Orang Lain Boleh Menyakiti Kita tapi Jangan Diam Saja dalam Keterpurukan

Endah Wijayanti diperbarui 25 Feb 2019, 11:53 WIB

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Rahayu - Surabaya

Pelajaran Berharga dari Kisah Eyang tentang Pengkhianat

Aku mempunyai kakek, yang biasa aku sebut Eyang. Sejak kecil aku sangat dekat dengan Eyang. Mulai dari bercanda, belajar ditemani Eyang, dan banyak keseruan lainnya saat mendengarkan cerita hidupnya.

Sebagai ayah dari ibu, beliau sangat mencintai cucu-cucunya. Aku juga sangat menghormati dan menyayanginya. Banyak sekali petuah kehidupan yang ditanamkan kepada anak cucunya. Apalagi Eyang suka berbicara dan pandai bercerita. Aku akan berbagi sedikit pengalamanku saat kecil, mendengarkan petuah dari Eyang tentang pengkhianatan yang dialaminya.

Dahulu Eyang merupakan laki–laki pekerja keras. Beliau merupakan anak orang miskin yang sukses dengan tangannya sendiri. Saat itu Eyang membangun usaha berjualan beras. Beras yang Eyang jual cukup banyak, karena bukan pedagang eceran. Untuk memulai usaha itu Eyang bekerjasama dengan teman dekatnya. Sahabat yang telah kenal lama dan saling percaya.

Saat itu usia Eyang 29 tahun dan belum menikah. Temannya juga belum menikah. Mereka berdua punya keinginan membangun bisnis bersama saat di bangku sekolah. Setelah lulus sekolah mereka baru menekuni ide itu berdua. Dan ditemukanlah dagang beras itu. Eyang dan temannya merupakan sahabat karib, amat dekat. Kedua orang tua mereka juga dekat dan satu sama lain saling tolong menolong.

Mereka berdua berkerja sama untuk memulai dari menghimpun modal, mengumpulkan uang bersama, mencari pinjaman, mencari tengkulak, membuat stategi pemasaran, memasarkan, dan banyak lainnya. Tiga tahun berjalan bisnis tersebut semakin berkembang pesat. Begitulah untungnya berdagang bahan pokok, yang pasti tiap hari dibutuhkan orang banyak. Semakin banyak permintaan beras maka semakin banyak pula keuntungannya.

What's On Fimela
Foto: copyright thinkstockphotos.com

Selain kesepatakan untuk berbisnis, eyang dan temannya juga bersepakat untuk belajar bersama menemukan pendamping hidup setelah bisnisnya berjalan cukup baik. Maka setelah tiga tahun usaha itu, Eyang mengenal seorang wanita. Amat disayangkan temannya saat itu belum memiliki kenalan wanita.

Kata Eyang pacarnya dulu itu ramah, mudah bergaul, dan cantik. Wanita itu setelah mengenal Eyang, sering datang ke ruko untuk menemui Eyang. Dia juga sering membantu Eyang berdagang. Kebiasaannya sering datang ke ruko, sudah pasti bertemu dengan teman Eyang juga. Teman Eyang juga mengizinkan wanita itu ke ruko. Katanya juga sudah waktunya untuk memiliki pendamping hidup. Akan tetapi lama–kelamaan menjadi konflik antara Eyang dan temannya.

Memang di tahun itu Eyang lebih banyak mendapatkan keuntungan daripada temannya, seperti mendapatkan pacar, serta mendapatkan kerjasama bisnis di luar bisnis Eyang dan temannya itu. Akan tetapi ada rasa iri dari teman Eyang kepada Eyang. Ditandai dengan kemarahan temannya, yang katanya tidak imbang kerja keras yang dilakukan mereka berdua. Teman Eyang merasa bahwa ia yang paling banyak sengsara, yang paling berkerja keras terhadap kesuksesan bisnis itu. hal ini terjadi saat Eyang punya pacar. Katanya Eyang kurang peduli lagi terhadap bisnis itu. Lebih fokus pada wanita. Bagaimanapun klaim tersebut, Eyang tidak terima, karena Eyang juga susah payah membangun bisnis itu.

Ketika stok beras gudang menipis, sedang permintaan banyak. Maka seperti biasa teman Eyang yang memegang komunikasi dengan tengkulak, serta membawa laba dan modal yang memesankan beras itu agar sampai ke gudang.

Akan tetapi teman Eyang membawa kabur uang semuanya, dan gudang tidak ada setoran beras seperti biasanya. Padahal utang pada tengkulak cukup banyak yang berlum dibayar. Dan sangat disayangkan sekali pacar Eyang, juga tidak pernah menjenguk Eyang, dihubungi tidak bisa. Kabarnya teman Eyang tidak hanya membawa kabur uang tapi juga pacarnya untuk dijadikan istri. Ternyata di balik itu pacar Eyang dan temannya selingkuh di saat Eyang telah menjadi pacarnya.

Setelah kejadian itu, Eyang selalu memikirkan mereka berdua. Begitu kejamnya, apa yang dilakukan terhadap Eyang. Bagaimana bisa sahabat yang telah bersama bertahun–tahun lamanya bisa berkhianat. Bahkan sangat hina sekali mereka, yang tampak manis di depan tapi berkhianat, selingkuh di belakang.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/@ambarsimpang

Dari cerita itu Eyang selalu berpesan kepada anak cucunya, untuk selalu berbuat jujur dan tidak pernah berkhianat. Kata Eyang manusia itu mempunyai kehendak bebas akan menjadikan dirinya baik atau jahat. Semua adalah pilihan bagi dirinya sendiri. Maka jadilah orang yang baik dan waspadai bahwa di lingkungan kita banyak orang yang berkhianat. Dan prinsip hidup Eyang yang paling aku suka adalah selain waspada jika kita telah tersakiti: orang lain boleh menyakiti kita tapi kita jangan pernah lelah untuk bangkit dari keterpurukan itu. Karena sesungguhnya kesabaran dan kekuatan untuk bangkit itu yang akan mengalahkan musuh–musuh kita.Tak hanya memberikan pesan, Eyang juga selalu mendidik anak cucunya untuk tidak berkhianat dan berbohong. Setiap ada yang melanggar Eyang akan marah. Tapi jika menurut, Eyang akan memberikan hadiah kepada cucu-cucunya.

Setelah Eyang meninggal aku tak pernah lupa dengan petuahnya. Hingga sekarang aku belajar untuk bertanggung jawab akan setiap perkataan dan perbuatanku. Sesungguhnya besarnya rasa tanggung jawab yang kita miliki, kita tidak akan mudah menipu maupun mengkhianati. Karena apabila aku berbicara “A” maka aku bertanggung jawab untuk melakukan “A” tersebut pada setiap perbuatan atau ucapanku. Begitulah orang hebat, yaitu orang-orang yang bisa bertanggung jawab.

Selain itu aku juga telah terbiasa sejak kecil untuk tidak berbohong. Baik kepada orangtua, keluarga, teman, dan orang lain. Membicarakan atau berbuat apa adanya sesuai fakta itu ternyata lebih enak, karena kita tidak akan bersusah payah lagi untuk menutupi kebohongan kita yang telah diperbuat. Aku juga tidak ingin berbuat khianat. Serta, aku tidak pernah lupa untuk waspada terhadap musuh–musuh di sekelilingku.