Kenalan via Medsos, Jadian Tanpa Tatap Muka dan Dilamar di Pertemuaan Kedua

Fimela diperbarui 06 Okt 2018, 14:30 WIB

Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta, juga bagaimana Sang Maha Cinta mempertemukan. Begitu juga dengan pertemuan kami yang sebelumnya kami belum saling mengenal satu sama lain. Jangankan mengenal, melihat atau memandang pun kami belum pernah. Dalam kehidupan ada yang namanya apa itu keajaiban sekaligus hal tak terduga dalam hidup.

Dalam cerita kali ini aku akan menceritakan kepada kalian bagaimana awal pertemuan kami. Kami bertemu di salah satu social media, saat itu dia mengirim pesan kepadaku, “Follback dong,” begitu kiranya pesan yang ia kirimkan kepadaku. Aku pun membalasnya, “Iya. Suka punk?” tanpa kami sadari begitu banyak hal yang kami bicarakan, dan kebetulan kami suka genre musik yang sama. Kami obral obrolan tentang bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta ini, tentang kesakitan, tentang perlawanan hingga akupun sempat bertanya, “Bukankah Indonesia adalah negara surga, tetapi mengapa masih ada luka dan air mata?”



Kami suka punk, bagi kami punk mengajarkan bagaimana kita berdiri di atas keindahan-Nya meski hati penuh lara. Sikap toleransi terhadap perbedaan yang ada. Seperti yang diketahui setiap orang mereka masih saja menilai punk adalah anarkis, menentang pemerintahan. Sebenarnya tidak! Ia dipenuhi dengan warna-warna cerah dan penyegaran hidup. Aku tahu ini terdengar aneh, tapi itu benar. Dan tentu saja ini pendapatku, tetapi terkadang aku mendapati beberapa firasat untuk beberapa hal, dan inilah firasat tentang hal itu.

21 November 2016, ia mengutarakan rasanya padaku. Atau lebih tepatnya hari jadi kami. 9 bulan hubungan kami tapi kami belum pernah bertemu dan saling tatap muka, mungkin ini terlihat gila atau sebuah sandiwara. Tapi ini memang benar adanya. Banyak cobaan dari hubungan kami sebelum bertemu, mulai dari teman dekat yang meminta padaku untuk mengakhiri saja hubunganku, hingga hati ini terkadang bertanya apakah dia di sana juga setia padaku? Apakah penantianku akan sia-sia? Aku hanya bisa berdoa untuk hubunganku dengan dia, karena aku percaya Tuhan Maha Adil dan Maha Tahu.

Terkadang aku pun ingin menyerah pada takdir. Sebelum kami bertemu, jujur saja dia selalu membuatku menangis, apa yang aku rasakan saat itu dia seakan tak peduli dengan keadaanku, sibuk dengan dunianya hingga ia lupa ada seseorang yang menanti kabarnya. Aku selalu tidur malam hanya aku berharap aku bisa bercerita tentang apa yang aku rasakan meski hanya melalui via telepon, lagi dan lagi aku harus mengalah pada dunianya. Dari situlah banyak seseorang yang ingin merusak hubungan kami.



Tapi aku berpikir lagi aku tak boleh menyerah pada takdir! Aku percaya suatu saat aku yang akan memenangkan takdir! Aku ingat sekali akhir bulan April kami akan bertemu, kunantikan pertemuan pertama kami. Aku tak sabar ingin melihat parasnya yang sebelumnya hanya bisa kulihat pada layar ponselku.

Kali ini takdir yang menang, Tuhan belum memperkenalkan kami. Saat itu aku sempat berpikir dengan perkataan temanku untuk mengakhiri saja hubungan ini. Sekali lagi kukatakan aku yang akan memenangkan takdir ini! Sabar dan tabah aku jalani hubungan ini, hingga kala itu dia memberitahu padaku bahwa bulan Juli kami akan bertemu. Aku mencoba untuk biasa karena aku takut bahagia itu tidak bisa aku miliki.

5 Juli 2017 kami akhirnya bertemu di Jogja. Bertepatan dengan hari ulang tahunnya, dan saat itu aku hanya bisa memberi ia kado sepatu berwarna biru, “Maaf sayang jika kado ini terlalu buruk.” Dalam hati aku berdoa pada Tuhan jodohkanlah kami. Sebelum bertemu ada banyak kejadian lucu, menegangkan, hingga sedih, betapa tidak aku ke jogja harus naik kereta sendiri, pukul 10.45 keberangkatan keretanya. Tidak hanya itu aku hampir saja telat ke stasiun, alhamdulillah Tuhan masih mempermudah aku untuk bertemu.



Sampai di Jogja pukul 14.05. Pertemuan perta kami akhirnya terjadi. Jogja sebuah kota penuh sejarah akan budayanya, semoga juga hubungan kami juga akan menjadi sejarah. Dan saat itu aku sangat bahagia bisa memandang wajahnya secara langsung. Hanya semalam kami bertemu, hingga esok kami harus berpisah kembali. Kami dihadapkan kembali dengan rindu, rindu mengajarkan kami agar lebih menghargai sebuah waktu yang tak akan bisa diulang kembali. Harapan terbesarku kami berjodoh dunia akhirat.

“Sayang aku ingin punya anak banyak,” kataku penuh harap padanya. “Tiga aja cukup sayang." "Nanti rumah kita nggak rame sayang pokoknya punya anak banyak.” Itulah hal yang selalu kami perdebatkan, oh ya aku belum menceritakan bagaimana sosoknya. Dia adalah kekasih terhebatku, dia sangat sayang kepada orangtuanya terutama ibunya, dia pekerja keras, dia pantang menyerah, dia selalu mengajarkanku untuk hidup sederhana. Oh ya satu lagi dia sangat tampan dan manis.

3 Desember 2017. Pertemuan kedua kami sekaligus hari di mana dia melamarku. Aku tidak tahu hubungan kami akan berakhir seperti apa, tapi aku percaya bahwa kami berjodoh. Jika suatu saat nanti kamu membaca tulisanku ini, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar menyayangimu dengan tulus. Yang aku ingin kau hanya perlu percaya tanpa ada keraguan.



(vem/nda)
What's On Fimela