Selalu Ada Kesempatan untuk Memperbaiki Hubungan dengan Ibu

Endah Wijayanti diperbarui 30 Des 2019, 10:33 WIB

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: Bianda Arabella Murti - Jakarta Timur

Namaku Bella, seorang mahasiswa yang merantau di Surakarta. Aku tidak sepandai ibuku yang dengan lugas dapat mengungkapkan perasaannya dan mengatakan hal-hal yang ingin ia sampaikan kepada orang lain, tetapi di Hari Ibu ini aku ingin mengungkapkan perasaanku tentang sosok ibuku.

Jika membahas mengenai ibu maka yang muncul dalam benak pikiran kita adalah sesosok wanita yang kuat dan hebat. Bagi seorang anak, ibu merupakan seorang yang selalu memberikan kasih dan sayang tanpa kenal pamrih dan juga sosok pahlawan yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk seorang anak. Itulah ibuku yang telah menyayangiku selama 21 tahun.

Sesungguhnya pada saat aku kecil, aku jarang melihat sosok ibuku karena ibuku merupakan wanita karier yang mengharuskan dirinya untuk mengurangi waktu bermain denganku, sosok bapak lebih sering hadir dalam hidupku yang mana membuat aku kehilangan peran ibu di dalam keluarga kecilku, sesekali ibu pernah mendongeng untukku di kala aku ingin tidur, tetapi bisa dihitung dengan jari berapa kali ibu menghabiskan waktunya untukku.

Aku selalu bertanya dan iri kepada teman-temanku karena ibu mereka selalu hadir dalam setiap kegiatannya dan selalu men-support anaknya seperti hal-hal kecil yaitu menjemput anaknya pada saat pulang sekolah, membuatkan bekal untuk di makan bersama pada saat makan siang, dan mengambil rapor pada saat kenaikan kelas. Terkadang guru-guru, orangtua teman-temanku, suka bertanya kepadaku mengenai ibuku karena selalu saja bapakku yang selalu mendampingiku di sekolah.

”Ibunya kok nggak pernah jemput?" “Ibunya mana?" Pertanyaan itu setiap hari aku dengarkan di sekolah. Aku pun juga bertanya hal yang sama kepada bapakku dan bapakku selalu membalasnya dengan kata, “Suatu saat nanti kamu akan mengerti betapa cintanya ibumu kepadamu,” dan aku pun hanya terdiam karena tidak memahami pernyataan bapakku.

 

2 dari 2 halaman

Sedikit demi Sedikit Bisa Lebih Dekat dengan Ibu

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Twinsterphoto

Seiring berjalannya waktu dengan tanpa hadirnya ibu dalam kehidupanku pada saat masih sekolah dasar hingga masuk ke masa remaja membuat hubungan ibu dan diriku menjadi lebih renggang, tetapi sepertinya ibuku sadar tentang renggangnya hubungan ini. Oleh sebab itu, beliau mulai memperbaiki hubungan dengan melakukan pendekatan dengan hal-hal kecil yaitu seperti menanyakan kabar, bagaimana hariku, mengajak diriku untuk melakukan quality time bersama seperti hubungan ibu dan anak pada umumnya.

Mungkin awalnya aku sedikit terkejut dengan perilaku ibu yang seperti itu, tetapi akhirnya aku terbiasa dengan hadirnya sesosok ibu yang selalu menemaniku dan mendampingiku. Di mana pada saat pagi, ia menyiapkan sarapan untuk diriku, membuat masakan kesukaanku, mulai memperhatikan penampilan diriku, dan sedikit bawel dengan pemilihan pakaianku, juga hal-hal kecil lainnya yang menurutku sangat berdampak bagi keseharianku yang sepi.

Aku sada, dengan aku merantau seperti ini aku sangat rindu saat aku bangun pagi mencium aroma masakan ibu dan ocehannya tiada hentinya. Meskipun terkadang sangat menjengkelkan tetapi aku tahu, bahwa itu merupakan bukti dari tanda sayangnya kepadaku. Ibuku merupakan sesosok wanita yang sangat kuat dan mandiri karena dia menjalankan perannya sebagai ibu, sebagai wanita karier, dan sebagai isteri. Selain itu, ibuku juga merupakan wanita yang cerdas. Aku sangat senang jika berdiskusi dengannya karena aku dapat membuka pikiran dengan berbagai pandangan-pandangan yang tidak kuketahui sebelumnya.

Ibu yang sekarang selalu menjadi orang pertama yang menyemangatiku bila aku merasa minder dan tidak percaya diri dengan kemampuan akademisku. Ibu yang selalu mengkritisi penampilanku dan menjadikan aku perempuan yang beretika dalam bersikap. Aku selalu mengaggumi ibuku walaupun jarang sekali aku mengekspresikannya mungkin karena jarak yang memisahkan antara aku dan ibu. Hubunganku yang awalnya tidak baik dengan ibu, tetapi aku berharap dengan adanya tulisan ini, ibuku tahu dan akan memahami betapa aku sangat merindukan dan menyayanginya.

Teruntuk ibuku tercinta, “Selamat Hari Ibu. Semoga tetap menjadi sosok ibu yang cerdas, mandiri, dan tangguh dalam mengarungi kehidupan.”

Surakarta, 28 Desember 2019