Sukses

FimelaMom

1 dari 7 Ibu Alami Depresi Pascapersalinan, Apa yang Harus Dilakukan oleh Orang Terdekatnya?

ringkasan

  • Depresi Pascapersalinan (PPD) adalah kondisi kesehatan mental serius yang memengaruhi sekitar 1 dari 7 ibu baru dan bahkan ayah, ditandai dengan gejala intens yang bertahan lebih lama dari "baby blues".
  • Mengenali tanda-tanda PPD seperti kesedihan mendalam, mudah tersinggung, kelelahan ekstrem, dan kesulitan berinteraksi dengan bayi sangat penting bagi orang terkasih untuk bisa memberikan bantuan yang tepat.
  • Dukungan efektif bagi penderita PPD meliputi mendorong pencarian bantuan profesional, memberikan bantuan praktis dalam tugas sehari-hari, serta memberikan dukungan emosional tanpa menghakimi.

Fimela.com, Jakarta - Memiliki bayi adalah momen yang membahagiakan, namun di balik itu, ada tantangan besar yang mungkin tidak terduga. Salah satunya adalah Depresi Pascapersalinan (PPD), sebuah kondisi kesehatan mental serius yang bisa dialami oleh ibu baru. Kondisi ini bukan sekadar perasaan sedih biasa, melainkan gangguan yang memengaruhi pikiran, perilaku, dan kesehatan fisik seseorang.

PPD berbeda dengan "baby blues" yang umumnya ringan dan singkat, karena gejalanya lebih intens dan bertahan lebih lama. Kondisi ini seringkali mengganggu kemampuan ibu untuk merawat bayi serta melakukan tugas sehari-hari. Penting sekali bagi Sahabat Fimela dan orang-orang terdekat untuk memahami kondisi ini secara mendalam. Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa memberikan dukungan yang efektif dan sangat dibutuhkan.

Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai Depresi Pascapersalinan, mulai dari penyebab, gejala, hingga langkah-langkah konkret yang bisa diambil. Dengan memahami hal ini, Sahabat Fimela dapat membantu orang terkasih yang sedang berjuang melawan kondisi ini. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang suportif bagi para orang tua baru yang sedang melawan PPD.

Memahami Lebih Dalam Depresi Pascapersalinan (PPD)

Depresi Pascapersalinan (PPD) adalah kondisi kesehatan mental serius yang melibatkan otak, memengaruhi perilaku, serta kesehatan fisik seseorang secara signifikan. Kondisi ini jauh berbeda dari "baby blues" yang dialami banyak ibu baru, di mana perasaan sedih atau cemas biasanya hanya berlangsung beberapa hari hingga dua minggu setelah melahirkan. PPD ditandai dengan gejala yang lebih intens dan bertahan lebih lama, sering kali mengganggu kemampuan seseorang untuk merawat bayi dan melakukan tugas sehari-hari.

Gejala PPD umumnya berkembang dalam beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Namun, kondisi ini juga bisa dimulai lebih awal selama masa kehamilan atau bahkan hingga satu tahun setelah persalinan. Sahabat Fimela perlu tahu, PPD tidak hanya menyerang ibu. Sekitar 10% ayah baru juga dapat mengalami depresi selama periode pascapersalinan, terutama jika pasangannya juga mengalami PPD.

Prevalensi PPD di Amerika Serikat menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Sekitar 1 dari 8 wanita mengalami gejala PPD setelah melahirkan, dan di beberapa negara bagian, angka ini bisa mencapai 1 dari 5 wanita. Studi lain bahkan menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 7 wanita mengalami PPD pada tahun pertama setelah melahirkan. Peningkatan tingkat diagnosis ini mungkin disebabkan oleh deteksi dan pelaporan yang lebih baik, serta faktor risiko seperti obesitas selama kehamilan.

Mengenali Tanda dan Gejala Depresi Pascapersalinan

Orang terkasih seringkali menjadi yang pertama menyadari adanya perubahan pada ibu baru. Penting untuk dapat membedakan PPD dari "baby blues" yang lebih ringan. Gejala PPD meliputi perasaan sedih yang mendalam, suasana hati yang rendah, atau sering menangis tanpa alasan yang jelas. Penderita juga bisa merasa marah, mudah tersinggung, atau agitasi terhadap pasangan, bayi, atau anak-anak lain tanpa sebab yang jelas.

Selain itu, penderita PPD mungkin kehilangan minat atau kesenangan pada aktivitas yang dulunya dinikmati, merasa lelah sepanjang waktu, dan mengalami kesulitan tidur atau justru tidur terlalu banyak. Kesulitan berkonsentrasi, membuat keputusan, serta perubahan nafsu makan juga merupakan indikator penting. Pikiran negatif seperti merasa tidak cukup baik sebagai ibu, tidak mampu merawat bayi, atau bahkan merasa cemas berlebihan tentang bayi, seringkali muncul.

