Semua yang Berawal dari Kepalsuan akan Berakhir dengan Kesedihan

Endah Wijayanti diperbarui 23 Jan 2020, 13:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: JH - Jember

“Beauty standart rules!” Bisa dibilang pedang tajam yang kerap kali menghujam hati kaumku. Di mana cantik hanya berhak dimiliki bagi mereka yang berkulit putih mulus, berwajah kinclong tanpa jerawat, dan berbadan langsing bak pragawati. Sebaliknya aku yang seberuntung itu dikaruniai wajah berjerawat, badan sedikit curvy tak semampai, dan berkulit eksotis rasanya dilarang keras untuk merasa cantik.

Dan ini adalah kisahku untuk menerima diri sepenuh hati tanpa "tapi".

Tak Semua Buah Jatuh Dekat dengan Pohonnya

Pepatah seringkali mengatakan bahwa buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Anak-anak tak akan berbeda jauh dengan orangtuanya. Sayangnya aku adalah anak perempuan yang bahkan tak serupa dengan Ibu. Betapa tidak, ibu adalah kembang desa, siapa yang tak kenal dengan kecantikannya. Kulitnya putih, tinggi semampai, hidungnya mancung bak artis India. Mungkin sebelum aku lahir, saudara dan tetangga mengira bahwa anak perempuan ibu akan secantik bidadari.

Sayang seribu sayang, aku banyak mewarisi fisik ayah. Ekspektasi orang-orang tak terealisasi. Kulitku hitam, hidungku besar, dan tentunya bagi mereka aku tidak cantik, dan parahnya lagi aku tak pantas menjadi anak ibu. Sedari kecil aku sudah sangat terbiasa dengan omongan orang mengenai fisikku. Kerap mampir di telinga saat Lebaran, saat kumpul keluarga besar, saat berjalan di samping ibu kapan pun itu.

Insekuritas Tumbuh tanpa Batas

Jangankan percaya diri, berdiam lama di depan cermin saja aku tak sanggup saat itu. Aku beranjak dewasa menjadi gadis introver dengan segudang insekuritas. Hari-hari di sekolah menjadi sangat berat, karena berada di antara orang-orang aku tak nyaman. Apalagi jika lewat segerombolan anak-anak laki-laki aku akan lari cepat, karena aku tahu mereka seringkali menggunjingkan fisikku yang bagi mereka sangat buruk.

Pertanyaan kerap kali menghiasi hari-hari. Bagaimana rasanya menjadi cantik? Bagaimana rasanya dikagumi dan diterima dengan baik? Bagaimana rasa bahagianya memiliki fisik yang sempurna? Dan bagaimana-bagaimana lainnya yang pada akhirnya diikuti tanya mengapa aku berbeda.

Tiap malam menjelang tidur aku selalu membayangkan one day orang bisa memuji fisikku, bukankah setiap wanita berhak dibilang cantik? Aku panjatkan doa, mungkin agak aneh meminta Tuhan mewujudkan khalayanku saat itu. Tapi percayalah putus asa bisa membuat kita melakukan apa saja.

2 dari 3 halaman

Kepalsuan Dunia Maya Membuat Terlena

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Dunia nyataku sangat kelam, lalu aku menemukan dunia maya bisa mewujudkan impianku. Aku membuat beberapa akun media sosial. Berawal dari iseng, perlahan tapi pasti aku mulai kecanduan menggunakan photoshop. Dengannya, jerawatku hilang, dan tentunya fisikku bisa terlihat jauh lebih baik.

Senang rasanya dengan berbagai komentar dan likes di dunia maya. Aku merasa dihargai, aku merasa diterima. Hal mewah yang jarang aku dapatkan di dunia nyata.

Tapi kurasa, semua yang berawal dari kepalsuan akan berakhir dengan kesedihan. Tak ada rasa bahagia yang dapat dibangun di atas kepalsuan. Aku merasa sangat bersalah, aku seorang pembohong besar.

Cara pandangku berubah drastis setelah aku bertemu dengan seorang kawan dari luar kota. Aku sungguh terheran-heran dengan rasa percaya diri yang dia miliki. Meski kulitnya tak putih, badannya jauh dari kriteeria langsing, dia mampu menepis omongan orang menjadi sebuah trigger untuk berprestasi. Sungguh sebuah tamparan keras bagiku.

3 dari 3 halaman

Berhenti Memposting Kepalsuan

Ilustrasi. | pexels.com/@hazardos

Tahun 2020 menjadi sebuah kesempatan emas untuk berubah menjadi berkali-kali lipat lebih baik. Dosa-dosa di masa lalu harus dibayar tuntas dengan berbagai perubahan positif di tahun ini. Dengan penuh keberanian aku berkomitmen untuk berhenti memposting kepalsuan. Stop photoshop my face!

“Beauty standart rules” adalah hal kuno yang tak boleh menghentikan langkahku untuk bahagia dan bersyukur. Ya, kini aku ucapkan dengan lantang aku sangat bangga dengan anugerah yang diberikan Tuhan. Aku sehat, dan itu sudah sangat cukup untuk menerima kondisi diri ini.

Dengan menerima diri seutuhnya itu artinya menghargai diri. Menghargai diri salah satunya aku lakukan untuk merawat kesehatan tubuh. Beberapa list sudah aku wujudkan di tahun 2020 sebagai langkah kecil positif.

Aku berolahraga. Aku makan sehat dan memperhatikan betul nutrisi yang dibutuhkan tubuh, aku berkarya. Yang jelas aku bukanlah aku yang dulu.

Aku juga sangat bersyukur. Semesta kini mulai merangkul para wanita yang selama ini dipandang sebelah mata karena fisiknya dirasa kurang merepresentasikan kecantikan kaum hawa. Banyak yang mulai sadar, media, lingkungan dan bahkan perusahaan produk kecantikan mengangkat ini sebagai sebuah isu serius. Campaign mengenani beauty comes in diversity bertebaran, bahwa cantik tak bisa distandarisasi.

Semoga wanita di luar sana selalu bangga to be herself. Karena Setiap itu punya sisi cantiknya sendiri-sendiri!

#GrowFearless with FIMELA