Terlibat Bullying, Sebabkan Anak Depresi

FimelaDiterbitkan 22 Juli 2013, 07:11 WIB

Tahukah Moms kalau setiap tahunnya ada 20-56% anak muda di Amerika sekarang ini terlibat masalah bullying, baik yang menjadi korban maupun pelakunya. Bullying di Amerika lebih sering terjadi di SMP daripada di SMA. Iih anak-anak jaman sekarang ya.

Tindakan bullying itu bisa termasuk menghina, mengolok-olok, menakut-nakuti, mengancam dan melukai baik dengan perkataan ataupun fisik. Menurut informasi yang dilansir di medicalnewstiday.com, di Amerika verbal bullying atau olokan dan hinaan adalah yang paling sering dilakukan daripada bullying secara fisik.

Jika ada orang yang orientasi seksualnya bukan heteroseksual, misalnya lesbian, gay atau biseksual, mereka akan lebih menjadi sasaran bullying.

Para peneliti mengamati bahwa masalah bullying ini dipengaruhi oleh lemahnya kesehatan mental dan fisik baik dari pelaku maupun korbannya. Anak-anak yang terlibat dalam bullying biasanya mendapatkan konsekuensi jangka panjang misalnya selalu cemas, depresi, mudah tegang, dan gampang sakit perut.

Menurut sebuah studi yang telah diterbitkan di Special Suppelement, konsekuensi tadi bisa dialami si anak selama berbulan-bulan bahkan tahunan, walaupun kejadian bullying itu sudah lama terjadi.

Selain itu hasil penelitian dari Duke University Medical Center, dan telah diterbitkan di JAMA Psychiatry, menunjukkan bahwa korban bullying beresiko menderita kecemasan yang buruk dan depresi saat mereka dewasa nanti.

“Keterlibatan anak dalam bullying sangat erat kaitannya dengan resiko melakukan bunuh diri, jika dibandingkan dengan mereka yang tidak terlibat,” tambah Dorothy Espelage dan Melissa K. Holt, penulis buku tentang pengalaman bullying dan ide bunuh diri.

Sebagai orang tua, kita memang wajib memantau pergaulan anak kita ya Moms.

Oleh: Agit Diyanita

(vem/tyn)
What's On Fimela