Cinta Tak Berbalas Memberi Luka, tapi Juga Membuatku Dewasa

Endah Wijayanti diperbarui 24 Sep 2019, 13:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Dewi - Yogyakarta

Seorang anak perempuan yang manis menyanyikan sebuah lagu. Aku tak tahu itu lagu siapa, tapi liriknya begitu menyentuh hatiku.

Cinta karena cinta

Tak perlu kau tanyakan

Tanpa alasan cinta datang dan bertahta

Cinta karena cinta

Jangan tanyakan mengapa

Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara

Berulang kali aku memutar video siaran langsung anak itu bernyanyi. Aku penasaran dan ingin tahu lagu itu. Seperti apa liriknya. Mudah saja aku mengetahuinya dengan cara searching di Google. Dan akhirnya kutemukan lirik lagu yang dibawakan Judika. Betapa tidak tahunya diriku, dengan lagu yang saat ini sedang hits dan menjadi soundtrack sinetron itu. Kesibukanku mengalihakan semuanya, tapi aku masih tak bisa lepas dari cintaku pada ayah anak perempuan itu. Dan cinta karena cinta seperti itulah persaanku dengannya yang tak pernah sedikitpun bisa hilang dari hatiku.

Nama yang sama, tapi dua orang yang berbeda. Itulah kami. Kami berasal dari kota yang sama, sekolah yang sama, suku yang sama, bahakan keluarga kami pun berkerabat dekat. Dari situlah persahabatan kami dimulai hingga cinta bergetar dalam hatiku tanpa ada alasan jelas.

Ingatanku melayang jauh ke masa lalu saat kami berdua selalu bersama. Saat masih di bangku kuliah, kami selalu pergi bersama. Tempat tinggal kami yang berada jauh di luar kota, ketika liburan dan pulang kampung kami selalu bersama. Biasanya dalam perjalanan kami singgah ke pantai. Menikmati suasana pantai, bercengkerama, seakan dunia milik kami berdua. Dia selalu bercerita tentang kekasihnya atau pun wanita yang akan ia dekati. Setiap kali mengenal wanita dia pasti meminta pendapatku tentang wanita itu. Apakah ia harus jadian? Apakah dia akan serius? Semua pendapatku itulah yang ia lakukan.

Aku sama sekali tidak peduli, karena aku tahu ia hanya sekadar bermain, berusaha untuk mengenal dan dekat dengan para wanita. Itulah yang tertanam dalam pikiranku. Dia juga begitu padaku. Setiap kali aku dekat dengan laki-laki lain, dia dengan serius menginterogasiku. Siapa laki-laki itu? Di mana ia tinggal? Bahkan saat aku berkencan, dia bisa saja meneleponku memintaku pulang dan jangan dekat dengan laki-laki yang aku kencani.

Aku juga heran, kenapa aku selalu menurut apa yang ia katakan padaku. Dia sepertinya mengetahui setiap detail yang aku lakukan. Jadi aku tak bisa bohong padanya. Begitu juga dengan dia. Kami berdua mempunyai chemistry yang begitu kuat sekali.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Dekat sebagai Sahabat

ilustrasi./Photo by Howdy Hada from Pexels

Persahabatan aku dan dia membuatku tak perlu apa pun lagi. Sosok laki-laki idamanku semua ada padanya. Aku menyadari ini bukanlah persahabatan yang biasa. Aku mulai jatuh cinta dan mencintainya. Sangat mencintainya.

Kedekatan kami ternyata juga dirasakan oleh teman-temannya dan juga adiknya. Adiknya satu jurusan denganku. Aku dikenalkannya dengan adiknya yang tak banyak bicara dan cenderung tertutup. Aku juga dikenalkan dengan teman-teman band dia, teman-teman nongkrong dia dan sahabatnya. Mereka semua tahu diriku, karena menurut mereka, temannya itu sering membicarakanku sering menyebut namaku dalam obrolan meraka sesama laki-laki. Jadi teman-temannya berkesimpulan tidak ada perempuan yang paling ia peduli, yang mengerti dia selain aku.

