Tiga Perempuan Hebat yang Menginspirasi Hidupku, Kuharap Mereka Tersenyum di Surga

Endah Wijayanti diperbarui 01 Agu 2020, 12:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Linda Mustika Hartiwi

Setiap kali mengenang nenek (ibu dari ibuku), adik dan ibuku, ada sedih yang tak mampu kutepis namun banyak pelajaran hidup yang bisa kupetik untuk bekal kehidupanku. Nenek, adik dan ibuku merupakan sosok wanita hebat yang sangat menginspirasi hidupku. Beruntun aku akan berbagi cerita walau ada sedih di hati saat mengurai kenangan tentang beliau bertiga.

Sejak kecil aku tumbuh dalam asuhan nenekku. Bukan tanpa alasan aku diasuh oleh nenek namun semua berawal dari adanya anggapan di keluargaku dalam adat Jawa ( keluargaku berasal dari suku Jawa) yang mengatakan kalau anak dan ibunya sama dalam hari lahir atau wetonnya, maka salah satunya akan “kalah” bila berkumpul dalam satu rumah. Kalah di sini maksudnya bisa akan mengalami sakit atau keadaan lain yang mengakibatkan kesusahan dalam menjalani kehidupan. Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, maka aku diasuh oleh nenek. Begitu cerita yang kudengar dari ibuku. Sampai-sampai aku memanggil “ibu” kepada nenek dan memanggil “mbak” kepada ibuku. Aku bisa mengerti dengan sebutan panggilan kepada nenek dan ibuku yang dibiasakan kepadaku mungkin agar aku tidak bingung.

Aku tinggal bersama nenek dan paklik yang merupakan adik dari ibuku. Kakek sudah lama meninggal dunia. Ketika paklik menikah, aku tinggal berdua bersama nenek. Ayah dan ibuku sering menjenguk aku dan nenek. Rumah nenek dan rumah orang tuaku jaraknya lumayan jauh. Rumah nenek ada di daerah pedesaan sedangkan orang tuaku tinggal di rumah dinas di daerah perkebunan karet dan kopi. Ayahku mendapat fasilitas rumah dinas karena ayah bekerja sebagai karyawan di perkebunan itu.

Nenekku adalah seorang yang disiplin. Setiap jam empat pagi nenek sudah bangun dan melakukan rutinitas aktvitas seperti memasak, menyapu, mengepel, mencuci peralatan dapur dan mencuci baju, menyetrika atau membersihkan rumah juga halaman rumah. Aku ingat saat aku bangun tidur, makanan berupa nasi dan lauk pauk sudah tersedia di meja makan. Rumah sudah dalam keaadaan bersih dan rapi. Walaupun dulu ketika kakek menjadi lurah dan banyak asisten rumah tangga (ART) yang membantu nenek dalam banyak hal keperluan rumah tangga, namun nenek tidak menjadi orang yang pemalas saat tidak ada lagi ART di rumah.

Nenek juga tipe orang yang hemat dan tidak boros dalam pengeluaran keuangan untuk kebutuhan hidup. Contoh yang sederhana misalnya untuk keperluan makan yang tidak selalu mewah atau berlebihan jumlahnya. Lauk berupa sayur dan tahu tempe sering dijumpai di meja makan dalam pengolahan yang bervariasi tidak selalu dimasak dengan menu yang itu-itu saja sehingga makan tetap menjadi nikmat rasanya. Sekali–sekali nenek memasak ikan atau daging agar menu makanan tidak membosankan.

Dengan menerapkan disiplin dalam mengasuhku. Dalam sehari–harinya nenek juga membiasakan aku untuk tidur siang setelah bermain atau mengajakku untuk segera tidur saat waktu belum terlalu larut malam. Hal yang kemudian bisa kumengerti karena dengan waktu yang cukup untuk tidur atau beristirahat akan membuat tubuh dan jiwa menjadi sehat serta tidak mudah terserang penyakit baik fisik maupun psikis.

Sampai tiba waktunya aku masuk sekolah, aku berkumpul bersama ayah dan ibu untuk menuntut ilmu di sekolah dasar yang ada di daerah perkebunan tempat ayah bekerja.

Dengan pengajaran sikap disiplin oleh nenek saat mengasuhku, dalam perkembangan usia membuatku menjadi terbiasa bangun pagi setiap harinya untuk memulai beraktivitas dan menghindarkan diri dari stres dengan membiasakan cukup waktu untuk beristirahat serta belajar memilih dan memilah setiap permasalahan mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.

Hingga sore itu di awal tahun 2010, nenek pergi untuk menghadap Sang Illahi karena usia yang sepuh (tua). Aku merasa sedih namun aku harus mengikhlaskan kepergian nenek.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Setelah Nenek, Ada Adikku yang Luar Biasa

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/palidachan

Setelah nenek, wanita hebat yang menginspirasi dalam hidupku adalah Yik, demikian aku memanggil adikku satu-satunya. Sejak aku masuk sekolah dasar setelah sebelumnya tinggal bersama nenek, aku berkumpul bersama ayah dan ibu juga Yik. Usiaku yang terpaut hampir satu setengah tahun dengan Yik, membuat kami merasa seperti sebaya umurnya sehingga tidak banyak berselisih paham saat bermain atau belajar bersama. Tumbuh bersama Yik dalam asuhan ayah dan ibu membuat aku dan Yik selalu bersama dan saling menyayangi.

