Untuk Bisa Membuat Pilihan Terbaik, Harus Ada Sesuatu yang Dikorbankan

Fimela diperbarui 12 Okt 2018, 13:45 WIB

Saya adalah seorang wanita single yang baru saja menyelesaikan kuliah profesi keperawatan yang saya tempuh selama 5 tahun lebih. Dan saat ini sudah setahun sejak saya selesai kuliah karena sebelum bisa bekerja dengan profesi saya. Saya terlebih dahulu harus lulus di uji kompetensi untuk mendapatkan Tanda Registrasi sebagai Perawat.

Sekarang ini umur saya suda 26 tahun, usia bagi seorang wanita di mana pertanyaan kapan nikah mulai sangat mengusik telinga setiap kali ada pertemuan, entah dengan teman, keluarga atau kerabat lainnya. Sangat mengganggu sih tapi saya sudah memutuskan untuk terlebih dahulu bekerja dan hidup mandiri sebelum saya resmi menjalani kodrat penting seorang wanita, yaitu istri dan ibu.

Jadi pertanyaan kapan nikah suda saya anggap sebagai sapaan hangat dari orang-orang yang memperhatikan saya setiap kali kami bertemu. Saya lahir dan besar di sebuah desa. Ayah saya adalah seorang petani dan ibu saya seorang PNS. Tapi meskipun berasal dari daerah yang terpencil, saya adalah seorang wanita yang modern karena dari semenjak SMA sampai kuliah saya hidup di salah satu kota besar di negara Indonesia ini untuk menuntut ilmu.



Dari luar saya terlihat sangat lemah dan mudah rapuh (kata teman-teman saya) tapi yang sebenarnya adalah saya seorang wanita yang punya ambisi besar untuk setiap keinginan. Saya juga termasuk wanita mandiri, karena dari SMA saya suda hidup sendiri di kota besar dengan ngekos, meskipun di kota ini saya masih punya keluarga/bibi. Mimpi saya setelah lulus kuliah adalah bekerja di salah satu rumah sakit besar di kota tempat saya menuntut pendidikan. Dan saya pun segera mulai mencari pekerjaan.

Tetapi di tengah perjuangan saya untuk mendapatkan mimpiku itu, suatu kemalangan mulai menimpa keluarga saya. Ibu saya yang dari dulu telah didiagnosa menderita diabetes, sekarang bertambah parah, berat badannya mulai menurun secara drastis, glukosa darahnya juga rata-rata jauh di atas normal setiap kali tes, selain karena dietnya yang kadang tidak teratur, juga karena stresnya yang kadang tidak terkontrol karena ibu saya juga bekerja sebagai seorang Kepala Sekolah SD di desa saya. Hal itu yang membuat saya sangat tertekan karena di tengah pergulatan saya mencari pekerjaan yang saya inginkan selama ini, Ibu saya juga sedang berjuang melawan penyakit dan saya tidak bisa berada di sisinya.

Hari demi hari dan kesehatan ibu saya pun semakin menurun, dietnya juga seringkali berantakan karena Ibu saya sangat sulit menahan diri untuk melakukan diet yang teratur dan suatu saat Ibuku punya bisul (orang medis menyebutnya abses) di di salah satu bagian tubuhnya, bagian sebagian orang, bisul bukanlah masalah besar tetapi bagi penderita diabetes itu merupakan sebuah masalah karena kita biasanya luka pada orang diabetes sangatlah sulit untuk sembuh. Saat bisul itu mulai semakin membesar, rasa sakitnya pun bertambah hingga suatu malam, karena kesakitan Ibu saya pingsan dan paginya langsung dibawa ke Rumah sakit (yang sebelumnya Ibuku berobat di Puskesmas).



Perjalanan ke rumah sakit terdekat daerah kami kurang lebih selama 2 jam. Setelah mendengar kabar bahwa Ibu saya dilarikan ke rumah sakit karena pingsan akibat kesakitan karena bisul, sontak saya menangis. Sangat menyakitkan mendengar kabar bahwa orang yang kita cintai sedang berjuang menahan rasa sakit dan apalagi pada saat itu kita tidak bisa berada di sisinya bahkan untuk sekadar menggenggam tangannya dan memberinya kekuatan.

Saat itu juga saya segera berangkat dari kota tempat saya ingin mengadu nasib ke kota di mana Ibu saya dirawat, sesampainya di sana saya menyaksikan sendiri penglihatan yang mengerikan di mana wanita yang sangat saya cintai di dunia ini menahan sakit saat perawat di rumah sakit itu membersihkan luka/bisul Ibu.  Besoknya Ibu saya direncanakan akan dibedah (batu pada bisulnya akan diangkat) dan Puji Tuhan semuanya berjalan dengan lancar.

Setelah dibedah, kami pun meneruskan perawatan luka Ibuku itu pada sebuah klinik perawatan luka khusus diabetes hingga akhirnya jaringan-jaringannya mulai tumbuh lagi dan lukanya pun tertutup. Saya sangat bersyukur karena Ibuku diberi kesembuhan dengan cepat oleh Yang Maha Kuasa. Tetapi dengan ini, menyadarkan kami bahwa mulai sekarang, kami harus menjaga kesehatan dengan lebih baik dan khusus untuk Ibu saya harus lebih disiplin dalam mengatur dietnya agar jangan sampai gula darahnya meningkat jauh di atas normal lagi seperti sebelumnya.

