Single Mom Besarkan Anak di Rumah, Tak Diduga Rezeki Terus Datang Melimpah

Fimela diperbarui 11 Apr 2018, 14:30 WIB

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Aku seorang single parent. Saat itu keadaan sangat sulit. Aku harus mengurus dan menafkahi kedua anakku yang masih balita seorang diri. Tak perlu kuceritakan kenapa aku menjadi seorang single parent. Itu sudah berlalu. Aku bangkrut. Aku kehilangan seluruh sumber penghasilanku. Melihat kondisiku yang seperti itu, kuyakin, siapapun akan menyarankan kepadaku, “You need a day job!”

Ya, seperti ibuku saat itu. Sampai mengungkit-ungkit segala uang yang beliau keluarkan untuk menguliahkanku dulu. Tak salah memang. Beliau benar, beliau sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk takaran kondisi ekonomi kami yang bukan orang berada. Meskipun aku kuliah dengan beasiswa dan pekerjaan sampingan, tetap saja beliau ikut andil mengeluarkan uang untuk kuliahku. Tentu saja aku ingin bekerja. Aku tak mau terus merepotkan ibu seperti saat masih gadis dulu. Namun pertimbanganku saat itu adalah anak-anakku. Mereka masih sangat kecil, mereka membutuhkanku. Tak tega rasanya meninggalkan mereka untuk bekerja. Lagi pula, siapa yang mau menerima perempuan stres macam aku bekerja di perusahaannya?

Memilih Bersama Anak-Anak
Aku memilih untuk mendampingi anak-anakku. Mendidik dan memperhatikan tumbuh kembang mereka, berusaha memberikan kasih sayang yang sangat banyak agar mereka tidak merasa kesepian. Mereka sudah kehilangan sosok ayah, haruskah mereka kehilangan sosok ibu juga? Ah sepertinya hanya seorang ibu yang dapat mengerti kondisi ini. Memang, bagi seorang wanita yang memiliki suami yang bertanggungjawab, mungkin akan dipandang wajar jika dia memutuskan menjadi seorang ibu rumah tangga. Malah dianjurkan. Namun untukku, yang tidak memiliki siapapun yang menjamin nafkahku, aku kira semua orang akan mengutukku, menganggapku tidak bertanggungjawab, tidak mampu memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anakku jika aku memutuskan untuk tidak bekerja demi mendampingi mereka. Namun tentunya aku mempunyai alasan tersendiri kenapa aku memilih itu.

Pernah suatu hari aku meninggalkan mereka bersama neneknya seharian. Saat itu aku ada keperluan mengurus surat-surat kependudukan. Kupikir, tak mungkin kuajak anak-anakku, pasti mereka akan bosan dan rewel. Jadi kutinggal mereka di rumah bersama neneknya. Saat sampai rumah, kulihat mereka tampak basah. Sepertinya habis mandi. Kucium, kok bau apa ini ya? Ternyata mereka habis buang air besar, namun neneknya mungkin tidak tahu, atau tidak mengerti. Maklum lah ibuku sudah sakit-sakitan, meskipun usianya belum terlalu tua untuk ukuran nenek-nenek. Akhirnya mereka membersihkan dirinya sendiri. Sudah tahu lah akan seperti apa jadinya. Tak perlu kuceritakan. Ditambah ada kesempatan, mereka sambil bermain air. Sehingga tampaklah mereka yang basah kuyup seperti ini.

Melihat anak-anakku yang basah karena bermain air, ibuku bukannya membersihkannya, malah langsung memberinya baju ganti. Baiklah, sejak saat itu aku mengerti. Aku berjanji kepada mereka untuk tidak lagi meninggalkan mereka sendiri. Hanya aku yang bisa telaten mengurus mereka. Sehingga aku memantapkan hati menolak sederet tawaran pekerjaan yang ditawarkan teman-temanku. Aku hanya berharap jika harus bekerja, maka aku akan bekerja di tempat yang membolehkanku membawa mereka.

Berjualan Online
Aku bertahan hidup hanya dari berjualan online. Aku menjajakan barang jualan milik temanku via Instagram. Pelangganku belum banyak, baru kalangan sendiri saja. Itupun tak lama. Karena kesibukanku mengurus anak sehingga aku tidak mengurus Instagramku dengan baik. Terkadang aku pun menjual makanan di sekitar sekolah terdekat. Jika anak-anak sedang mau saja kuajak berjualan. Jika mereka bosan dan ingin jalan-jalan, maka aku menurutinya jalan-jalan. Tidak jualan.

