Diberi Cobaan Sakit Membuatku Lebih Berani Jalani Hidup Sebaik-Baiknya

Fimela Editor diperbarui 16 Jul 2021, 18:52 WIB

“Kuatlah Putriku, jadilah berani! Karena dunia ini terlalu kejam untuk orang lemah,” ucapan itu selalu terngiang di telingaku. Bagai gula yang selalu melengkapi teh, akan pahit rasanya jika gula itu tak hadir. Demikian juga bisikan ibuku, selalu disematkan di akhir bacaan dongeng Oki dan Nirmalanya sebelum aku tidur. Walaupun keluargaku hidup sangat pas-pasan namun aku beruntung hidup di keluargaku. Aku bersyukur punya keluarga yang begitu penuh kasih serta akur. Satu hal lagi yang paling kukagumi dari keluargaku adalah aku punya ibu yang hebat. Sampai detik ini pendapatku tentang beliau tidak pernah berubah. Ibu adalah wanita paling tangguh yang pernah kutemui. Kasihnya yang begitu murni juga pengorbanannya yang tiada tara membuat aku bisa berdiri seperti sekarang ini. Menjadi seorang dokter yang bisa membuat ibu bangga, satu dari sekian orang yang berasal dari kampung halamanku.

Sebelum dia bangga akan aku, aku sudah jauh lebih dahulu bangga padanya. Ibuku, wanita yang rela memakai baju kusam serta robek demi membelikan aku baju baru serta mainan baru kala aku mendapat juara 1 di kelas ataupun saat tahun baru tiba. Ibu yang tidak pernah memarahiku kala aku berbuat salah atau gagal tapi sebaliknya ibu selalu menuntunku dengan sabar juga memberi motivasi kala aku gagal. Ibu yang selalu membuatku tampil dimanapun itu bahkan rela bersusah payah kerja demi memberikan yang terbaik untuk pendidikanku. Ibu yang tidak pernah membiarkan aku sedih karena melihat kawanku memiliki mainan baru sementara aku tidak. Beliau begitu peka terhadap kami anak-anaknya. Mati-matian dia membahagiakan kami dan tak mengizinkan kami diejek oleh kawan-kawan kami lantaran tidak memiliki mainan baru. Pergi kerja subuh pulang sore serta tak lupa mengerjakan pekerjaan rumah sampai malam menjelang. Tak kenal lelah, senyum lebarnya selalu tersemat di balik wajah manisnya.Kekuatan itu jugalah yang menjadi panutanku selama aku hidup. Aku ingin menjadi seperti ibuku dan aku juga ingin anakku kelak bangga punya ibu seperti aku. Aku beranjak dewasa dan tumbuh menjadi wanita yang pantang menyerah. Wanita yang selalu berjuang untuk apapun yang diinginkannya. Aku pikir aku sudah cukup kuat untuk tumbuh menjadi seorang wanita sampai ada titik di mana kekuatanku sendiri di uji. Kekuatanku untuk menyerupai ibu diuji saat aku tengah mengakhiri masa studiku sebagai dokter.

Saat itu aku sedang menjalani pendidikan di departemen bedah, salah satu bagian paling berat selama aku menjalani pendidikan di rumah sakit. Sudah dua tahun belakangan ini aku mengalami nyeri di perut kanan bawah namun belakangan ini terasa begitu sakit bahkan aku sampai tidak bisa berjalan. Sedikit pergerakan membuat aku merintih kesakitan setengah mati. Pada akhirnya aku tahu aku menderita Spondylolistesis (pergeseran tulang belakang) dan pergeserannya sudah berada di grade 3. Jika sudah sampai di grade 4 dan 5, maka aku bisa lumpuh selamanya sebab pergeseran tulangnya sudah hampir seluruhnya dan menjepit saraf yang  bisa mengakibatkan kerusakan permanen.Semua terjadi begitu cepat dan aku harus segera di operasi agar tidak sampai ke grade 4. Jujur saja aku tidak siap dan begitu terpukul. Banyak hal yang membuat aku terpukul. Aku wanita yang begitu aktif, aku suka lari marathon, suka karate, suka naik gunung dan suka melakukan pekerjaan ekstrim yang cocok untuk lelaki. Bagiku masa muda hanya sekali dan aku ingin menikmati semuanya. Aku harus merelakan hal itu karena setelah operasi nanti aku hanya bisa beraktivitas ringan. Tidak boleh jongkok, tunduk atau memuntirkan badan. Terlalu banyak larangan yang harus ku patuhi. Aku juga tidak dianjurkan berolahraga kecuali renang. Bagaimana tidak, tulang belakangku akan dipotong sebagian dan sendi antar tulangnya akan diganti dengan yang buatan serta akan dipasang logam titanium untuk menopang agar tulangnya tidak bergeser lagi. Logam itu akan ada di tubuhku seumur hidup.

