dia katakan. Tak lupa aku pun meminta izin kepada Asistennya yang juga ada di ruangan itu bersamaku.  

Sesampainya aku di sana, aku mencari ruang UGD karena Bu Yanik menyuruhku untuk mendatangi ruang UGD, di sana hanya ada seorang perawat yang berjaga di depan pintu ruangan yang tertutup rapat. Aku semakin bingung apa yang sedang terjadi pada Bu Yanik?

Tak lama kemudian seorang anak kecil yang tak asing suaranya datang menghampiriku dari belakang, sontak aku kaget. Zahra, anak Bu Yanik. Zahra hampir setiap hari menemaniku selama PKL, maklum di rumahnya tak ada teman bermain jadi Bu Yanik sering menghabiskan waktu bekerjanya sembari menemani Zahra bermain.

Semenjak aku PKL Zahra tak jarang menghabiskan waktu pulang sekolahnya untuk bermain denganku, senang juga rasanya ada hiburan setelah dari pagi melayani pasien. Zahra yang melihatku pun langsung memelukku dengan rasa ketakutannya. Aku pun dengan otomatis langsung memeluk dan menenangkannya. Tak lama aku berbincang dengan anak usia 5 tahun itu, ternyata dia tak boleh masuk ke ruangan UGD. Dokter menyuruh Bu Yanik untuk mendatangkan seseorang yang bisa menemani Zahra.

Beberapa jam pun berlalu, aku dan Zahra diperbolehkan masuk ke ruangan untuk melihat kondisi Bu Yanik.
“Mama!” teriak Zahra yang langsung berlari menuju ranjang Bu Yanik, aku pun mengikutinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?” tanyaku pada bu Yanik dengan penasaran.

Zahra yang tadinya berlari menuju ranjang bu Yanik, sekarang memintaku untuk menggendongnya. Aku menuruti permintannya tanpa menolak sedikitpun. Ya, karena badan Zahra yang kecil, jelas saja tak bisa untuk melihat kondisi mamanya.

“Tadi tiba-tiba lututku sangat nyeri, dan tak lama aku merasakan kram, hingga kakiku tak bisa jalan,” jawabanya dengan suara yang lemah.
“Lalu, yang mengantar bu yanik ke sini siapa bu?”
“Tadinya Bu Yanik memang ingin melakukan medical check up di rumah sakit ini, nah tapi pada saat ibu berjalan di koridor UGD tiba-tiba lututku nyeri, dan kram tapi untung saja ada seorang perawat yang melihat kondisiku dan segera membawa kursi roda,” jelasnya.

Zahra yag sedang kugendong perlahan mengeluarkan air matanya. Seolah mengerti apa yang sedang ibunya alami. Aku pun sejujurnya tak bisa membendung air mataku, hanya saja aku tak ingin terlihat sedih di depan mereka aku berusaha untuk menahan air mataku. Kasihan rasanya seorang wanita paruh baya yang hidup hanya berdua saja dengan anaknya yang masih kecil, sedangkan suaminya sedang bekerja di kota lain dan hanya pulang sebulan sekali mengalami hal yang seperti ini. Aku tak bisa membayangkan jika itu semua terjadi kepadaku, mungkin saja aku tak bisa setegar bu Yanik.

Keadaan Bu yanik tak lama pun memulih, untungnya dia mendapatkan penanganan yang cepat. Dan Bu Yanik dinyatakan boleh pulang oleh dokter setelah diperiksa keadaan lututnya. Kami pun segera berkemas dan menuju mobil Bu Yanik, aku membawakan tas Bu Yanik dan membantunya berjalan menuju tempat dia memarkirkan mobilnya.

Kami pun berjalan dengan sangat hati-hati, karena aku tak ingin Bu Yanik penyakitnya kambuh lagi, kondisi jalanan pun ramai karena banyak kendaraan yang lalu lalang di area rumah sakit, belum lagi terik matahari yang cukup membakar kami bertiga. Aku pun masih lengkap menggunakan seragam yang kupakai PKL lengkap dengan jas almamater yang aku kenakan dari tadi pagi.

Tak jauh kami berjalan, Zahra merengek ingin meminta digendong. Aku tak mungkin membiarkan hal ini terjadi, aku tak mungkin membiarkan Bu Yanik menggendong Zahra sedangkan kondisinya masih lemah seperti ini. Sontak aku pun langsung menggendong Zahra, cukup berat juga anak usuia 5 tahun itu. Belum lagi dipunggungku ada tas ransel milikku, di posisi depanku Zahra sedang bergelantung padaku, dan dis isi kiriku aku juga harus menuntun Bu Yanik berjalan, belum lagi panas matahari yang sangat menyengat. Ngos-ngosan juga ya ternyata. Tapi semua itu terbayarkan dengan rasa bahagia haruku yang bisa membantu Bu Yanik, meskipun aku harus mengorbankan waktu PKLku seharian.

“Ah, syukurlah sudah sampai di mobil” ucap Bu Yanik dengan sedikit menghela napas.
Kami bertiga pun masuk ke dalam mobil. Sengaja aku menawarkan diri untuk mengemudikan mobil Bu Yanik, karena aku tak tega membiarkan Bu Yanik mengemudikan mobil sendiri sedangkan kondisi lutut yang susah untuk digerakkan.



Lega rasanya, bisa membantu Bu yanik dan Zahra. Apalagi memastikan mereka tak kenapa-kenapa hingga sampai di rumah. Ya, meskipun aku harus mengorbankan jadwal PKLku satu hari, dan aku harus kembali ke rumah sakit untuk mengambil motorku yang masih terparkir rapi di sana. Senangnya bisa membantu sesama meskipun ada hal yang harus aku korbankan, tapi tak apa.

Semua aku lakukan atas dasar tulus, ikhlas, bukan karena Bu Yanik yang menyuruhku, dan bukan karena aku membantunya untuk memperoleh nilai yang baik darinya. Selama aku bisa membantu dan meringankan beban orang lain, sebisa mungkin aku akan membantu, aku juga bahagia jika melihat orang lain bahagia. Sejenak aku menghela napas dan mengingat pesan yang sering kakek sampaikan kepadaku.

“Kita hidup di dunia ini bukan untuk menjadi lebih daripada orang lain, tapi seberapa bermanfaatkah kita untuk membantu orang lain.”

Sehari setelah aku menuntaskan masa PKL di puskesmas itu, dosen pembimbingku berkata bahwa nilaiku sangat baik di instansi itu. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah. Ada banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan setelah kejadian itu, tak disangka juga mukjizat Allah datang kepadaku. Ada rasa senang dan kebanggaan tersendiri saat aku bisa membantu orang lain, dan itu semua tak bisa diungkapkan kata-kata.

Semoga kisah ini menjadi inspirasi untuk selalu berbuat kebaikan kepada orang lain, sekalipun kita yang harus berkorban.
“Tak ada yang sia-sia berkorban untuk orang lain, Tuhan pasti melihat itu semua. Dan biarkan tangan-tangan Tuhan yang memberi mukjizat kepada kita.”





(vem/nda)