Saya pun kembali ke kota tempat saya ingin mengadu nasib dan kembali berusaha mencari pekerjaan namun hatiku tidak pernah merasa tenang, saya selalu memikirkan Ibu. Bagaimana kalau hal serupa terjadi lagi? Bagaimana jika Ibu tidak bisa mengontrol dietnya sendiri untuk lebih menjaga kesehatannya? Pertanyaan seperti itulah yang selalu membuat hati saya tidak tenang, hampir setiap malam saya mengalami mimpi buruk akibat stres yang meningkat.



Di satu sisi, saya sangat khawatir dengan kondisi kesehatan Ibu, saya ingin berada di sana di saat-saat seperti ini. Tapi di sisi lain, saya juga punya mimpi dan saya harus mengejar karier saya, karena saya sekarang sudah menjadi wanita dewasa yang seharusnya sudah mandiri finansial, hari demi hari dan saya semakin bingung. Di kota yang lain (bukan kota tempat saya berada saat itu), saya ditawari pekerjaan di sebuah rumah sakit swasta yang tergolong besar, selain gajinya lumayan, memang sudah jadi mimpi saya untuk terlebih dahulu bekerja di rumah sakit yang besar untuk menambah pengetahuan saya. Hal itulah yang membuat saya sangat tergiur dengan tawaran itu.

Tetapi jika saya terima, itu berarti jarak kota tempat tinggal saya dengan kampung halaman tempat orangtua saya tinggal akan semakin jauh. Sangat membingungkan, berkali-kali saya berpikir dan saya belum bisa mengambil keputusan karena jujur saja, menjadi seorang wanita yang punya karier bagus akan sangat membanggakan bagi diri saya sendiri, itu mimpi saya. Tidak sedikit juga dari teman saya yang menyarankan untuk mengambil tawaran dari rumah sakit yang saya sudah sebutkan di atas, “Kamu tidak akan pernah maju kalau tidak siap merantau," banyak yang berkomentar seperti ini kepadaku. Otomatis itu menambah kepusingan saya. Setiap saat pun saya berdoa agar ditunjukkan jalan yang benar.

Sampai suatu saat saya sedang di kamar mandi (sedang mandi pastinya) dan terbesit di pikiran saya sebuah pertanyaan, keberhasilan apa yang sedang saya cari saat ini? Bukankah keberhasilan itu saat kita bisa bahagia dengan apa yang kita jalani dan juga bisa membawa kebahagiaan untuk orang-orang tercinta kita? Dan sekarang malah saya tidak berada di sana bersama orangtua yang sedang sakit demi mengejar karier. Lalu hati dan pikiran saya pun mulai sejalan, meskipun setiap bulan saya bisa mengirimi uang bulanan untuk orangtua, tetapi saya tidak berada di sana di masa-masa sulitnya, itu juga bukan keberhasilan menurut saya.

Tidak semua hal dalam hidup akan berjalan sesuai dengan keinginan kita, terkadang kita harus memilih jalan yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang kita mau. Namun percayalah satu hal, saat kamu bisa menemukan kebahagiaan dari jalan yang telah kamu pilih, kamu benar-benar telah berhasil. Dan lagi, kita harus siap berkorban satu hal untuk bisa menemukan apa yang benar-benar terbaik untuk kita, itulah pilihan hidup dan tidak ada alasan untuk kita tidak bisa memilih.

Lalu saat itu juga saya memutuskan untuk kembali ke desa saya dan hidup bersama orangtua saya, membantu menjaga diet untuk Ibu dan menemani hari-hari mereka. Saya tidak lagi tertarik untuk mengejar karier yang lebih bergengsi, saya lebih memilih untuk berbakti kepada orangtua selama saya masih diberi kesempatan.



Ini hidup saya dan saya suda memutuskan serta saya siap bertanggungjawab untuk pilihan tersebut. Di desa, saya menjadi tenaga honor di puskesmas terdekat, meskipun awalnya sulit karena perjalanan ke puskesmas agak jauh dan jalanannya tidak semulus beton di kota-kota serta kita tahulah gaji honor yang didapat, tidaklah seberapa, tapi saya suda bertekad. Saya sangat percaya kesulitan yang saya alami saat ini adalah bayaran tunai untuk keberhasilan yang akan saya dapatkan di masa depan.

Sebagai penghasilan sampingan, saya membuka kios di rumah dan ternyata hasilnya sangatlah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya dan sekarang saya sedang berencana untuk membuka toko oleh-oleh khas daerah saya. Orangtua saya mengusulkan untuk memberi modal tapi saya menolak karena saya ingin toko itu berdiri dari hasil kerja keras saya, saya akan memulainya dari nol.

Sekarang, saya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti tes CPNS sambil mulai merintis bisnis. Saya memang tidak bekerja di sebuah rumah sakit yang besar, tetapi di sebuah puskesmas yang ternyata tenaga dan ilmu saya di sini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Bukankah bunga mawar akan tetap sama harumnya meskipun tidak tumbuh pada sebuah pot yang mewah melainkan di ladang yang jauh dari kemewahan? Hidup bukan hanya tentang menerima cinta tetapi memberi cinta jauh lebih membahagiakan.



(vem/nda)