Menanti Momongan adalah Ujian Kesabaran yang Luar Biasa

Endah Wijayanti diperbarui 13 Mei 2020, 06:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Diniar Niar

Salam hangat saya untuk semua perempuan pejuang rahmat Allah SWT. Di kesempatan kali ini izinkan saya untuk bercerita serta berbagi apa yang saya alami dan jalani sebagai perempuan yang mengharapkan sesuatu yang indah tetapi belum Sang Pencipta kehendaki.

Semoga dengan adanya ruang ini kita bisa menjadi sahabat pejuang rida Allah SWT untuk memberikan apa yang kita nanti sejak lama dalam keadaan sabar dan ikhlas itu kunci utamanya. Bagi setiap perempuan pasti sangat sulit karena hakikatnya adalah makhluk perasa dan sangat sensitif dengan apa yang terjadi pada diri sendiri.

Setiap harinya saya lewati dengan bahagia hal positif sehingga saya lupa akan hal yang belum Allah berikan kepada saya, yaitu keturunan. Saya terdiam dan menghitung waktu pernikahan ternyata sudah cukup lama bagi hitungan saya walaupun itu hanya beberapa bulan, belum tahunan. Saya dan suami berpikir postif, bersabar serta berikhtiar. Kami rasa tidak ada yang salah karena kami berpikir Allah SWT memberi kami ruang untuk berdua dan menikmati masa indah ini.

Di beberapa momen saat saya sedang merasa ingin memiliki anugerah itu saya merasa sangat sedih merasa menyalahkan diri saya sendiri. Saya bertanya kepada diri saya. Mengapa? Ada apa? Kok lama? Ini tahun pertama saya yang sangat sulit.

Setiap saya bercerita tentang hal ini kepada suami atau orang terdekat saya, tak henti air mata ini mengalir. Setiap sujud dan doa saat meminta kepada Allah SWT pun saya bersedih.

Ya allah Ya Rahman Ya Rohim, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang apa yang sedang Kau berikan ini? Mengapa berat? Apakah ada nikmat yang lain yang sedang Kau persiapkan untuk Kau bayar lunas dengan suatu rasa syukur yang besar sunggguh indah nikmat penantian ini?

2 dari 2 halaman

Ujian Kesabaran dan Keikhlasan

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/omar lopez

Di situlah saya bercermin karena apa yang Allah berikan kepada saya saat ini adalah nikmat saya, syukur saya atas apa yang Allah berikan untuk semua ini. Karena apa yang saya miliki saat ini mungkin sangat diinginkan sekali untuk orang di luar sana yang melihat saya telah diberikan segalanya oleh Sang Pencipta. Begitu juga sebaliknya saat saya melihat mereka di luar sana.

Tahun kedua saya belajar banyak hal, yaitu:

  • Tidak mengeluh.
  • Tidak menyalahkan diri sendiri.
  • Tidak perlu membandingkan jalan hidup kita dengan orang lain.
  • Tidak menjauh dari Sang Pencipta.

Tidak perlu mendengarkan celoteh orang lain yang kadang memang menyayat hati tanpa mereka merasakan apa yang kita jalani. Apakah yang membuat saya kuat? Pertama karena saya yakin allah telah menyiapkan semuanya dengan rapi dan indah walaupun waktu begitu lama terasa untuk suatu penantian ini. Dukungan dari suami, orangtua serta teman yang mengerti apa yang saya jalani.

Saya kuat karena saya melihat di luar sana banyak yang seperti saya. Tetap positif. Saya tidak sendirian karena pejuang anugerah Allah SWT itu ada hanya saja kalau kita terpuruk tidak bisa melihat banyaknya di sekitar yang nyatanya juga ada yang merasakan hal sama seperti kamu. Be strong!

Banyak dekatkan diri kepada Allah SWT. Ikhlas. Sabar. Berikhtiar. Percaya kepada Allah SWT akan memberikan semua itu. Bersedih tapi jangan berlarut, meminta juga harus diimbangi dengan ketakwaan. Bahwa tidak ada ujian yang Allah SWT berikan di luar batas kemampuan manusia atau hamba-Nya.

Mari kita berjuang bersama di jalan Allah SWT untuk meraih rida-Nya. Salam sayang saya untuk wanita salihah yang sedang berjuang bersama.

#ChangeMaker