Hidup Tidak Bisa Lari dari Kenyataan Pahit yang Menyerang

Endah Wijayanti diperbarui 22 Mei 2019, 19:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Dede Herika Martini - Sumedang

Hidup adalah perjalanan yang ditempuh dengan berjalan, menyusuri setiap rasa baik itu bahagia maupun kecewa. Hidup tidak bisa lari dari kenyataan pahit yang menyerang. Tak bisa dipungkiri bahwa aku telah merasakan kepahitan hidup dan manisnya bersabar.

Bagaimana rasanya ketika sesuatu yang telah kita susun rapi hancur di depan mata dalam sekejap saja? Menyakitkan? Menyesakan? Bahkan mengecewakan? Tentu semua rasa sakit bercampur dan merasa menjadi mahluk yang paling tersakiti di muka bumi. Ingin egois, marah dan menyalahkan semua orang namun harus ditahan karena semua adalah takdir yang diberikan oleh-Nya.

Aku tersenyum samar kala inginku hanya bisa kukubur dalam dan sebatas angan, mataku memanas menahan air mata kala semua tak sesuai dengan rencana. Aku hidup dalam keluarga sederhana namun berlimpah kasih sayang, aku bisa makan, tidur, bahkan bersekolah dengan nyaman. Namun aku sering melihat ke atas, melihat orang lain yang hidupnya lebih baik dan lebih indah sepertinya, hingga aku lupa bahwa aku hidup di tanah dan semestinya melihat ke bawah.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Membuka Pandangan

Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Hingga suatu hari dengan panas yang cukup terik, seorang anak laki-laki tergopoh-gopoh menghampiriku, saat itu aku berada di halaman rumahku. Ia berumur sekitar 3 tahun, dengan bajunya yang lusuh dan tanpa alas kaki, mata beningnya memancarkan cahaya dan bibirnya senantiasa mengulum senyum. Ia tersenyum padaku kemudian berlari dengan riangnya menjauhiku, tak lama seorang anak laki-laki berumur sekitar 7 tahun berteriak memanggil adiknya.

Aku bertanya dan menghentikan langkahnya, ”Apakah ia adikmu?” Anak laki-laki itu tersenyum simpul dan mengangguk. Aku kembali bertanya, “Kalian mau ke mana?” Anak laki-laki itu kembali tersenyum, “Kami mau bekerja, ayah kami telah tiada dan ibu kami sedang sakit jadi kami harus mandiri,” ucapnya enteng dengan senyuman. Hatiku mencelos, air mataku kutahan agar tak meleleh keluar. Ia berlari mengejar adiknya, berlari mengejar asa.

Aku tersenyum miris. Dalam hati, ribuan ampun aku panjatkan kepada Yang Maha Kuasa karena aku telah bersedih dan menyalahkan ketentuan-Nya. Saat ini aku belajar ikhlas, sabar dan tersenyum dalam setiap keadaan. Bertemu dengan anak-anak itu membuat pandanganku terbuka dan lebih luas tentang hidup serta pentingnya bersyukur dan manisnya bersabar.

3 dari 3 halaman

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA