Suka Duka Menyiapkan Pernikahan di Tengah Kesibukan Kuliah dan Kerja

Fimela diperbarui 24 Sep 2018, 09:30 WIB

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.

***

Pernikahan impian pasti menjadi momen yang kalian tunggu saat ini. Apalagi yang sudah berumur, pasti rasanya ingin selalu memikirkan tantang pernikahan. Mau bertema apa? Harus siapkan budget berapa? Nanti habis berapa? Lokasinya di mana ya? Nanti undang berapa tamu? Bagusnya souvenirnya apa? Dan masih banyak lagi segudang pertanyaan yang memenuhi pikiran kami di saat sedang menyiapkan pernikahan.

Saat ini aku masih di semester 7, yang artinya 1 semester lagi aku lulus. Keinginanku setelah lulus itu adalah nikah. Pacarku pun sudah setuju (tapi setujunya agak gimana gitu, pasti dia pusing sama biayanya). Kami berkomitmen nikah setelah aku lulus baru sejak 3 tahun pacaran dan sekarang sudah 4 tahun pacaran, yang artinya kami hanya punya waktu selama 1 tahun 6 bulan harus mengumpulkan uang untuk biaya nikah nanti. Pasti kalian penasaran kenapa kami baru berkomitmen untuk nikah setelah 3 tahun pacaran hehe. Itu karena 2 tahun yang lalunya masih sekolah, dan 1 tahun lalunya masih baru masuk kerja dan kuliah, jadi masih agak kekanak-kanakan buat memikirkan pernikahan.



Terkadang karena kami terlalu sibuk menyiapkan rencana pernikahan, tugas kuliah dan pekerjaan pun terbengkalai. Apalagi kalau seorang mahasiswa sekaligus karyawan, sudah pusing karena pekerjaan dan tugas kuliah, sekarang lelah juga memikirkan perencanaan pernikahan. Banyak banget kendala yang dihadapi dalam menyiapkan pernikahan, salah satunya masalah biaya. kami membutuhkan biaya yang cukup besar dalam pelaksanaan pernikahan mulai dari mahar, seserahan, akad, dan resepsi. Pikiran kami banyak dikuras dalam bagian ini. Dihitung-hitung gaji cukup kecil kalau dibuat nabung untuk biaya itu semua.

Setiap bulan pun gaji kami benar-benar bersih. Saving pun sudah termasuk semuanya yaitu untuk biaya wisuda, biaya skripsi, dan biaya nikah. Terkadang pun minus, karena ada saja keperluan di luar perencanaan, seperti di pertengahan kelas diwajibkan beli buku, print tugas atau fotokopi, laptop rusak (ini yang paling parah salama ini, duit lagi menipis eh baterai laptop rusak, jadi mau nggak mau di service dan itu perlu biaya yang lumayan juga, jadi terpaksa ambil dari tabungan) dan terkadang adik butuh keperluan sekolah, dan terkadang orangtua perlu sesuatu dan minta tolongnya ke kami, jadi kami merasa nggak enak jika kami nggak bisa bantu, jadi Itulah salah satu penyebab saldo di tabungan nggak pernah meningkat.



Terlepas dari itu semua, kami dipusingkan dengan persiapan pernikahan seperti gaun, make up, tempat, dan catering. Di setiap ada selingan waktu sedang kerja, kami menyempatkan diri untuk mencari cari paket pernikahan yang murah. Dan kalimat pertama yang kami ketik yaitu, “paket pernikahan murah di Jakarta”. Rata-rata biaya nya pun masih jauh dari saldo tabungan kami saat ini. Aaaaaaaaa nggak sanggup aku tuh mikirin biaya nikah. Apa harus hanya akad aja? Apa itu nggak masalah? Tapi nanti apa kata tetangga? Omongan tetangga lebih pedas dibandingin dengan ayam geprek level 10 huhuhu.

Untuk seorang mahasiswa sekaligus karyawan seperti aku ini, memang untuk persiapan pernikahan bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu ekstra untuk memikirkan hal tersebut. Mau tidak mau, pikiran dan waktu kami harus dibagi rata agar keperluan kuliah, kewajiban kerja, dan persiapan pernikahan tersusun sesuai dengan rencana. Memang banyak sekali rintangan yang dihadapi dalam kami mempersiapkan ini semua. Tapi percayalah, di balik kerja keras kami selama ini, ada momen di mana kami bisa jauh lebih bahagia lebih dari yang kami harapkan.



Kalau untuk sukanya, menurut kami itu kami jadi lebih bersemangat nabung, lebih hemat (makan berdua cuma 1 bulan sekali, nonton cuma 2 bulan sekali bahkan kalau ada diskon baru kami nonton), punya lebih banyak referensi tema pernikahan dari internet, dan jadi punya banyak waktu berdiskusi secara serius bersama pasangan karena dari pembahasan pernikahan lah kami bisa tahu apakah pasangan kami serius dengan kami atau sebaliknya. Jika ketika kami bahas pernikahan dengan pasangan, kalau pasangan enggan mendengar hal tersebut atau malah risihkemungkinan dia belum siap untuk serius dengan kami. Begitupun sebaliknya, kalau pasangan mau mendengarkan tentang pernikahan dengan kami, maka pertahankanlah dia, karena itu menandakan bahwa dia mau menjalankan hubungan ke jenjang yang lebih serius.

Secara keseluruhan, perencanaan pernikahanku itu lebih banyak dukanya daripada sukanya. Tapi kami harus tetap berpikir positif untuk itu, mungkin Allah sedang menyiapkan jalan keluar yang lebih indah, atau sedang menyiapkan waktu yang baik untuk kami. Dan menurut temanku yang sudah pernah merasakan, katanya semakin dekat pernikahan maka semakin di permudah dari segi persiapannya. Jadi, kami cukup berdoa dan berusaha, terlepas dari itu semua kami hanya bisa pasrah pada Yang Maha Kuasa.






(vem/nda)
What's On Fimela