Hari Kartini: Menilik Permasalahan Perempuan dalam Dunia Pekerjaan yang Didominasi Pria

Karla Farhana diperbarui 16 Apr 2019, 19:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Selama beberapa dekade, beberapa pekerjaan atau profesi biasanya didominasi pria. Seperti dunia teknologi dan informasi, web developer, ahli kimia dan teknik, dan sebagainya. Namun kini, menurut berbagai penelitian, tulis Business News Daily, garis yang membatasi kedua gender ini telah memudar. 

Seperti penelitian yang dilakukan Carrer Builder menunjukkan adanya peningkatan angka perempuan yang kini berkarya dalam karier-karier di atas. Studi tersebut menemukan kalau hampir seperempat pekerjaan yang biasanya banyak diminati pria seperti CEO, pengacara, ahli bedah, web developers, ahli kimia, dan produser kini banyak dimiliki perempuan dalam kurun waktu 2009 hingga 2017. 

Sementara itu, New York Times melaporkan sejak Desember 2016, angka perempuan yang juga bekerja di 3 bidang pekerjaan paling bonafit, seperti tambang, konstruksi, dan transportasi. 

 

Semakin tingginya angka perempuan yang bekerja di bidang pekerjaan ini ternyata didorong oleh pasar tenaga kerja yang kian mengetat. Selain itu, sektor pekerjaan yang didominasi pria ini cenderung lebih cepat tumbuh ketimbang pekerjaan-pekerjaan yang didominasi perempuan. 

 

2 dari 3 halaman

Masalah yang Dihadapi Perempuan

ilustrasi perempuan/Photo by Candice Picard on Unsplash

Meskipun peluang untuk menempati posisi dalam dunia kerja yang didominasi pria semakin besar bagi perempuan, namun hal ini tidak mudah. Pasalnya, tidak sedikit perempuan yang menghadapi berbagai masalah dan tantangan setiap harinya di tempat kerja.

Dilansir dari Entrepreneur, profesor dan peneliti di University of Wisconsin-Wilwaukee, Nadya Fouad telah mempelajari data sensus dalam 3 dekade belakangan ini (1980, 1990, 2000, dan 2010). Fouad menyimpulkan, perempuan yang berkarier di bidang teknik jarang bertahan lama. 

 

Faktornya ada banyak, namun secara general antara lain adanya masalah internal di perusahaan tempat mereka bekerja seperti struktur organisasi, adanya bullying, kurangnya peluang untuk maju, pelatihan dan pengembangan, serta investasi. 

"Adanya bullying dan intimidasi, kurangnya peluang untuk maju, investasi karyawan, dan pelatihan serta pengembangan. Namun ini bukan karena para pekerja perempuan yang kurang memiliki rasa percaya diri dan rasa ketertarikan terhadap pekerjaannya, atau kesibukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga," katanya seperti dikutip dari Entrepreneur.

3 dari 3 halaman

Ketidaksetaraan yang Terjadi Antara Pekerja Perempuan dan Pria

Ilustrasi wanita karier (iStockphoto)

Selain itu, perempuan kerap dianggap tidak pantas untuk bekerja dibidang pekerjaan yang didominasi pria. Dilansir dari Bustle, karyawan perempuan kerap dianggap tidak akan bisa menyamai kinerja pria, meskipun latar belakang pendidikan mereka sama. 

Juga, adanya generalisasi terhadap perempuan di dunia kerja. Bustle menulis, pekerja perempuan yang mengalami masalah atau tidak sukses dalam suasa proyek akan dianggap sebagai kegagalan seluruh perempuan di dunia. 

"Sekeras apa pun kami bekerja dan berusaha, teman-teman di kantor menganggap jerih payah kami tidak pernah cukup," ungkap salah seorang perempuan yang bekerja di bidang pertambangan di Amerika Serikat, yang namanya tidak ingin disebut, kepada Entrepreneur.