5 Gangguan Pendengaran Yang Perlu Diketahui

Anisha Saktian Putri diperbarui 28 Jan 2020, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Telinga menjadi salah satu panca indera yang tidak kalah pentingnya dengan indera yang lain. Dengan bantuan telinga, tentu kita dapat mendengar berbagai macam bunyi yang indah. Ketika indera ini terganggu, tentunya tidak mampu mendengar bunyi dengan baik pada salah satu atau kedua telinga. Tentunya, ini akan membuat sulit untuk beraktivitas dengan normal.

Tentunya masalah kesehatan yang muncul pada telinga tidak boleh disepelekan oleh kita, sebab akan mengakibatkan tidak berfungsinya telinga sehingga membuat kita menjadi tuli. Untuk mengetahui lebih jauh masalah pendengeran, Pusat Alat Bantu Dengar (PABD) Melawai pun memberikan dengan rinci jenis gangguan pendengaran yang perlu diketahui:

1. Gangguan Pendengaran Konduksi atau Konduktif

Jenis gangguan pendengaran pertama adalah tuli konduksi. Transmisi gelombang suara yang diterima tidak masuk ke dalam telinga secara efektif. Akibatnya, suara yang kamu dengar akan lebih pelan dan tidak terlalu jelas. Di mana pada kasus ini, sahabat Fimela tidak bisa mendengarkan suara dengan sempurna. kondisi ini menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran konduksi, dimana terdapat adanya cairan di telinga bagian tengah, terlalu banyak kotoran telinga, masuknya benda asing ke saluran telinga bagian luar, atau terjadinya infeksi pada telinga bagian tengah.  

2. Gangguan Pendengaran Sensorineural

Gangguan pendengaran ini terjadi pada telinga bagian dalam lebih tepatnya saraf telinga bagian dalam yang terhubung langsung ke otak. Gangguan sensorineural adalah gangguan pendengaran yang paling fatal karena kondisi ini menyebabkan tuli secara permanen. Seseorang yang mengalami tuli permanen tidak dapat diobati dengan obat-obatan, berbagai tes fisik, atau pembedahan.

Sebab pengidap gangguan pendengaran ini hanya mampu mendengar suara dalam volume rendah,meski sebenarnya volume sumber suara telah ditinggikan. Beberapa hal yang menyebabkan gangguan pendengaran ini, yaitu trauma kepala, malformasi di telinga bagian dalam, faktor usia, sampai faktor genetik.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

3. Gangguan Pendengaran Campuran

Penyakit Infeksi Telinga (Andrey_Popov/Shutterstock)

Jenis gangguan pendengaran ini adalah campuran dari gangguan pendengaran konduksi dan sensorineural. Gejala awal pada gangguan pendengaran ditandai dengan tuli konduksi yang kemudian berkembang menjadi tuli sensorik. Meskipun begitu, gangguan telinga ini bisa terjadi secara bersamaan, misalnya pengidap mengalami trauma kepala yang sekaligus mengenai telinga bagian tengah dan dalam.

Biasanya saat dilakukan tes fisik, akan ditemukan beberapa tanda yang mirip dengan gangguan pendengaran sensorineural dan konduksi. Kalau kamu merasa bingung membedakan antara tuli konduksi dan sensorineural, kamu bisa konsultasi dan periksa dengan mengunjungi Pusat Alat Bantu Dengar Melawai secara gratis.

4. Gangguan Pendengaran Simetris dan Asimetris

Selanjutnya gangguan pendengaran simetris bisa saja terjadi ketika kedua telinga mengalami derajat penurunan kemampuan mendengar yang sama. Sedangkan, tuli asimetris terjadi ketika derajat penurunan kemampuan mendengar terdapat perbedaan antara kedua telinga. Kondisi ini sangat memungkinkan, terlebih apabila pengidap jika pernah mengalami benturan yang cukup keras pada salah satu sisi telinga.

5. Gangguan Pendengaran Mendadak

Jika mengalami gangguan pendengaran tuli mendadakan yang kondisinya semakin lama semakin memburuk dengan diawali tiba tiba tidak bisa mendengar, artinya kamu mengidap penyakit gangguan tuli mendadak. Penyebab dari tuli mendadak adalah stroke telinga, diabetes milletus, kekurangan O2 dan terpapar virus campak, influenza B. Apabila hal tersebut terjadi maka perlu mendapatkan penanganan medis, segera mungkin untuk mengetahui penyebab pastinya dengan periksa dan konsultasi telinga ke seperti ke Pusat Alat Bantu.

#Growfearless with Fimela