Pernah suatu hari aku membuka stand di sebuah pameran buku. Saat itu aku menjual buku-buku cerita anak. Anak-anakku tak lupa turut serta. Mereka duduk di bangku kecil dengan meja tempat memajang buku-buku. Mereka membuka buku-buku itu seolah sedang membacanya. Sambil melihat-lihat isi buku yang penuh gambar, mereka saling mendiskusikannya.

“Dek, itu si kakeknya sedih... nyari anak yang tadi tuh yang hilang,” kata si Abang.

“Iya ya Abang, kasihan kakek,” sahut si Adik dengan suara cadelnya.

Aku yang melihatnya merasa geli sendiri. Lucu sekali mereka ini. Rupanya keberadaan mereka di stand cukup menarik perhatian pengunjung. Terutama anak-anak, yang selain tertarik dengan bukunya, mereka juga tertarik untuk turut bermain dengan anak-anakku. Alhamdulillah silih berganti pengunjung yang datang untuk melihat-lihat dan membeli buku-buku yang kujajakan. Ternyata membawa anak-anak bekerja, sama sekali bukan penghalang. Mereka tidak mengganggu. Justru mereka seperti magnet penarik rezeki.

Banyak yang Memuji Anak-Anakku
Banyak yang memuji anak-anakku, katanya anakku baik dan sopan. Tidak pernah berantem dan tidak memaksa jika menginginkan sesuatu. Ah masa? Aku merasanya biasa saja. Mereka seperti anak-anak lainnya kok, suka rebutan mainan, dan kadang suka tantrum juga. Mungkin karena aku selalu menyelesaikannya dengan menunjukkan kasih sayang, tanpa marah-marah, sehingga orang-orang tidak tahu ketika kami menghadapi masalah seperti itu. Tahunya adem ayem aja. Itu juga yang membuatku berat meninggalkan mereka. Jika orang lain yang menangani mereka, tidak mungkin bisa sepertiku. Aku takut ketika aku meninggalkan mereka, saat aku kembali aku melihat mereka sudah menjadi anak yang berbeda. Karena yang mengurusnya tidak dapat mengerti mereka.

Melihat anak-anakku, banyak tetangga dan kerabat yang meminta tips dariku untuk menangani anak-anak mereka. Aku sih senang-senang saja. Toh aku juga suka anak-anak. Alhamdulillah banyak teman, tetangga, dan kerabat yang terbantu dengan mengaplikasikan caraku mendidik anak-anak. Selama ini mereka hanya keliru, banyak di antara mereka yang merasa anak-anaknya begitu mengganggu karena teriakan dan tangisannya. Padahal anak-anak hanya butuh kehadiran orangtuanya. Bukan hanya melihat orangtua ada di rumah, tapi lebih dalam lagi dalam hal pengasuhan. Menemaninya bermain, memeluknya saat ia menangis, ada di sampingnya di saat ia mengalami kesulitan. Jika yang mereka butuhkan sudah terpenuhi, aku yakin, mereka tidak akan mengganggu pekerjaan kita. Mereka akan sangat mudah kita ajak berdiskusi dan berkompromi.

Anak-Anakku Luar Biasa
Seperti saat aku meminta anak-anakku untuk tidak mengganggu saat aku tidur siang. Saat itu aku merasa sangat lelah sehingga aku meminta mereka untuk tidak berisik. Karena ketika itu mereka tidak mau kuajak tidur siang. Masih ingin main katanya. Ya sudah, kubiarkan mereka bermain. Asal jangan berisik, dan tidak bertengkar. Lalu aku tertidur dan mereka melanjutkan main. Kudengar sayup-sayup mereka saling berbisik.

Saat adiknya mengeluarkan suara, kakaknya mengingatkan, “Sst, jangan berisik Dek, ibu lagi bobok. Kecapekan.” Lalu setelah itu tidak lagi terdengar suara. Sampai setelah beberapa lama, kudengar suara cukup berisik dari kamar mandi. Sepertinya mereka sedang bermain air. Lalu aku bangun dan mengecek kamar mandi. Terlihat si bungsu baru selesai buang air kecil, dan kakaknya sedang membantunya membersihkan diri. Masha Allah, aku terharu.

“Kenapa nggak mbangunin ibu?” kutanya.

“Kan ibu lagi bobok, takut mengganggu, kan ibu kecapekan,” kata si kakak.

