Berproses Itu Seperti Memotret Berbagai Objek, Hasilnya Didapat Setelah Dicetak

Endah Wijayanti diperbarui 15 Feb 2019, 12:24 WIB

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Nurfika - Jombang

Terlahir dari keluarga yang sederhana dan menjadi anak pertama, aku menyaksikan ayah dan ibuku bekerja dari nol membuka studio foto kecil dengan mengontrak rumah kecil di dekat pasar. Kala itu tahun 1989, kebanyakan teknologi fotografi masih memakai manual.

Sejak usiaku 4 tahun aku sudah tahu bagaimana caranya mencetak foto, karena ayah sering mengajakku melihat prosesnya di laboratorium fotografi (kamar gelap). Aku masih ingat prosesnya. Mulai dari memasang roll film, memotret, dan mencuci film di kamar gelap. Agar hasil foto berkualitas diperlukan waktu seharian, proses yang sangat lama dibanding memakai teknologi digital zaman sekarang. Dan kala itu aku sangat senang setiap ayah mengajakku mencetak foto, bagiku tak ubahnya seperti permainan baru yang seru.

Usaha yang dirintis orang tua semakin lama semakin banyak pelanggan. Lima tahun kemudian kami bisa membangun dan memiliki rumah. Hingga aku pun bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Terbiasa melihat orang tua bekerja keras, aku tumbuh menjadi anak yang mandiri dan menghargai proses.

 

 

 

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Saat itu aku bertekad sebisa mungkin tidak akan membebani orang tua. Aku harus bersungguh-sungguh kuliah. Aku harus berprestasi. Aku harus mendapat beasiswa dan cepat lulus. Rupanya tekadku saat itu benar-benar tertanam di alam bawah sadar. Aku selalu mendapatkan beasiswa tiap tahun, IPK selalu di atas 3,5, dan aku menyelesaikan kuliah dalam waktu 3 tahun 6 bulan saja. Tidak hanya itu, akupun diterima bekerja di salah satu bank syariah nasional sebelum diwisuda.

Semua pencapaianku waktu itu tidak kudapat dengan instan. Semua melewati proses yang panjang dan butuh pengorbanan. Prinsipku adalah, “Aku harus berbeda, aku tidak mau jadi biasa." Saat teman yang lain pergi ke mall aku menghabiskan waktu di perpustakaan. Saat yang lain pergi main aku lebih memilih kerja part time menjadi pramusaji. Dan di saat teman sekamarku terlelap tudur, kusempatkan kepala ini bersujud merendah kepada Sang Pencipta. Memohon kemudahan dan petunjuk agar mampu melewati semua persoalan.

Aku sangat bersyukur terlahir dari orang tua yang pekerja keras. Aku juga belajar bahwa segala sesuatu yang kita inginkan pasti memerlukan proses yang tidak sebentar, butuh kesabaran dan pengorbanan. Juga bukan hal yang mustahil kita akan bertemu dengan orang yang berusaha menjatuhkan kita. Apapun tantangan yang akan datang di masa depan akan berhasil kita lalui, jika kita yakin dan bersungguh-sungguh. Dan bagiku, berproses itu seperti memotret berbagai macam objek kemudian mencetak hasil dan membingkainya dalam pencapaian hidup.