Saat ia wisuda, aku sangat bahagia. Dia juga terlihat sangat bahagia, apalagi saat ia dinyatakan lulus PNS. Dia memotivasiku untuk segera menyelesaikan studiku. Ia memotivasiku agar aku juga bisa sukses.

Dia bertugas di sebuah desa terpencil di daerah pegunungan. Untuk mencapai daerah tersebut memerlukan waktu yang cukup panjang hampir seharian. Kondisi jalan menuju tempat tugasnya sangatlah buruk. Jalan berlumpur saat musim hujan dan berdebu saat kemarau. Terjatuh ke lumpur itu sudah biasa. Belum lagi sinyal telpon yang sulit diakses.

Meskipun kini kami terpisah jauh, dia ada di pelosok daerah dengan kondisi yang kurang nyaman, tak membuat kami putus hubungan. Dia masih tetap sering menghubungiku. Dia masih tetap menanya kabarku, memotivasiku untuk segera lulus. Kami juga sering bergurau, bercengkerama. Aku juga heran dia begitu intens menghubungiku, padahal tempat tugasnya begitu susah dengan akses sinyal telpon. Rupanya, demi kelancaran sinyal telepon ia harus memanjat pohon dekat rumah yang ia tinggali. Di atas pohon baru mendapatkan sinyal yang lancar untuk menelpon. Luar biasa sekali. Dan itu membuatku merasa sangat tersanjung dan tersentuh.

Kami jarang sekali bertemu. Tapi jika kami bertemu, dia tetap sama tak ada yang berubah. Masih suka jahil, masih suka bercanda, dan ada dia suasana menjadi ceria. Tak bisa aku gambarkan rasanya. Semenjak ia bekerja dan punya gaji, dia tak pelit untuk mentraktirku. Tinggal bilang apa, dia belikan. Tapi aku bukanlah wanita yang matre. Aku tulus bersama dengannya.

Hubungan sahabat tapi mesra ini kadang membuatku sesak. Ada ketakutan jika suatu saat dia akan meninggalkanku. Tapi aku sangat menikmati setiap detik kebersamaan dengan dia. Dia telah menjadi bagian dari hidupku.

3 dari 4 halaman

Dia Menikah dengan Perempuan Lain

Ilustrasi (Sumber: iStockphoto)

Pada suatu malam, dia datang ke kosku. Aku sangat senang sekali. Sebuah kejutan kedatangan dia malam itu. Kulihat raut wajahnya agak berbeda. Namun, dengan mudah aku menggali masalah dalam dirinya. Akhirnya, ia pun terbuka. Ia bercerita padaku bahwa ia mempunyai seorang pacar. Dan aku menanggapinya biasa saja, ujungnya pasti putus. Dan itu benar. Dia mengajakku jalan ke mall. Dia ingin membelikan sebuah kado perpisahan untuk pacar barunya itu. Sudah kuduga, itu pasti terjadi. Tapi aku juga tidak begitu suka dengan tindakannya, mengganggap dirinya ganteng dan digandrungi para wanita, jadi semaunya dia untuk jadian dan putus dengan mudahnya. Bisa-bisanya untuk putus saja harus memberi kado perpisahan. Katanya itu sebagai kenangan bahwa wanita itu pernah bersamanya.

Setelah selesai membeli kado untuk putus dengan pacarnya, dia mengatakan padaku bahwa ia berkenalan dengan wanita yang baru. Sudah kuduga lagi. Dan kali ini wajahnya begitu serius. Dia bilang padaku bahwa ia akan bertunangan dan menikah. Aku menanggapinya seakan ia bercanda. Aku bilang padanya, aku tak percaya pria sepertinya bisa serius. Tapi dia membuatku hening saat ia bilang orangtuanya sudah mengatur semuanya. Tiga bulan lagi ia akan menikah.

Jantungku seakan berhenti berdetak, terasa sesak di dadaku. Aku seperti tertimbun reruntuhkan batuan. Aku tak bicara. Dia pun minta pendapatku akan keputusan orangtuanya itu. Apa hakku untuk mengatakan jangan menikah? Apa harus aku katakan bahwa aku mencintainya? Aku tak bisa kehilangannya?

