Bagiku, Usia 20 Tahun Lebih "Sakral" Dibandingkan 17 Tahun

Endah Wijayanti diperbarui 16 Jan 2019, 19:13 WIB

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Sarah Andrika - Semarang

Tahun 2018 adalah waktu tersingkat yang pernah kurasakan. Bagaimana tidak? Seperti sebatang cokelat yang dilelehkan di atas api medium, usiaku yang baru genap 19 tahun akan beranjak ke 20 tahun pada 2019 ini. Mungkin orang akan berpikir perubahan umurku masih lama karena itu membutuhkan lima bulan terhitung dari bulan pertama di tahun 2019. Namun bagiku itu bukanlah waktu yang bisa membiarkanku tidur nyenyak di atas tempat tidurku.

Ya, di benakku perayaan usia 20 tahun lebih sakral dibandingkan perayaan usia 17 tahun. Mengapa? Karena seorang gadis yang menginjak 20 tahun dituntut untuk berdiri tegak dengan segala beban di pundaknya. Bagaikan pendekar yang siap bertarung di arena perang, gadis 20 tahun harus mampu terjun dan bertahan di tengah kehidupan yang nyata, berkerikil, dan berlika-liku tajam.

Sakral dalam perayaan usia 20 tahun bukanlah mengenai pesta dengan dua puluh lilin di atas kue tart melainkan kesiapan hati, jiwa, raga, dan pikiran untuk menyambut kedewasaan yang alami. Berbicara tentang usia 20 tahun tentu hal itu tak lepas dari fakta tingkat produktivitas seorang pemuda. Kata orang-orang yang pernah memangku kepala dua di umurnya, 20 tahun adalah titik awal dari perjalanan hidup yang penuh semangat dalam menciptakan karya bermakna. Aku pun berpikir cukup lama hingga aku sadar apa yang dikatakan orang-orang itu adalah kebenaran. Aku merasa di usia 20 tahun, aku akan lebih banyak melakukan dan memperbaiki kesalahan, menunjukkan jati diri, berbagi kasih sayang, dan memperjuangkan masa depan yang bercahaya.

Ya, membayangkannya saja sudah sangat rumit bukan? Hmm... Terlepas dari semua hal baik atau buruk yang mungkin menimpa diriku di tahap awal menjadi orang dewasa, aku sadar hal terpenting yang harus kumiliki saat ini adalah keberanian menuliskan berbagai mimpi di lembaran hatiku. Aku ingin mimpiku menjadi kenyataan dengan start yang baik di tahun 2019.

 

 

 

What's On Fimela
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Sebagai seorang gadis yang telah berjalan di atas bumi selama 19 tahun, aku menuliskan pencapaian utamaku adalah menjadi gadis dewasa yang mulai memikirkan orang lain. Aku mempunyai harapan menjadi seseorang yang lebih berfaedah bagi sekitarku. Setidaknya secuil inspirasi, angan, atau manfaat dari diriku dapat diterima oleh orang lain. Ya, aku tahu itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi tidak ada salahnya aku menganggap itu sebagai sesuatu bak melati di taman sendiri yang kupetik dengan tangan kosong. Bagaimana pun perasaan memiliki dan dimiliki orang lain menjadi dasar tanggung jawabku.

Seperti bayi yang belajar berjalan. Aku, gadis mungil yang bercita-cita menjadi gadis dewasa yang tidak egois tentu akan melewati banyak tahapan pembelajaran. Di tahun 2019 ini, aku ingin menekankan bahwa aku tak mencari sebuah pencapaian yang berjalan cepat. Bagiku, sebuah pencapaian yang berjalan perlahan tidak salah selama makna dari setiap langkahnya dapat mendewasakanku. Karena itu, aku akan memulai dari langkah yang sederhana. Aku akan mulai dari bagaimana aku memanajemen emosiku. Aku berniat untuk mengontrol amarahku, menghilangkan kebiasaan mengeluh, dan menumbuhkan kesabaran serta keikhlasan dalam menghadapi problematika hidupku.

Sebuah rencana terjun dalam kegiatan sosial menjadi salah satu agenda yang kuharap bisa membantuku mengendalikan emosi. Melalui kegiatan bakti sosial atau peduli korban bencana yang kelak aku ikuti, tenaga, skill, dan perasaanku mungkin akan tersalurkan kepada orang lain yang membutuhkan uluran tangan. Ilmu kesehatan yang kupelajari di bangku perkuliahan mungkin akan membantuku lebih dekat dengan masyarakat. Ya, ini adalah sebuah harapan bisa melihat senyum kepuasan masyarakat secara langsung. Dari sini aku pasti banyak belajar mengenai emotional management.

Kemudian agenda selanjutnya yakni membiasakan diri membaca buku dan mengatur keuangan secara efektif dan efisien akan menjadi cara pendewasaan diriku juga. Mengapa aku memilih dua hal tersebut? Karena kupikir buku dan keuangan berkaitan erat dengan persiapan menghadapi masa depan. Dalam hal ini, buku sebagai jendela dunia yang akan mengantarku pada banyak informasi pengembangan diri dan karir. Pengetahuan yang kudapat dari buku akan menjadi landasanku untuk melatih diri lebih baik. Sementara itu, keuangan akan menjadi modal pendukungku dalam beradaptasi di zaman now. Aku berharap cakrawala seorang gadis di usia 20 tahun akan semakin terbuka dan bergerak dinamis. Selain itu aku juga mendambakan kemampuan dalam menyusun prioritas pemenuhan kebutuhan yang berjalan lebih baik melalui kebiasaan berhemat, menabung, serta berbagi dengan sesama yang membutuhkan.

Nah, itulah my goal matters. Aku rasa itu terlihat simpel tetapi itu membutuhkan niat yang tidak sesimpel saat menuliskannya. Bagaimana pun aku percaya bahwa setiap gadis pasti punya mimpi dan target yang harus dicapai di tahun baru ini. Suka duka di tahun 2019 mungkin akan menjadi warna tersendiri dari perjuangan bertahan hidup di bumi ini. Sudah waktunya bagi setiap gadis untuk menciptakan corak di lingkungannya sendiri. Aku sebagai salah satu gadis mungil yang mulai beranjak dewasa, di tahun 2019 ini akan berusaha mencapai apa yang kuinginkan dengan segala efforts dan doa yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. My wish: God is blessing me and you all.

Bawen, 2 Januari 2019

Sarah Andrika