Bertahan di Lingkungan yang Toxic Butuh Mental yang Kuat

Endah Wijayanti diperbarui 22 Jan 2020, 08:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Saffana Ajeng Hamidah - Yogyakarta

Back to 2019 lalu, banyak hal yang udah aku lalui selama tahun itu. Dari hal yang pahit sampai hal yang paling manis sudah aku cicipi. Terkadang hal-hal yang sudah kita rencanakan tidak selau berjalan seperti yang kita inginkan. Apalagi hidup di circle yang sangat toxic bikin pikiran selalu nggak fokus dan banyak membuang waktu.

Sekarang aku sedang menempuh kuliah di semester tiga dan sebentar lagi bakal menjalani semester 4. Selama kuliah aku selalu ingin ngisi hal-hal yang membuat aku produktif, dari ikut organisasi sampai kerja sampingan aku jalani. Tapi, lama kelamaan aku merasa kalau hal yang aku lakukan itu bukan atas keinginanku, melainkan karena tuntutan dari atasan. Dari hal tersebut aku makin merasa bahwa lingkunganku sangat toxic.

Aku sempat stres berat karena aku selalu memikirkan apa yang orang lain katakan. Apalagi aku kerja sampingan yang notabene harus bertemu dengan orang-orang setiap hari. Terkadang mereka suka mengatakan hal-hal yang tidak enak didengar telinga, namun aku berusaha buat melaluinya seakan semua itu kaya baik-baik aja. Tapi nggak semudah itu ternyata! Hal-hal yang selama ini aku pendam sendiri lama-kelamaan seakan menumpuk dalam pikiran dan ujung-ujungnya stres berat hingga setiap malam aku nangis dan nggak tahu penyebabnya. Aku bahkan sempat berpikir bahwa aku harus ke psikolog karena aku suka memendam masalah sendiri dan stres berat.

Beruntungnya, aku punya pacar yang selalu mendukung aku saat aku benar-benar down. aku percaya dia karena dia nggak banyak tuntutan dan bersikap dewasa setiap aku ada masalah. Terlepas dari semua itu, kadang aku mikir, apa orang yang dekat sama aku itu bener-bener nyaman denganku? Apa orang-orang yang dekat sama aku benar-benar tulus sama aku? Se-random itu pikiranku.

Kebiasaanku yang suka negative thinking bikin aku nggak nyaman sama orang yang deket sama aku. Bahkan aku hanya memiliki sedikit teman yang benar-benar mengerti sama aku, walaupun kadang suka bertengkar dengan hal-hal kecil. Semakin dewasa semakin mengerti kalau pertemanan itu bukan tentang kuantitas, tapi kualitas. Tapi tidak menutup kemungkinan, aku tetap berteman dengan siapa pun meski aku hanya menceritakan masalah terberatku pada teman dekatku.

Liburan semester pun tiba. Aku bahan nggak pulang ke kampung halaman demi nyari uang, karena saat itu emang benar-benar butuh uang. Aku pulang setelah satu minggu kemudian. Guess what? Aku niat pulang untuk menenangkan pikiranku. But, something happened to me. Ternyata keluarga juga toxic banget.

2 dari 2 halaman

Memperkuat Mental

Ilustrasi./(Foto: Free-Photos from Pixabay)

Kayaknya aku sudah pasrah menghadapi semua ini. Masalah ekonomi ternyata benar-benar bisa mengubah karakter seseorang. Setiap hari di rumah aku mendengar suara berantem dan kata-kata yang tidak enak didengar. Aku jadi merasa harus lari dari sini. Seharian nangis dan nggak ada tempat buat cerita. Mau cerita ke teman dekat pun rasanya tak mungkin. Ujung-ujungnya aku hanya bisa memendam sendiri dan nggak cerita ke siapa-siapa.

Sambil nangis dengerin podcast. Aku sengaja cari podcast yang berhubungan dengan mentality. Ternyata kesehatan mental itu lebih penting dari apa pun. Sesuatu yang positif datang dari pikiran yang positif, tapi bagaimana kalau pikiran kita negatif terus dan tanpa sadar apa yang kita lakukan bakal berbahaya buat orang lain?

Setelah mendengarkan podcast tentang mentality tersebut, aku merasa ada yang mendengar dan merasakan apa yang aku alami akhir-akhir ini. Nggak semua orang bisa ngerti tentang kondisi mental seseorang sebelum mereka benar-benar mengalami hal tersebut. Karena mentality tak bisa dilihat seperti kondisi fisik. Bisa saja orang yang selalu senyum dan ceria, ternyata mereka menyimpan masalah yang benar-benar berat. No one knows. Semakin ke sini semakin menghargai orang lain dan berusaha tidak emosional.

Semakin hari semakin terbiasa menjalani semuanya. Aku yakin bahwa orang yang toxic itu memang ada di mana saja, bahkan orang terdekat kita sekali pun itu bisa jadi toxic buat kita. Tinggal pintar-pintar menyaring dan mendepankan pikiran positif biar tak mudah terjebak dalam pikiran-pikiran toxic.

Dari pengalaman kemarin di tahun 2019 banyak belajar tentang kesehatan mental dan pengaruhnya buat kita ke depan. Sempat baca jurnal tentang prinsip Taoism, yaitu ajaran filsafat yang dijadikan pedoman sehari-hari oleh orang Tiongkok. Di sini aku mengambil intinya saja dari jurnal tersebut kalai prinsip itu menekankan keserasian hubungan manusia dengan alam. Kita sebagai manusia nggak usah terlalu ambisius, entah itu ambisius jabatan atau yang lainnya, biarkan sesuatu itu berjalan layaknya air karena sejatinya nasib manusia itu udah diatur sesuai dengan harmoni alam.

Intinya, di tahun 2020 ini aku ingin jadi pribadi yang tidak terlau sensitif dengan perkataan orang lain dan lebih mencintai diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang sesuai dengan passion aku. Dengan begitu, aku bakal lebih merasa bahagia karena aku punya nilai atas apa yang telah aku kerjakan.

#GrowFearless with FIMELA