Bila Sudah Berjodoh, Dua Orang Asing Bisa Menyatu dalam Janji Suci Pernikahan

Endah Wijayanti diperbarui 16 Jul 2019, 12:21 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Pience Veralyn - Manado

"Saya ingin mengajakmu menikah,” pria itu berkata sambil mendorong sepeda motornya. Kayaknya denyut jantungnya terasa oleh wanita yang berjalan di sampingnya.

"Hah? Maksudnya apa? Bukankah kita tidak punya hubungan serius?” jawab wanita itu tak percaya. Memang sih saya sudah waktunya menikah, usia saya 28 tahun dan hampir selesai studi S2 di salah satu perguruan tinggi.

“Mamu masih sendiri, kan? Saya tahu kamu juga mengagumi saya, dan...,” ucapnya.

“Dan?” wanita itu kembali bertanya, menyembunyikan rasa malunya ketahuan jalan sama idola nih.

“Keluarga saya menyukaimu. Saya juga menyukaimu,” ujar pria itu tanpa basa-basi.

“Baiklah, saya setuju,” ujar wanita itu spontan.

Mereka terus berjalan, tidak ada kata-kata lagi yang terucap, seolah semuanya sudah jelas dan menerima bahwa ini memang kenyataan yang harus diterima untuk menjawab semua pertanyaan yang kadang menyakitkan dan membuat jengkel “Kapan menikah?" "Tidak takut jadi perawan tua?” Ya, ini bukannya kutipan atau kisah tentang pria dan wanita yang lagi dimabuk cinta, ini cerita saya 11 tahun yang lalu. Hanya membutuhkan waktu 1 tahun untuk mengenal sebagai sahabat dekat bukan kekasih, dan kami menjadi kekasih setelah menikah. Kami dipertemukan setelah kami memintanya pada Tuhan, di waktu yang berbeda, situasi yang berbeda, dan tradisi yang berbeda.

Awalnya bukanlah hal mudah karena tradisi keluarga kami berbeda, tapi karena seorang wanita tua yang cantik yang kami panggil oma, kami tetap kuat melewatinya. Oma memberikan saya support, bahkan mendorong kami untuk saling mengenal sifat dan perilaku dengan baik sebelum benar-benar menjalani mahligai rumah tangga. Oma sosok yang tangguh meski jiwa dan raganya sudah terlihat rapuh dimakan usia, tetapi dialah yang membuatku mulai mengatasi rasa minderku karena warna kulitku yang agak gelap. “kulit boleh gelap, tapi hati harus putih (jujur, baik dan tulus)” itu katanya. Akhirnya kepercayaan diri mulai muncul dengan baik, tetapi tetap saja timbul pertanyaan dalam benak saya “ apa yang membuatnya menyukai saya ?”. Tahap pertama terlewati, saya bisa diterima di tengah-tengah keluarganya.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Mengatasi Penghalang

Ilustrasi/copyright shutterstock

Tahap berikut ialah menembus tembok di rumah saya, bukan tembok sebenarnya tetapi berupa aturan yang cukup ketat, karena selain saya anak pertama, saya begitu dekat dengan papa. Saya wanita yang dibesarkan dalam keluarga yang memiliki aturan hidup yang sangat ketat, apapun itu saya punya seorang hero dalam keluarga yang saya panggil papa. Satu-satunya laki-laki kuat yang sempurna di mata saya, sampai pada akhirnya menjadi rujukan untuk mencari pendamping hidup saya.

Mama pernah bertanya, bagaimana laki-laki yang saya inginkan menjadi suami saya. Saya menjawabnya, “Laki-laki seperti papa,” itu jawaban singkat saya. Tentunya bukan pria seumuran papa yang saya inginkan, tetapi yang punya etos kerja, jujur, dan taat pada Tuhan. Pria yang mengajak saya menikah seorang yang cerdik, awalnya bukan mau selalu dekat dengan saya, tetapi dia menjadi sahabat bagi orang tua saya. Sampai suatu saat papa berkata, “Kalau kamu mencari suami yang saya seperti Papa, dia orangnya. Pria yang tidak akan pernah membuatmu susah dalam hidup, kreatif, dan pekerja keras." Akhirnya, papa merekomendasikan "sahabatnya" untuk saya. Sayapun mendengar mama berkata, “Tolong jaga dia baik-baik." Tahap kedua berhasil dilewati.

Ternyata beberapa bulan berlalu tanpa menjalaninya sebagai sepasang kekasih, kami menjalaninya hanya sebagai teman baik. Bahkan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kami terpisah oleh jarak antar kota, kadang komunikasi lewat telepon selular bisa dihitung dengan jari, rencana menikah hampir terlupakan. Ya, semua kesibukan hampir membuat kami saling melupakan. Kami bukanlah kekasih, hanya dua orang yang ingin menikah secara spontan.

3 dari 3 halaman

Janji Suci

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Ternyata masih ada yang harus diselesaikan sebelum memutuskan hal selanjutnya. Kami masing-masing harus menyelesaikan sesuatu yang mengganjal. Saya pernah punya kekasih dan biasanya putus nyambung, sedangkan pria yang mengajak saya menikah juga punya pacar yang tidak jelas statusnya. Benar juga, mantan saya masih menghubungi saya dan mengajak saya baikan, saya menolak dan memintanya menjalani kehidupan masing-masing, kita benar-benar selesai dengan baik.

Saat kembali dari tugas pria itu berkata, "Saya sudah membuktikan bahwa keputusan saya benar, saya sudah memilih yang terbaik, kita menikah,” ujarnya. Komunikasi yang sempat hilang, bukan tidak ada alasannya akan tetapi tengah berproses untuk keputusan selanjutnya, kami menyelesaikan semua yang mengganjal dengan baik-baik.

Saat ini tinggal menulis semua kebutuhan yang diperlukan untuk rencana pernikahan, baju pengantin dan orang tua, pengiring, kue pengantin, rancangan pesta dan katering. Semuanya pasti butuh biaya, untuk barang yang bagus pasti biayanya harus lebih. Pusing, sakit kepala, kami dua orang dewasa yang sudah bekerja namun penghasilannya masih pas-pasan, namun tidak ingin merepotkan orang tua.

Hanya berdoa dan bekerja keras, ternyata semua bisa terwujud, apalagi motivasi yang diterima dari orang-orang terdekat dan keluarga. Meski kami juga tekadang bertengkar karena beda pendapat, apalagi saat mendekati hari H. Stres tingkat dewa, undangan yang harus disebar, sampai lupa harus perawatan dulu sebelum menikah. Namun pada akhirnya kami bisa tiba di saat saling mengikrarkan janji sehidup semati di depan Tuhan.

Kami terus mengingat bahwa janji pernikahan bukanlah diucapkan hanya di depan pendeta tetapi di hadapan Tuhan, sehingga kami saling mengingatkan bahwa kami dipertemukan karena doa, harapan dan impian bahwa pertemuan yang tanpa sengaja mampu menjadikan dua orang asing menjadi sahabat baik dan akhirnya teman dalam suka dan duka. Harapannya, Tuhan berkenan menjaga dan melindungi bukan saja sampai rambut kami memutih bersama, tetapi saat kami dimampukan saling menjaga sampai menutup mata.

#GrowFearless with FIMELA