Pintar Saja Tak Cukup untuk Menyelesaikan Masalah dan Badai Kehidupan

Endah Wijayanti diperbarui 16 Feb 2019, 09:20 WIB

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Vonny A. Susanta - Denpasar

Saat pulang mudik dan duduk di meja makan, terbayang sayur bening, botok, telur penyet, tempe goreng dan sambel ibuku yang top. Botok makanan kesukaanku, ibuku membungkusnya dengan rapi satu per satu. Bungkusnya sama tapi isinya bisa berbeda, serunya sepeti main tebak-tebakan, tetapi selalu menggoda. Jadi ingat kalau pulang sekolah kadang bunyi perut yang sudah ramai membuat aku tidak sempat mengganti seragam sekolahku langsung duduk di meja makan.

Di sudut ruangan aku lihat ayahku sedang memperhatikan aku dan adik-adikku berebut botok. Terdengar suara, "Sudah cuci tangan, ambil secukupnya nanti bisa tambah kalau kalian suka, tapi harus habis, ingat anak-anak yang kelaparan di Etiopia... ," wejangan panjang dengan topik yang sama setiap hari, karena kami lapar sambil menguyah dan sesekali mengangguk serta mengangkat dua jari tanda berjanji menuntaskan yang ada di piring masing-masing.

 

What's On Fimela
ilustrasi./copyright Pexels/Artem Bali

Waktu cepat sekali berlalu, aku sudah menyelesaikan kuliahku dan mulai bekerja. Teman-temanku mengenal aku termasuk orang yang dapat dikatakan selalu menepati perkataan atau janji. Kehidupan menuntut seseorang memiliki keterampilan dan komitmen. Komitmen adalah suatu kemauan yang kuat teguh untuk menepati apa yang sudah dijanjikan. Padahal manusia paling susah untuk konsisten dan kadang suka berubah-ubah bahkan melakukan hal yang kontradiktif.

Mungkin banyak yang berpikir untuk sukses harus pintar dan punya IQ tinggi, itu yang sering aku dengar zaman aku di SD dulu. Tapi saat ada badai kehidupan, ujian datang, pintar saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah, sering kali solusi ada pada keteguhan janji. Contoh kegagalan dalam masyarakat sangat banyak termasuk gagal dalam membina keluarga sehingga jumlah perceraianpun meningkat.

Dari beberapa buku maupun artikel dikatakan bahwa kegagalan dalam pernikahan seseorang sering disebabkan karena kurangnya pemahaman komitmen. Apakah komitmen bisa dilatih? Rupanya bukan hanya sekadar pengetahuan dan hafal definisinya, tapi orang tua bisa melatih komitmen anak dengan mendorong anak mereka untuk melakukan apa yang sudah mereka janjikan sesepele apapun janji itu. Jadi ingat harus menghabiskan botok dan makan siangku, kalau sampai ketahuan kami menyisakan makanan maka tidak segan-segan ayah duduk dan menunggu kami menyelesaikan makanan, selain itu ayahku juga selalu memberikan keteladanan makan secukupnya selalu menghabiskan makanannya, ternyata begitu caranya ayah melatih komitmenku sejak aku kecil.

Masih banyak lagi nilai-nilai kehidupan yang ayah wariskan sebelum dia kembali ke Sang Pencipta. Bersyukur, ayahku mengajarkan hal-hal sepele dan memupuk sikapku untuk melatih komitmen.