"Ya ampun, Nak," kataku dalam hati. Ibu harus berkata apa untuk mengungkapkan rasa syukur ini. Itu adalah perbuatan dan perkataan seorang anak berusia lima tahun dan tiga tahun jika kalian ingin tahu. Bisa terbayang kan betapa terharunya aku ketika itu? Aku memeluk erat mereka dengan air mata yang hampir meleleh. Aku hanya memberikan pengertian dan memberitahu apapun kepada mereka dengan menunjukkan kasih sayang. Tapi hasil yang kudapatkan ketika melihat mereka tumbuh, sungguh itu adalah karunia yang tak terkira.

Mendapat Undangan Mengisi Pengajian
Suatu hari aku mendapat undangan dari ibu-ibu pengajian di masjid dekat rumahku. Aku diminta untuk memberikan ceramah tentang pengasuhan anak di pengajian itu. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin, karena aku pun sedang belajar. Tapi aku penuhi saja undangan itu, “Saya hanya bisa berbagi pengalaman aja ya, Bu,” kataku menjelaskan. Agar mereka tidak kecewa ketika mengetahui ceramahku tidak terlalu bagus, atau aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Tentu saja anak-anakku ikut. Mereka selalu bersamaku kemana pun aku pergi.

Sepulang dari pengajian, seseorang menyisipkan sebuah amplop ke dalam tasku. Dengan malu-malu ibu itu mengatakan, “Dari kami, Bu.”

Masha Allah repot-repot,” kataku.

“Ah emang udah dianggarin kok, Bu,” katanya sambil menepuk bahuku. “Tiap bulan juga gitu kalo ada pengajian," tambahnya.

Aku mengucapkan terima kasih seraya berpamitan kepadanya, dan ibu-ibu lain yang datang ke pengajian itu. Sampai rumah, kubuka amplop itu karena penasaran. Masha Allah, isinya uang. Banyak sekali.

Beberapa hari kemudian, ibu yang datang ke pengajian tempo hari datang ke rumahku. Dia membawa seorang teman. Sepertinya bukan orang sini, karena aku belum pernah melihatnya.

“Ini Ibu Ana,” katanya memperkenalkanku kepada seorang wanita di sampingnya. “Bu Ana, kenalkan ini sepupuku, dia guru BK di sekolah anakku,” katanya. Kujabat tangan wanita itu sambil memperkenalkan diri.

“Kapan-kapan, Bu Ana bisa mengisi parenting di sekolahku ya, Bu?” kata wanita itu.

Aku tertegun. “Insya Allah,” jawabku.

Duh, Tuhan, kenapa jadi begini? Kenapa harus tiba-tiba begini? Semakin lama, semakin banyak yang menawariku mengisi acara-acara yang bertajuk parenting. Bukan acara besar, hanya agenda kecil-kecilan dari sekelompok ibu-ibu saja. Jangan langsung memandangku seolah seperti ibu Elly Risman yang memiliki banyak job mengisi seminar-seminar parenting. Aku hanya sedang berbagi dengan kerabat terdekat saja. Namun seperti biasa, setiap selesai acara, ada yang menyisipiku sebuah amplop, berisi uang. Aku tidak ingin tergiur sebenarnya, aku takut itu membuatku ujub. Aku belum apa-apa. Ilmuku masih sangat sedikit.

Anak-anakku pun tidak sebaik yang mereka kira. Anak-anakku masih suka tantrum selayaknya anak-anak seumuran mereka. Mereka juga suka berantem, sama seperti anak-anak lainnya. Aku sampai meminta maaf kepada Tuhan, Allah maafkan aku, aku tidak bermaksud menjadikan ini sebagai profesi. Aku akan malu jika menjadikan ini sebagai profesiku, saranaku untuk mencari nafkah. Karena aku masih sangat jauh untuk menjadi parenter yang baik.

Berkah Tersendiri
Aku bahkan mendidik anak-anakku seorang diri. Bukan hal yang baik dalam ilmu pengasuhan. Aku belum siap menerima tawaran lagi untuk mengisi seminar-seminar parenting, apalagi di acara yang cukup besar. Sehingga banyak tawaran yang kutolak meski menawarkan honor yang cukup besar. Aku pun takut jika pada akhirnya aku akan terlalu sibuk dan mengabaikan tugas utamaku mengurus anak-anakku. Meskipun misalnya aku sudah mampu membayar babysitter terbaik pun, tetap, akan berbeda dengan didikan seorang ibu.

