Sukses

FimelaMom

Bukan Malas, Ini Alasan Gen Z Memilih 'Soft Life' dan 'Slow Living' Era

ringkasan

  • Generasi Z mengadopsi gaya hidup "soft life" dan "slow living" sebagai respons terhadap budaya kerja keras, memprioritaskan kesejahteraan mental dan keseimbangan hidup.
  • "Soft life" menekankan kenyamanan, perawatan diri, dan pekerjaan fleksibel, sementara "slow living" fokus pada kehidupan yang lebih sadar, bermakna, dan menghargai momen kecil.
  • Pilihan gaya hidup ini didorong oleh pengalaman Gen Z melihat kelelahan generasi sebelumnya, tekanan global, dan keinginan untuk mendefinisikan ulang kesuksesan di luar metrik finansial semata.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa Gen Z kini semakin tertarik dengan gaya hidup yang lebih santai dan penuh perhatian? Fenomena "soft life" dan "slow living" kini menjadi tren yang banyak digandrungi oleh generasi muda ini. Gaya hidup ini menawarkan alternatif dari hiruk pikuk kehidupan modern.

Ini adalah respons sadar terhadap tekanan budaya kerja keras yang seringkali menguras energi dan kesejahteraan mental. Tren ini bukan sekadar estetika media sosial, melainkan sebuah filosofi hidup yang mengutamakan kenyamanan, keseimbangan, dan fokus pada hal-hal penting. Gen Z melihat generasi sebelumnya kelelahan dan tidak terinspirasi oleh gaya hidup yang terlalu ambisius.

Dengan mengadopsi "soft life" dan "slow living", Gen Z berupaya menciptakan kehidupan yang lebih bermakna. Produktivitas diimbangi dengan perawatan diri dan waktu berkualitas. Mereka mendefinisikan ulang kesuksesan, bukan hanya tentang pencapaian karier, tetapi juga tentang kesehatan mental dan kebebasan. Ini adalah pergeseran paradigma yang signifikan.

Memahami Era 'Soft Life' Gen Z: Lebih dari Sekadar Estetika

Sahabat Fimela, "soft life" adalah sebuah estetika media sosial yang kini berkembang menjadi filosofi hidup bagi Gen Z. Konsep ini menekankan kenyamanan, kehangatan, dan perawatan diri. "Soft life" memprioritaskan kedamaian mental, pekerjaan fleksibel, serta kemampuan menikmati momen saat ini. Ini berbeda dengan terus-menerus berjuang untuk masa depan yang belum pasti. Bagi Gen Z, ini berarti hidup dengan lebih tenang, penuh perhatian, dan seimbang. Mereka tetap produktif tanpa mengorbankan pendapatan.

Ciri khas gaya hidup "soft life" meliputi prioritas pada keseimbangan kehidupan kerja yang sehat. Gen Z cenderung memilih pekerjaan yang mendukung kesehatan mental mereka. Mereka menghindari lembur tanpa henti. Perawatan diri dianggap sebagai investasi penting, mulai dari rutinitas kecantikan hingga bepergian. Menikmati istirahat kopi yang tenang juga termasuk. Mereka juga aktif membangun berbagai sumber pendapatan, seperti pekerjaan lepas atau bisnis online. Ini menawarkan fleksibilitas lebih.

Penting untuk dipahami bahwa "soft life" bukanlah tentang kemalasan atau tanpa tujuan. Sebaliknya, ini adalah pilihan sadar untuk menolak stres berlebihan. Tujuannya adalah menemukan cara hidup yang berkualitas lebih tinggi. Gen Z menggunakan kreativitas mereka untuk membangun kenyamanan dan kedamaian. Mereka berfokus pada hal-hal yang membawa makna dan kebahagiaan nyata. Ini bukan mengejar kemewahan berlebihan semata. Mereka bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras. Mereka memastikan pekerjaan tidak mengonsumsi seluruh keberadaan mereka.

'Slow Living': Menemukan Makna di Tengah Kecepatan Dunia

Sejalan dengan "soft life", konsep "slow living" juga semakin populer di kalangan Gen Z, Sahabat Fimela. Ini adalah pola pikir yang mendorong seseorang untuk menciptakan gaya hidup lebih bermakna dan sadar. Gaya hidup ini selaras dengan nilai-nilai yang paling dihargai. Berakar dari gerakan Slow Food tahun 1980-an, "slow living" menekankan pendekatan yang disengaja. Ini adalah pendekatan penuh perhatian terhadap setiap aspek kehidupan sehari-hari. Mulai dari makanan hingga interaksi sosial.