Sampai waktu aku lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan meneruskan ke SMA (Sekolah Menengah Atas), setahun kemudian Yik melanjutkan ke SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) yang membuat aku dan Yik terpisah karena aku tinggal di rumah kost dan Yik harus tinggal di asrama. Ada sepi kurasakan saat berjauhan dengan Yik setelah sebelumnya selalu bersama Yik di rumah. Namun rasa sepiku terobati saat aku sering diajak ayah dan ibu menjenguk Yik di asrama. Biasanya aku dan Yik lantas berbagi cerita dan larut dalam kebersamaan hingga jam berkunjung telah habis waktunya. Tiga tahun kemudian setelah menuntaskan masa pendidikan masing-masing, aku melanjutkan kuliah di luar kota dan Yik juga melanjutkan sekolah bidan di luar kota pula namun berlainan kota denganku. Semakin jarang aku bertemu dengan Yik karena jarak tempat tinggal yang berjauhan.

Kehidupan terus berjalan hingga aku dan Yik sama-sama menikah dan tinggal bersama keluarga kami masing-masing. Aku kembali dan tinggal bersama keluargaku di kota kecamatan di daerah kelahiranku. Aku dan suami menjadi karyawan di sebuah dealer motor. Sedangkan Yik menjadi bidan desa dan suaminya menjadi mantri kesehatan di sebuah daerah pegunungan yang ada di luar kota dan jauh jaraknya dari tempat tinggalku.

Ketika dalam sebuah kesempatan yang menjadi awal aku bersama keluargaku berkunjung ke rumah Yik, jalan menuju rumah Yik selepas dari kota, adalah jalan makadam (jalan batu) dan di sisi kiri kanan jalan banyak tanah kebun yang ditanami pohon buah–buahan atau sayuran. Selain itu banyak tikungan jalan yang menanjak atau turun sampai menuju rumah Yik. Sempat dalam hati aku bergumam sendiri namun salut kepada Yik, kok Yik kerasan tinggal di daerah yang akses jalannya seperti ini? Walau aku mengerti semua ini karena pekerjaan Yik sebagai bidan desa yang membuatnya ditempatkan di daerah pegunungan. Belum lagi hawa dingin yang menjadi ciri khas hawa daerah pegunungan yang merasuk di tubuh saat tiba di rumah Yik, sehingga walaupun mentari bersinar cerah namun tetap saja kukenakan jaket saat di rumah Yik.

Yik yang aku tahu ketika aku di rumahnya tidak pernah mengeluh saat ada wanita hamil datang untuk melahirkan dan tak mengenal waktu atau banyak orang datang berobat dengan beragam penyakit yang berbeda-beda. Yik yang tanpa mengenal lelah saat tengah tidur nyenyak di malam hari dibangunkan oleh orang yang datang untuk memeriksakan diri karena sakit yang dikeluhkan. Atau Yik yang terbangun di tengah malam mendengar pintu rumahnya diketuk untuk diajak mengobati orang sakit di lain tempat dengan rumah Yik. Walau untuk hal mengobati orang yang sakit di lain tempat tersebut Yik mengajak aparat desa setempat demi keselamatan Yik. Walaupun ada suaminya yang juga bisa mengobati orang sakit, Yik tidak pernah menolak saat ada orang yang datang untuk minta diperiksa sakitnya oleh Yik. Dari semua itu aku kagum pada Yik yang sangat totalitas dan ikhlas dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang di desa tempat tinggalnya karena hanya Yik satu-satunya bidan desa yang ada.

Belum lagi imbalan yang diberikan oleh masyarakat yang kurang mampu saat berobat ke Yik bukan dalam bentuk uang namun berupa bahan pokok seperti gula, beras, jagung atau sayuran yang lain tergantung apa yang dimiliki oleh orang yang memeriksakan diri. Yik tidak marah atau menggerutu namun sebaliknya Yik mensyukuri semuanya dan merasa senang bisa berbagi untuk kesehatan masyarakat di desanya. Sikap hidup Yik yang pandai bersyukur dan patut untuk kuteladani.

Meskipun Yik tinggal di desa di pegunungan, Yik tidak mau ketinggalan informasi dengan orang lain yang tinggal di daerah perkotaan. Di sela waktu senggangnya Yik meluangkan waktu untuk melihat acara di televisi dan membaca majalah atau koran yang dibelinya saat ada acara ke kota yang terdekat dengan rumah Yik. Maka tak heran saat ada obrolan ringan mengenai peristiwa aktual yang terjadi, Yik juga ikut memberikan komentar. Yik juga pandai membuat kue dan masakan dari kegiatannya melihat TV atau membaca sehingga sering membuat Yik menjadi pemenang dalam lomba memasak atau membuat kue yang diadakan di desanya. Lagi–lagi aku kagum kepada Yik yang tidak malas dalam belajar dan mencari informasi pengetahuan serta berusaha menjadi pribadi yang mumpuni untuk berprestasi.