Suatu hari, ada tetanggaku yang baru datang dari Brebes. Dia membawa banyak sekali bawang merah. Kebetulan saudaranya yang di Brebes mempunyai kebun bawang katanya. Beliau mengirimiku sekarung kecil bawang merah. Katanya titipan dari saudaranya. Dan menyampaikan salamnya karena mereka rindu dengan anak-anakku. Aku ingat, anak-anakku memang suka bemain dengan mereka. Pada dasarnya memang suka bermain, jadi mereka akan mengajak main siapapun. Termasuk anak dari saudara tetanggaku yang dari Brebes itu, yang tampaknya memiliki kesulitan bersosialisasi. Tapi bersama anakku, mereka sudah nempel sejak pertama kali bertemu. Mungkin karena si Abang anaknya mengayomi, dan si Adik suka mengajak ngobrol. Mereka sangat dekat ketika itu. Sampai-sampai anak saudara tetanggaku ini menangis ketika orangtuanya membawanya pulang ke Brebes. Duh, nak, kalian ini, kecil-kecil sudah punya bakat dikangenin. Kataku dalam hati.

Masha Allah, bawang sebanyak ini, mau diapakan? Tanyaku pada diri sendiri. Akhirnya aku punya ide, aku mengirisnya, menggorengnya, dan memberi berbagai rasa pada bawang goreng itu. Ada rasa original, rasa daun jeruk, pedas, daun jeruk pedas, keju, dan lain-lain. Lalu kubungkus dengan kemasan berbentuk stoples dengan ukuran kecil yang kubeli secara online. Aku pun memasarkannya melalui instagram. Namun sepertinya kehidupan socmedku belum membaik sejak kasus kebangkrutanku itu. Tak ada yang merespon. Tak ada dari sekian banyak followers-ku yang memesan bawang gorengku. Satu pun tidak. Bawang gorengku justru habis diborong pelanggan-pelannganku di sekolahan. Sebelumnya aku sudah bercerita bukan, kalau aku suka berjualan di sekitar sekolah dekat rumahku? Ibu-ibu yang kebetulan sedang menjemput anaknya sekolah, mampir ke tendaku membeli bawang goreng dan beberapa lainnya.

Tuhan Maha Baik
Aku jadi merasa, kenapa ya, Tuhan baik banget sama aku? Aku cuma seorang perempuan stres yang bangkrut dan kehilangan seluruh uangku. Tak ada perusahaan yang mau menerimaku bekerja. Bahkan saat kutawarkan diri menjaga warung makan ibu sahabatku sekalipun, beliau menolakku dengan sangat halus. Lalu aku memutuskan untuk tidak bekerja, demi mendampingi anak-anakku melalui masa kanak-kanaknya. Mendidiknya, dan menemaninya bermain, selalu berada di samping mereka.

Lalu Tuhan begitu baiknya, dengan kuasaNya, Dia berikan aku rezeki dari arah yang tidak diduga-duga. Melalui tetangga, melalui ibu-ibu pengajian, melalui buku-buku dan kue-kue yang kujual, ah banyak sekali tangan-tangan Tuhan yang selalu menjagaku dan memberiku rezeki dari arah manapun. Bukan rezeki yang begitu banyak sehingga membuatku mampu membeli pesawat pribadi, bukan! Tapi ini cukup buatku untuk bertahan hidup dan menjalani hari-hari yang indah bersama anak-anakku.

Aku jadi berpikir, mungkinkah ini cara Tuhan membimbingku? Karena aku selalu berdoa, agar bisa menjadi ibu yang baik untuk mereka. Lalu tiba-tiba aku mengalami kebangkrutan, tidak diterima bekerja di mana pun, dan aku tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan kuliahku. Untuk bisa fokus kepada anak-anakku? Ah terima kasih Tuhan, karena dengan cara itu aku jadi sangat dekat dengan anak-anakku. Aku pun senang karena memiliki anak-anak yang menyenangkan. Aku menikmati masa-masa di saat aku seolah menjadi ibu paling beruntung karena memiliki balita-balita hebat yang membanggakan. Dan rezeki yang selalu datang tak terduga meski di saat aku sedang putus asa sekalipun.

Saat aku menjalani semua kesulitan ini, aku memang selalu berpikir, ah tak apa lah aku gagal dalam pekerjaanku, pendidikan, karier, dan lainnya. Tapi aku tidak boleh gagal mendidik anak-anakku. Semoga ini adalah keputusan yang benar. Kini aku tidak menyesal karena telah kehilangan kesempatan bekerja di tempat impianku sekalipun. Asal tetap bersama mereka, membimbing dan menuntun mereka sampai mereka bisa mandiri. Dan melihat mereka tumbuh menjadi anak yang membanggakan.

Bandung, 11 April 2018
Ana

 

(vem/nda)
What's On Fimela