Wali Kelasku Penuntunku dalam Meniti Masa Depan

Endah Wijayanti diperbarui 26 Nov 2019, 09:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Claudia Angelista - Jakarta

Siang itu matahari begitu terik, membuat mayoritas orang memilih menyejukkan badan dalam ruangan. Hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang di kantin kantor, cukup ramai untuk aku yang sedang duduk sendiri setelah menyelesaikan makan siangku. Rasanya suasana ini membawa lamunanku kembali kebeberapa tahun yang lalu. Di saat ruang kelas SMA yang begitu ramai dan berisik menyisakan aku dan pikiranku yang terus bergelut untuk menentukan masa depan.

Saat itu aku sudah berada di akhir masa SMA, di mana setiap murid yang ingin melanjutkan ke jenjang perkuliahan sudah harus menentukan juruasan pilihannya, termasuk aku yang masih abu-abu dan kebingungan jurusan apa yang kuminati.

“Paling bagus perempuan jadi dokter," begitu kata teman-teman ayahku. Sungguh jawaban tersebut tidak memberikan jalan keluar karena aku berada di jurusan IPS saat SMA, entah apakah anatomi tubuh tersebut akan kuhitung debet kreditnya seperti pelajaran akuntansi. Aku merasa tidak memiliki passion terhadap jurusan apa pun yang ditawarkan. Kemampuanku yang biasa-biasa saja membuat pilihanku semakin terbatas. Kadang aku merasa iri terhadap teman-temanku yang sudah memiliki gambaran seperti apa masa depan yang dia inginkan. Ingin menjadi seorang akuntan, pengacara, pengusaha bahkan menteri, sedangkan aku hanya sibuk menentukan besok ingin bawa bekal apa.

Mendekati hari-hari berakhirnya masa SMA, aku sadar sudah saatnya mengambil langkah besar untuk menentukan jalanku lima tahun ke depan. Orangtuaku memberikan kebebasan untuk memilih jurusan apa saja yang kuinginkan. Tentu aku tidak ingin sembarang memilihnya dan membuat mereka kecewa karena kemampuanku yang terbatas tidak mampu melebih ekspektasi mereka.

 

2 dari 2 halaman

Wali Kelasku Sangat Berjasa

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/anucha+maneechote

Aku sempat merasa berkecil hati dan ingin menyerah saja, karena di tengah kembimbanganku tidak ada satu pun yang dapat memberikan saran dan jalan keluar yang tepat. Hingga saat pengumpulan data jurusan perkuliahan, wali kelas sekaligus guru sosiologiku menyadari aku yang belum menuliskan apa-apa, di sanalah mulai ada titik terang pada masa depanku.

Beberapa hari setelahnya aku dipanggil ke ruang guru. Aku begitu kebingungan kesalahan apa yang kuperbuat hingga harus menghadap wali kelasku? Wali kelasku dengan tenang memanggilku duduk di sampingnya. Ia mengambil booklet sebuah perguruan tinggi lalu bertanya, “Kamu kebingungan memilih jurusan, ya?” rasanya lega sekali ternyata aku tidak dimarahi. Namun, aku langsung menyadari ternyata selama ini wali kelasku begitu perhatian pada muridnya. Raut wajahnya yang tegas menyimpan sosok yang begitu hangat, diam-diam sebenarnya sudah lama juga aku mengidolakan beliau karena berbagai karya tulisnya sangat menginspirasi karya-karya ilmiahku.

Beliau langsung menyarankanku untuk memilih jurusan komunikasi. Aku memasang raut wajah kebingungan karena selama ini tidak pernah terbersit sekali pun untuk mengambil jurusan tersebut. Lagi-lagi aku dibuat kagum olehnya yang begitu sabar memberikan pemahaman kepadaku mengenai jurusan tersebut.

Aku sangat ingat ketika dia berusaha membangkitkan kepercayaan diriku, “Bapak yakin kamu cocok jurusan tersebut, kamu punya bibit jurnalis." Aku tertegun mendengar perkataannya. Aku yang sempat merasa rendah diri menjadi semangat lagi. Pulangnya aku langsung mencari informasi mengenai jurusan tersebut, hingga akhirnya pilihanku jatuh pada jurusan komunikasi.

Mendekati hari ujian memasuki perguruan tinggi, aku meminta izin kepada orangtuaku berharap mendapatkan hasil yang terbaik. Tidak lupa aku datang pada wali kelasku untuk mengabari beliau keputusanku yang sudah bulat memilih jurusan komunikasi. Nasihat-nasihat yang ia berikan benar-benar menenangkan dan berguna saat aku mengerjakan ujian.

Seminggu kemudian hasil ujian masuk sudah keluar. Aku berhasil diterima dan mendapatkan beasiswa 100%. Dengan penuh kebahagiaan aku mengabari wali kelasku bahwa aku berhasil mendapatkan beasiswa di sana.

Dia menepuk pundakku dan berkata, “Hebat, Nak!” Sungguh yang bisa kulakukan saat itu hanya berterima kasih penuh haru, meskipun tampak sederhana yang ia lakukan, bahkan terdengar remeh bagi sebagian orang, tapi bagiku ia yang telah menuntun masa depanku. Jika mengingat kembali aku yang begitu tertekan dan kebingungan hingga hampir putus asa, tidak pernah terpikirkan sekali pun bahwa aku mampu berada dititik ini.

Aku tidak akan mampu mencapai semuanya tanpa tuntunan wali kelasku. Beliau tidak hanya menjadi inspirasiku. Dia yang membantuku melangkah menuju masa depanku, menemukan passion-ku, hingga aku mampu berkarya dengan jurusan ini. Bagiku gelar pahlawan tidak cukup menandingi jasanya. Terima kasih guruku, pahlawanku.

#GrowFearless with FIMELA