Hal yang lebih menyedihkan bagiku adalah bahwa aku harus merelakan cita-citaku menjadi dokter bedah. Aku tidak akan mungkin bisa menjadi dokter bedah dikarenakan menjadi dokter bedah adalah hal yang begitu melelahkan. Harus bisa tahan berdiri 7 sampai 9 jam sembari membedah anggota tubuh manusia. Itu adalah salah satu pekerjaan paling melelahkan namun yang paling menantang menurutku. Hal itu membuat aku begitu terpukul. Sejak dulu, sebelum aku tidur aku sudah membayangkan diriku bekerja dengan scalpel dan cauter. Bisa  menjadi dokter bedah bertangan dingin yang bisa menyelamatkan hidup banyak orang. Jujur aku tidak bisa menerima semua itu. Semua terjadi begitu cepat, rasanya seperti dibanting habis-habisan. Aku wanita yang aktif, masih banyak gunung yang ingin kudaki, masih banyak jalanan yang ingin kutempuh dengan berlari dan aku masih sangat ingin menjadi dokter bedah. Beberapa hari aku hanya bisa menangisi keadaanku sembari menahan nyeri di pinggang yang sesekali menghampiriku. Tapi sekali lagi aku bersyukur punya ibu yang hebat di sisiku. Dia mengingatkan aku untuk selalu bersyukur karena ada manusia yang bahkan tak punya tangan juga kaki masih bisa bersyukur dan masih bisa bahagia. Pada akhirnya aku mau operasi dan hal itu teramat sangat berat untukku. Namun semua tak berakhir di sana. Penderitaan yang lebih besar ternyata menanti di depanku. Sesuatu yang tak kuduga sesakit itu prosesnya. Pemulihan setelah operasi adalah hal yang paling berat untukku. Sebulan aku terbaring di tempat tidur, kakiku benar-benar lemah. Posisi apapun serba salah untukku. Pernahkah kalian membayangkan tidur saja kalian harus menangis karena nyeri saat bergeser sedikit, duduk saja kalian hanya tahan lima menit serta berjalan harus ditopang seperti anak bayi?

Sering sekali aku menangis di rundung ketakutan. Sebulan aku hanya melihat dinding rumah sakit juga kamarku, bertanya dalam hati kapan semua ini akan berakhir. Semua hal yang kulakukan serba salah dan berujung kepada sakit yang luar biasa. Aku mulai kecewa dan putus asa dengan keadaanku. Namun tak kusangka akhirnya aku bisa melewati semua proses itu meskipun sangat berat bagi. Semua lagi-lagi berkat malaikat yang di kirim Tuhan di keluargaku, yaitu ibuku. Dia begitu sabar merawat aku, membersihkan kotoranku layaknya anak bayi, membersihkan badanku dari keringat juga daki yang mulai menumpuk, mengganti pakaianku, bahkan tidak tidur demi menemani aku yang tak bisa tidur menahan sakitnya semua badanku.Tak jarang aku menghina, memaki serta menyalahkan semua orang. Aku menangis, berteriak dan kerap kali tak mau makan. Keadaan itu membuat aku benar-benar putus asa. Dua bulan yang begitu menyakitkan bagi hidupku saat itu. Satu hal yang pasti bahwa selalu ada hikmah di balik semua peristiwa. Sejak hari itu hidupku tidak pernah sama lagi. Aku bangkit dan bertekad harus pulih. Kukumpulkan kembali semangatku dan aku ingat satu hal bahwa untuk menguatkan yang lain aku harus kuat terlebih dahulu. Rasanya hidupku seperti dimulai dari awal kembali. Aku belajar seperti anak bayi yang baru belajar jalan. Ditopang, menggunakan tongkat bahkan pernah jatuh pingsan karena tidak kuat saat berlatih. Menjalani fisioterapi, jatuh, kesakitan, bangkit lagi. Kukuatkan semangatku agar otot-ototku juga kuat. Sampai akhirnya kakiku semakin kuat sampai bisa berjalan normal seperti orang lain.

Banyak hal yang kudapat semasa proses pemulihanku, bahwa aku harus kuat terlebih dahulu agar aku bisa menguatkan yang lemah. Aku tidak sama sejak hari itu. Aku belajar mengerti setiap kesakitan semua pasien dan belajar menempatkan hidupku di posisi mereka. Mengerti bahwa manusia sangat membutuhkan kasih tulus juga perhatian. Hal itu adalah salah satu yang tidak bisa dibeli dengan uang.  Sampai aku lihat mereka tersenyum dan semangat untuk melawan setiap penyakit mereka itu adalah suatu kebahagiaan tak terkira buatku. Sampai mereka memelukku dan mengucapkan terima kasih atas kesembuhan mereka itu adalah suatu nikmat tak tertandingi buatku. Karena apalah arti hidup kita jika kita habiskan hanya untuk memuaskan diri sendiri. Hidup itu jauh lebih berarti jika kita berbagi. Itulah sejatinya pencapaian tertinggi dari seorang manusia.

(vem/nda)