Apa ia tak menyadari perasaanku padanya selama ini? Apakah ia tak merasakan seperti yang kurasa? Pikiran-pikiran itu berkecamuk dalam diriku. Aku sampai tak mendengar ia menyebut namaku. Hingga aku tekejut saat ia menepak punggungku.

Aku tidak melamun, aku hanya berpikir sebelum memberikan saran yang terbaik untukmu. Itulah yang kukatakan padanya.

Aku meminta ia menceritakan sosok wanita yang akan ia nikahi. Aku menyimak dengan seksama apa yang ia katakan. Wanita itu adalah tetangga dekat rumahnya. Mereka berdua tugas di daerah yang sama. Sama-sama tim medis yang mengabdi di daerah pedesaan terpencil. Mereka sering pergi bertugas bersama, dan karena itu kedua orangtua mereka ingin mereka segera menikah tanpa adanya pacaran. Sebagai tetangga sebelah rumah, pastinya ia telah mengenal dengan sangat dekat. Baik buruknya pasti ia telah ketahui. Tidak ada yang bisa aku katakan lebih banyak apa lagi melarangnya, aku mendukungnya.

Meskipun telah bertunangan dan akan menikah, dia tak berubah. Dia masih meneleponku setiap malam, untuk bercanda atau hanya sekadar ingin tahu kabarku dan ingin mendengar suaraku. Sebagai wanita, salahkah diriku punya perasaan cinta karena sikapnya yang begitu padaku.

Aku sudah mulai menjauh darinya, tapi dia tetap tidak ingin aku pergi dari hidupnya. Pertengkaran aku dan dia terjadi saat itu. Tanpa aku sadari terucap dari mulutku, aku sangat mencintainya. Aku tak sanggup kehilangan dia. Aku tak sanggup melihat dia bersanding dengan wanita lain. Aku tidak ingin lagi menjadi sahabatnya. Aku marah padanya, saat aku berkencan dengan pria lain, dia marah padaku. Dia menjadikanku seakan-akan seorang ratu. Wajar saja aku baper dibuatnya. Namun, kebersamaanmu dengannya sudah cukup menjawab semuanya, aku bukannya sosok yang dia inginkan.

4 dari 4 halaman

Cinta Tak Berbalas

Ilustrasi.(Sumber: iStockphoto)

Dia terdiam mendengarkan celotehanku. Namun, ia masih tak peduli dengan semua itu. Ia bilang aku seorang perempuan yang berbeda. Dia tidak ingin aku pergi dari hidupnya. Dia ingin aku tetap menjadi bagian hidupnya dan selalu ada saat ia butuhkan. Dia ingin aku tetap menjadi sahabat terdekat dan terbaiknya. Seorang sahabat yang tak pernah mengenal arti kata putus dan pergi seperti seorang pacar atau kekasih.

Itulah laki-laki. Apa mereka punya rasa? Siapa aku? Siapa aku yang harus ada saat dia perlukan? Aku tidak mau menjadi sahabatnya. Dia bilang padaku dia sama sekali tidak pernah merindukan tunangannya tapi dia setiap waktu merindukanku. Dia tak setiap hari menelepon tunangannya, tapi ia setiap hari menelponku. Laki-laki yang aneh. Tapi dia tak mencintaiku, dia hanya menganggapku sahabat terbaiknya. Dia berharap aku bisa mendapatkan pria yang lebih baik darinya, harus lebih baik dari dia.

Aku menghilang dari hidupnya hingga hari pernikahannya. Aku juga tidak datang di hari pernikahannya. Aku hanya menitipkan sebuah kado kecil kepada ibuku untuknya. Di hari pernikahannya, saat bersanding dengan istrinya di pelaminan, pengantin laki-laki itu meninggalkan sang putri. Jika ia ingin sesuatu, ia pasti berusaha untuk mendapatkannya. Ia mendatangi ibuku di kursi para tamu, ia menanyakanku kenapa tidak datang. Bahkan saat ibuku pamit bersalaman akan pulang dari pesta itu, ia titip salam padaku. Jika aku jadi istrinya yang sedang bersanding dengannya di pelaminan saat itu, aku pasti akan marah saat suamiku titip salam dengan wanita lain. Pasti aku cemburu kekasihku setiap malam menelepon sahabatnya. Aku berpikir dari sudut pandang istrinya.