Beberapa tanda PPD yang harus diwaspadai oleh Sahabat Fimela sebagai orang terkasih meliputi:

  • Sering menangis tanpa alasan yang jelas.
  • Kesulitan menjalin ikatan dengan bayi, hanya merawatnya sebagai tugas dan tidak ingin bermain dengannya.
  • Menarik diri dari kontak dengan orang lain.
  • Berbicara negatif sepanjang waktu dan mengatakan bahwa mereka tidak berdaya.
  • Mengabaikan diri sendiri, seperti tidak mandi atau mengganti pakaian.
  • Terus-menerus khawatir bahwa ada sesuatu yang salah dengan bayi, terlepas dari jaminan.

Dalam kasus yang parah, pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi bisa muncul, yang membutuhkan perhatian medis segera. Ingatlah, "baby blues" biasanya mereda dalam dua minggu, sementara PPD berlangsung lebih lama dan lebih parah.

Langkah Efektif Mendukung Orang Terkasih dengan PPD

Dukungan dari orang terkasih sangat krusial dalam proses pemulihan dari Depresi Pascapersalinan. Langkah pertama yang bisa Sahabat Fimela lakukan adalah mendorong mereka untuk mencari bantuan profesional. Jelaskan bahwa PPD adalah kondisi medis yang dapat diobati, bukan kesalahan mereka. Tawarkan untuk membuat janji temu atau menemani mereka ke dokter umum, perawat kesehatan, konselor, atau psikoterapis. Terapi bicara dan obat-obatan seperti antidepresan adalah pilihan pengobatan yang efektif.

Selain dukungan profesional, bantuan praktis juga sangat dibutuhkan. Tawarkan bantuan dengan tugas sehari-hari seperti membersihkan rumah, berbelanja, menyiapkan makanan, atau mencuci pakaian, karena PPD dapat membuat segalanya terasa sangat berat. Ambil alih lebih banyak tanggung jawab dalam merawat bayi, seperti mengganti popok atau menyusui (jika memungkinkan), untuk memberikan waktu istirahat bagi mereka. Prioritaskan juga tidur yang cukup bagi mereka, bahkan jika itu berarti Anda harus bergantian menjaga bayi di malam hari.

Dukungan emosional tidak kalah penting. Dengarkan dengan empati tanpa menghakimi atau mengkritik, dan validasi perasaan mereka. Yakinkan bahwa ini bukan kesalahan mereka, mereka tidak sendirian, dan mereka akan sembuh. Berikan pujian dan dorong mereka untuk meluangkan waktu untuk diri sendiri, seperti berjalan-jalan atau melakukan hobi. Jadwalkan waktu berkualitas bersama sebagai pasangan dan berikan kasih sayang fisik yang sederhana, sambil tetap memahami jika hasrat seksual mereka menurun akibat depresi.

Merawat Diri Sendiri: Kunci Penting bagi Pendukung PPD

Merawat seseorang yang mengalami Depresi Pascapersalinan, ditambah lagi dengan merawat bayi, bisa menjadi tugas yang sangat melelahkan dan menantang. Sahabat Fimela sebagai pendukung, ingatlah bahwa kesehatan dan kesejahteraan Anda juga sangat penting. Jangan biarkan diri Anda kelelahan atau merasa terisolasi. Mencari dukungan untuk diri sendiri adalah langkah bijak yang tidak boleh dilewatkan.

Carilah dukungan dari teman, anggota keluarga, atau bahkan terapis untuk diri Anda sendiri. Berbagi beban dan perasaan dapat membantu Anda mengatasi stres yang mungkin timbul. Luangkan waktu untuk diri sendiri, pastikan Anda mendapatkan tidur yang cukup, nutrisi yang seimbang, dan olahraga teratur. Ini adalah investasi penting untuk menjaga energi dan kesehatan mental Anda agar tetap bisa memberikan dukungan terbaik.

Penelitian menunjukkan bahwa hingga 1 dari 10 pasangan juga dapat mengalami depresi setelah kelahiran anak. Ini menegaskan betapa pentingnya bagi pendukung untuk menjaga diri sendiri. Dengan merawat diri, Anda tidak hanya membantu diri sendiri, tetapi juga menjadi pilar kekuatan yang lebih stabil bagi orang terkasih yang sedang berjuang melawan Depresi Pascapersalinan. Jaga komunikasi tetap terbuka dan jangan ragu untuk mengungkapkan perasaan Anda.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading