Banyak Tantangan Jelang Nikah, Seperti Muncul Rasa Tak Yakin pada Pasangan

Fimela diperbarui 15 Sep 2018, 14:30 WIB

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.

***

Pernikahan adalah komitmen dengan ikatan antara wanita dan pria dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan manusia yang berlawanan jenis, juga dua buah keluarga. Persiapan pernikahan dimulai dari materi, mental, dan wawasan pengetahuan.

Menikah dilihat dari seberapa besar dana untuk resepsi pernikahannya, meskipun pernikahan sederhana tidak menutup kemungkinan juga mengeluarkan biaya. Apalagi biaya pernikahan di Indonesia yang memiliki beraneka ragam suku budaya dan adat istiadat tentunya pengeluaran tidak sedikit. Tidak hanya masalah cinta, sebelum menikah kita perlu memiliki mental sebagai pondasi rumah tangga. Sedikitnya kamu harus memiliki bekal wawasan pengetahuan mengenai pernikahan. Tidak semudah mengucapkan kata putus selayaknya dua sejoli yang dimabuk asmara jika berselisih paham. Kita masih harus menyelesaikan pertengkaran menggunakan kepala dingin. Oleh karena itu, pengetahuan dan wawasan sebelum menikah harus dikuasai.



Kebanyakan wanita memiliki impian pernikahannya kelak, tak terkecuali aku. Melihat selebritis memakai gaun pengantin yang mengubahnya bak ratu. Tentu saja, aku juga menginginkannya. Apalagi melihat seserahan atau hantaran pernikahan Gilang Dirga dan Adiezty Fersa, yaitu serangkaian novel Harry Potter. Tentu saja sebagai orang yang gemar membaca novel aku juga menginginkan seserahan seperti itu. Selain itu, aku juga memimpikan sebuah pernikahan yang digelar secara outdoor. Tidak perlu menyewa lokasi, karena rumahku sendiri sangat luas dengan rumput hijau yang membentang di halaman. Hemat biaya bukan? Ladies, semua hanyalah impian seorang wanita yang belum menghadapi kenyataan persiapan pernikahan sesungguhnya.

Hubunganku dengan calon suami sudah berjalan 5 tahun. Tentu orangtua resah melihat anaknya belum juga menikah. Apalagi usiaku sudah 27 tahun, dan masuk kategori wanita telat menikah. Wajah dan tubuhku yang kecil dapat menyamarkan usiaku meskipun begitu orangtuaku terutama ibu, selalu memberondong pertanyaan, "Kapan nikah?" Duh, Ladies!Tentu kamu pernah merasakan pertanyaan itu menimpamu bukan?



Rasanya sungguh acak-acakan, seperti bungkus blacan yang disobek-sobek, perih! Sesunggguhnya jodoh, rezeki, dan ajal itu sudah ditetapkan oleh Tuhan. Jadi, aku tidak khawatir berlebihan tentang waktu pernikahan. Di Indonesia wanita usia 25 tahun belum menikah itu menjadi momok yang menakutkan. Gelar perawan tua sangat dihindari oleh orangtua yang memiliki anak perempuan dengan usianya telah lewat dari 25 tahun.

Karena aku juga sudah lelah mendengar pertanyaan, "Kapan nikah?" itu. Maka, calon suamiku menemui orangtuaku, ibuku menyarankan agar ia melamarku secepatnya. Dua minggu kemudian, keluarga dari calon suamiku datang berkunjung. Esoknya, kami menentukan tanggal pernikahan setelah menemukan hari libur panjang sekolah.

Ayahnya merupakan kepala sekolah dasar, sedangkan calon suamiku bekerja sebagai staf tata usaha di sekolah menengah pertama. Selain tanggal pernikahan, ditetapkan juga uang hantaran sebagai biaya pernikahan. Jadi, biaya pernikahan ditanggung oleh pihak laki-laki berdasarkan adat melayu. Calon suamiku dari suku melayu sedangkan aku asli Jawa Timur. Karena kami tinggal di kota Tanjungpinang yang dominan melayu jadi aku tidak menggunakan adat jawa.



Aku anak tunggal, jadi ibuku semangat mempersiapkan pernak-pernik pernikahan. Aku bahkan tidak memikirkannya sama sekali. Mulailah mencatat persiapan pernikahan dari gaun pengantin, make up, dekorasi, henna, desain undangan, jumlah undangan, gedung, seserahan, mahar atau mas kawin, makanan hidangan untuk tamu, dan paling penting pengurusan surat pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA).

Aku tidak menyewa gedung, karena rumahku luas dan cukup untuk menampung sekitar 500 lebih tamu. Aku juga memendam niatku melakukan resepsi outdoor, atau bahkan seserahan novel. Kalau disimpulkan pernikahanku dalam bentuk pasrah dengan kata terserah. Bukan hanya aku, calon suamiku pun tidak peduli urusan undangan, dekorasi, souvenir, dan persiapan pernikahan lainnya.

Kebanyakan teman mengatakan bahwa banyak tantangan sebelum menikah, seperti timbul niat tidak yakin pada pasangan. Hal itu menimpaku karena, aku merasa dia bukan jodohku. Padahal hubungan kami yang diawali dari pertemanan sudah terjalin cukup lama, sampai akhirnya  memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih 5 tahun bertahan.

Usia tidak menjadi tolak ukur kedewasaan seseorang. Usiaku telah menginjak 27 tahun, tapi sikap dan sifatku masih kekanakan. Aku masih sering berhubungan dengan banyak teman pria. Ada seorang pria yang menarik perhatian hingga kami memutuskan untuk pacaran. Calon suamiku yang cuek, membuatku haus perhatian. Ketika ada pria yang hanya menelepon setiap malam aku kegirangan dan merasa jatuh cinta. Meskipun begitu aku tetap melangsungkan pernikahan karena, prinsipku masih sama yaitu pasrah. Aku yakin Tuhan Maha Baik.

Setelah tanggal ditetapkan, mulailah mencari dekorasi pelaminan dan make up. Kalau di Tanjungpinang dinamakan andam yang bertugas merias wajah pengantin sekaligus dekor pelaminan. Aku takut riasan wajahku tidak seperti yang diharapkan. Tapi, tidak perlu memakan waktu lama aku langsung menghubungi andam yang kontaknya tertera di akun Instagram. Proses negosiasi harga selesai, aku langsung mencoba gaun pengantin. Aku sendirian tanpa ditemani oleh calon suami.

Terakhir cincin nikah, aku harus membelinya sendiri setelah ia berikan uangnya. Sungguh benarkah aku akan menikah dengan orang seperti ini? Aku membeli cincin seharga uang pemberiannya.

Rasa tidak yakin pada calon suami semakin kuat, malah aku sampai mengirimkan pesan melalui Whatsapp, “Kita sebenarnya jadi nikah nggak sih?”

Tidak lupa henna, yaitu ukiran dari kuku sampai pergelangan tangan dan kaki khusus untuk pengantin wanita. Sementara, pengantin laki-laki hanya menggunakannya di kuku tangan dan kaki.

Urusan souvenir aku telah mempersiapkannya selama dua minggu setelah tanggal pernikahan ditetapkan. Souvenir kubuat sendiri dari sendok makan yang memiliki ukiran, diberi pita dengan berbagai bahan seperti flanel, dan kain tile. Sementara undangan pernikahan dicetak oleh percetakan salah seorang kerabat dan itu tidak dipungut biaya.



Kemudian, fotografer tidak lupa dicantumkan dalam daftar persiapan pernikahan. Sekali lagi, aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa memiliki teman seorang fotografer. Jadi, untuk mengabadikan momen pernikahan bisa mengirit pengeluaran. Meskipun temanku itu tentu saja kuberi beberapa rupiah untuk membayar kelelahannya. Beruntungnya pernikahanku ini banyak memiliki sponsor.

Akhirnya, pernikahanku berlangsung dengan dekor pelaminan yang sederhana tapi terlihat mewah dengan warna lembut antara biru muda, merah jambu, dan putih. Aku mengenakan tiga buah gaun pengantin yang pertama gaun akad nikah berwarna putih, siang hari menggunakan pakaian adat jawa berwarna hitam, dan sore gaun melayu modern.

Pengalaman pernikahanku siang hari hujan deras, banyak orang yang berbisik gara-gara aku mandi. Ladies, berpikirlah yang cerdas karena itu tidak ada hubungannya. Aku tidak percaya mitos mandi pagi terjadi hujan deras pada pesta pernikahan. Sebelum menikah, aku tetap mandi pagi sebagaimana umumnya harus bersih dan wangi.

Ladies, dari sekian banyak persiapan pernikahan sampai berlangsungnya acara yang paling aku jaga ialah jangan sampai kekurangan hidangan makanan untuk tamu undangan. Benar-benar sangat kujaga dan kutakutkan itu tidak terjadi. Resepsi pernikahan digelar sampai jam 5 sore. Aku menghapus make up dan mengganti baju. Teman-teman yang berhalangan hadir karena pekerjaan mereka menyita waktu hingga pesta berakhir memaksakan diri untuk datang malam harinya. Sekali lagi aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena hidangan untuk tamu masih tersedia.

Aku sudah melewati pertanyaan, "Kapan nikah?" Dan setelah pernikahanku ini berjalan satu tahun timbul pertanyaan baru dari orang-orang sekitar, juga ibuku, "Kapan punya anak?" Hidup ini urusan kita dengan Tuhan, jangan jadikan pertanyaan orang sebagai beban.

(vem/nda)