Berlinang air mata setiap malam mengingat kenangan dengannya. Entah berapa malam sepanjang purnama itu kulakukan. Cintaku padanya tulus dan suci. Dia adalah laki-laki terbaik yang aku kenal. Dia sahabatku dan juga cintaku. Tapi dia hanya menganggapku sebagai sahabat yang tak akan pernah pergi darinya sampai kapanpun. Hatiku sangat sakit sekali. Mengingatnya seperti tersayat-sayat oleh belati.

Meskipun sudah menikah, dia masih meneleponku, mengirimku pesan. Tapi tak pernah kuangkat dan tak pernah kubalas. Kontaknya di handphoneku pun kuhapus. Aku harus bisa move on. Kini dia telah menjadi suami orang dan berdosa jika aku masih punya rasa padanya.

Tiga bulan setelah pernikahannya, perasaanku mulai tenang. Tapi ketenangan itu kembali terusik oleh pesannya. Dia ingin bertemu denganku. Dia ingin curhat padaku. Dia bilang pernikahan tak seperti yang ia pikirkan. Sebagai wanita yang tak sempurna, aku tahu batasanku. Hal rumah tangganya itu urusan dia. Aku tidak ingin terlibat dengannya lagi. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku mengganti nomor HP-ku, agar ia tak menghubungiku lagi. Semenjak itu aku memang tak pernah berhubungan dengannya. Hingga kini lima tahun sudah, dia mendapatkan kembali nomor HP-ku dari adiknya. Adiknya yang juga temanku, memberikan nomorku padanya. Ia tahu selama ini aku mencintai kakaknya. Tapi ia pikir aku telah move on.

Begitu dapat nomor HP dan menghubungiku, dia mengajakku bertemu. Aku tak langsung mengiyakan. Aku takut, ketika bertemu dengannya akan menimbulkan fitnah. Tak etis dan tak pantas keluar dengan suami orang. Bisa-bisa aku dipikir pelakor nantinya. Itulah gurauanku padanya. Akhirnya, kami tetap bertemu, ia ditemani sahabatnya dan aku ditemani sahabatku.

Pertemuan kami hanya sekadar bertemu sebagai teman yang sudah lama tak berkabar. Itu saja. Tidak ada pembicaraan tentang rumah tangga atau pun masa lalu. Namun, tak hanya di situ, dia masih ingin menyambung silaturahmi yang terputus beberapa waktu ini. Dia masih menghubungiku. Dan aku tahu hubungannya dengan istrinya sedang tak harmonis. Hal yang sama juga disampaikan oleh adikku. Namun, aku tak ingin menjadi pihak ketiga yang akan memperkeruh suasana. Aku tetap pada batasanku sebagai teman, bukan sahabat dekat seperti dulu.

Hidupku terus berjalan meskipun lima tahun telah berlalu dengan kenangan bersamanya. Lima tahun aku sibuk dengan diriku, dengan karierku. Namun, melihat anak kecil itu membuat aku tersadar, lima tahun aku masih menyimpan kenangan, masih berada dalam kenangan. Anak kecil itu menyadarkanku untuk menemukan cinta yang baru dan hidup bahagia. Meskipun sampai detik ini rasa cintaku padanya masih ada di sudut kecil hatiku, tapi aku mendoakan agar ia tetap bahagia dengan hidupnya.

Cintaku ini adalah cinta yang tak terbalaskan. Sakit memang sakit rasanya, kecewa memang kecewa yang kudapatkan, tetapi aku lah yang memilih untuk mencintainya. Cinta karena cinta, tak bisa kuungkapkan, tak tahu alasannya, karena cintaku luar biasa. Meskipun tak bisa kumiliki, cinta ini sempurna yang terus berharap kebahagiaan untuknya. Cinta ini memberiku luka, tapi luka inilah yang membuatku dewasa. Jika cintaku dengannya bertepuk sebelah tangan, maka aku harus membiarkan satu tanganku yang lain untuk mencari cinta sejati lainnya. Dia akan tetap menjadi anugerah Tuhan dan kenangan terindah bagiku.

#GrowFearless with FIMELA