Sikap Yik yang tidak pernah mengeluh termasuk tentang penyakit leukemia yang dideritanya hingga merenggut nyawa Yik di pertengahan tahun 2011, sungguh membuat aku dan keluargaku merasa kehilangan Yik yang tangguh dalam menjalani hidup. Kekagumanku kepada Yik akan prinsip hidupnya yang aku tahu selama ini, membuatku terus belajar untuk pandai bersyukur dan tidak mudah mengeluh dengan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadaku.

3 dari 3 halaman

Ibu adalah Sosok Perempuan Hebat

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/chokniti

Setelah nenek dan adik, lalu ada ibuku yang menjadi sosok hebat pula dan selalu membuatku terkenang.

Tidak banyak yang aku ceritakan tentang ibu dengan keseharian ibu yang hampir mirip dengan nenek yang mungkin karena dulu ibu juga dalam pengasuhan nenek sehingga apa yang diajarkan oleh nenek kepada ibu juga diterapkan oleh ibu dalam kehidupan sehari-hari.

Sama seperti nenek, ibuku adalah seorang ibu rumah tangga sejati yang setiap hari berkutat dengan rutinitas aktivitas yang dilakukan nenek seperti memasak, mencuci, menyapu, menyetrika atau membersihkan rumah. Ibu yang tidak pernah mengeluh dengan gaji ayah yang pas–pasan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari–hari dan mau membantu ayah untuk mendapatkan tambahan uang belanja dengan menerima jasa menjahit baju anak-anak maupun baju orang dewasa. Ibu yang juga pandai berhemat dalam mengelola keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti kebutuhan untuk makan, kesehatan, atau pendidikan anak-anaknya. Sehari saja ibu mengalami gangguan kesehatan atau sakit yang membuatnya tidak mampu untuk melakukan rutinitas aktivitas, suasana yang terasa seperti hambar dan kacau. Tidak ada yang menyiapkan makanan, banyak pekerjan di rumah yang terbengkalai atau keadaan rumah yang terlihat kotor dan tidak rapi.

Hingga di tahun 2005 saat ibu divonis oleh dokter mengidap sakit kanker payudara yang dengan tenang ibu memberitahukannya kepadaku. Dokter juga mengatakan bahwa ibu harus menjalani operasi untuk mengangkat kanker agar tidak menyebar ke bagian tubuh yang lainnya. Vonis dokter tentang sakit ibu yang membuatku panik dan tidak bisa bersikap tenang seperti ibu saat menyampaikannya kepadaku. Kepanikanku yang tidak ada gunanya jika tidak segera bertindak untuk mencari pengobatan demi membantu ibu agar lekas sembuh dari sakit kanker payudara. Setelah ibu menjalani operasi, dengan segenap kemampuan biaya dan tenaga yang ada, aku membantu pengobatan ibu baik medis atau herbal agar kanker ibu tidak tumbuh lagi.

Meskipun di tengah upaya yang dilakukan untuk kesembuhan ibu, ibu harus bolak balik menjalani operasi sampai enam kali akibat kanker yang tumbuh lagi, aku tak henti membantu pengobatan ibu. Semua kulakukan karena aku melihat semangat ibu yang tinggi untuk sembuh dari sakit kanker payudara. Ibu yang sangat tegar dalam menjalani operasi berkali-kali, ibu yang mengabaikan rasa sakit saat dipasang alat untuk kemoterapi dan ibu yang kuat menahan pahitnya obat herbal yang diminum selain obat medis yang diberikan oleh dokter.

Kalaupun Tuhan berkehendak lain dengan memanggil ibu ke haribaan-Nya di akhir tahun 2012 setelah berjuang melawan sakit kanker payudara, aku harus ikhlas melepas kepergian ibu seperti saat nenek dan Yik pergi meninggalkanku. Ketegaran dan kekuatan ibu melawan sakit membuatku belajar untuk mempunyai sikap pantang menyerah dengan keadaan yang melingkupi kehidupan yang terus berjalan.

Kepergian nenek, adik dan ibuku yang merupakan tiga wanita hebat dalam hidupku seperti yang telah kuceritakan di atas, sempat membuatku terpuruk. Rasa sedih dan sepi melandaku bertahun-tahun lamanya namun kemudian aku sadar bahwa aku harus bangkit karena masih ada ayah dan keluargaku yang membutuhkanku.

Banyak pelajaran hidup dari nenek, adik dan ibuku yang bisa kupetik dan kujadikan bekal dalam menjalani kehidupanku. Kini hanya doa yang bisa kupanjatkan setiap waktu semoga nenek, adik dan ibuku damai di sisi-Nya. Amin. 

#ChangeMaker