Bagi Gen Z, "slow living" berarti hidup secara sadar dengan menghargai waktu. Mereka menggunakannya secara bijak untuk hal-hal yang benar-benar penting. Mereka memilih kualitas daripada kuantitas. Fokusnya pada kehadiran, kesederhanaan, dan kesadaran penuh. Praktik "slow living" bisa berupa menghabiskan waktu untuk kegiatan kreatif. Bisa juga berjalan-jalan di alam, membuat jurnal, atau menikmati ritual penuh perhatian. Contohnya seperti membuat teh.

Gaya hidup ini juga mendorong waktu henti dari teknologi. Ini mempromosikan "hidup dengan sengaja". Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik. Juga meluangkan lebih banyak waktu untuk refleksi. Dengan memprioritaskan sarapan yang tenang, yoga, atau membaca buku tanpa gangguan, Gen Z berupaya meningkatkan kesadaran diri. Mereka juga membangun ketahanan emosional di tengah ketidakpastian. Ini adalah cara untuk menolak produktivitas beracun dan merangkul keseimbangan yang lebih berkelanjutan.

Mengapa Gen Z Memilih Jalan Ini? Respon Terhadap Tekanan Modern

Motivasi Gen Z untuk mengadopsi "soft life" dan "slow living" sangatlah kuat, Sahabat Fimela. Ini merupakan respons langsung terhadap tekanan hidup modern. Salah satu pendorong utamanya adalah penolakan terhadap budaya kerja keras atau "hustle culture". Budaya ini mendominasi generasi sebelumnya. Gen Z menyaksikan orang tua mereka mencapai puncak karier. Namun, mereka seringkali berakhir stres atau tidak terpenuhi. Ini membuat mereka skeptis terhadap pola pikir gila kerja.

Kesehatan mental dan risiko burnout juga menjadi perhatian utama. Gen Z tumbuh di era Resesi Hebat, pandemi, dan krisis biaya hidup. Mereka menyadari bahwa kerja keras tidak selalu menjamin kesuksesan. Seringkali, ini merugikan kesehatan mental. Data menunjukkan sekitar 46% Gen Z melaporkan merasa stres atau cemas sepanjang waktu atau sebagian besar waktu. Ini mendorong mereka untuk memprioritaskan kesejahteraan di atas segalanya.

Selain itu, tekanan global seperti konflik geopolitik, krisis iklim, dan ketidakpastian ekonomi semakin memperkuat keinginan mereka untuk mencari ketenangan. Gen Z mendefinisikan ulang kesuksesan. Bukan hanya tentang gaji besar atau naik tangga korporat. Ini juga tentang kesehatan mental, waktu luang, dan kebebasan. Mereka ingin hidup sesuai keinginan. Era digital juga memungkinkan fleksibilitas kerja jarak jauh dan kewirausahaan. Ini sangat mendukung gaya hidup "soft life".

Kritik dan Nuansa: Membedah Persepsi 'Soft Life'

Meskipun tren "soft life" dan "slow living" menawarkan banyak manfaat, ada pula kritik dan nuansa yang perlu dipertimbangkan, Sahabat Fimela. Beberapa pihak berpendapat bahwa pola pikir ini dapat mendorong orang untuk menghindari kerja keras. Atau mungkin tidak realistis bagi semua orang untuk bekerja jarak jauh atau bepergian terus-menerus. Persepsi ini seringkali muncul dari kesalahpahaman. Mereka mengira "soft life" identik dengan kemalasan.

Ada juga pandangan bahwa "soft life" bisa dianggap sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab. Atau hanya sekadar estetika di media sosial. Di mana kelembutan hanya muncul dalam momen-momen singkat. Ini terjadi di antara stres pekerjaan dan tanggung jawab lainnya. Namun, Gen Z yang menganut gaya hidup ini justru berargumen bahwa mereka bekerja lebih cerdas. Mereka memanfaatkan teknologi untuk efisiensi. Mereka juga membangun aliran pendapatan pasif.

Gen Z, meskipun merupakan generasi yang paling terhubung secara online, sangat menyadari dampak negatif dari doomscrolling dan perbandingan sosial. Oleh karena itu, *digital detox* atau detoksifikasi digital menjadi bagian penting dari gaya hidup mereka. Ini menunjukkan bahwa pilihan mereka adalah hasil dari kesadaran mendalam tentang kesejahteraan. Bukan sekadar pelarian dari realitas. Mereka mencari keseimbangan yang otentik dan berkelanjutan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading