Ketahui 5 Pengaruh Pubertas Dini yang Dialami Anak Bagi Kesehatan Mentalnya

Gayuh Tri Pinjungwati diperbarui 14 Okt 2020, 18:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Pubertas remaja normal terjadi ketika seorang anak berusia sekitar 10 atau 11 tahun. Namun, ada anak yang mulai berkembang secara fisik dan emosional menjadi dewasa muda lebih awal. Ketika ini terjadi saat usia 7 atau 8 tahun (untuk perempuan) dan usia 9 tahun (untuk laki-laki), itu disebut pubertas dini. Meskipun ini mungkin Nampak tidak berbahaya, para peneliti telah mengaitkan sejumlah konsekuensi kesehatan dan psikologis dari mencapaian pubertas terlalu dini dalam kehidupan seperti berikut ini.

Pertumbuhan Terhambat

Seorang anak yang sedang mengalami pubertas mungkin pada awalnya cukup tinggi jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Namun, anak akan berhenti tumbuh saat pubertas berakhir ini berarti bahwa anak dengan pubertas dini tidak akan mencapai potensi tinggi maksimalnya karena kerangka mereka matang dan pertumbuhan tulang berhenti pada manusia yang lebih awal dari biasanya.

Perubahan Perilaku

Untuk anak perempuan, mudah tersinggung, ledakan emosi dan kemurungan dapat menyertai pubertas dini. Anak laki-laku mungkin mengalami munculnya dorongan seks yang tidak sesuai dengan usia mereka, bersamaan dengan perilaku agresif.

2 dari 3 halaman

Diejek Orang Lain

Bukan cuma orang dewasa, anak-anak juga bisa jadi pelaku bully. (Sumber Foto: thriving.childrenshospital.org)

Anak kecil mungkin tidak memperhatikan atau memahami apa yang terjadi ketika seseorang pada usia yang sama mengalami pengembangan pada payudara atau mengalami menstruasi. Namun, anak-anak yang lebih besar biasanya memperhatikan jika seseorang di kelas yang lebih rendah secara fisik berkembang di depan mereka. banyak anak kecil yang mengalami pubertas dini, khususnya bagi perempuan, melaporkan diejek atau diintimidas oleh anak yang lebih tua di sekolah mereka.

Cemas

Anak-anak yang mengalami pubertas dini memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tingg dibandingkan dengan teman sebayanya. Efek ini ditemukan secara konsisten pada anak perempuan, tetapi temuan yang melibatkan anak laki-laki kurang jelas. Mungkin yang paling mengganggu, peningkatan risiko depresi dan kecemasan dapat meluas hingga tahun-tahun kuliah.

Aktivitas Seksual Dini

Mencapai pubertas dini juga dapat menempatkan anak pada risiko aktivitas seksual lebih dini dibandingkan dengan teman sebayanya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan juga lebih memilih seks bebas ketika mereka berkembang lebih awal. Sayangnya, aktivitas seksual dini dan pergaulan bebas dikaitkan dengan peningkatan risiko kehamilan remaja. Kehamilan remaja datang dengan sejumlah kekhawatiran sendiri, termasuk tingkat putus sekolah yang lebih tinggi dan risiko lebih banyak anak saat masih remaja.

Menciptakan lingkungan yang mendukung adalah untuk mendorong anak untuk datang kepada orangtua jika mereka mengalami kesulitan fisik, emosional atau sosial dari pubertas dini. Cobalah untuk tidak berkomentar tentang bagaimana penampilan anak berubah.

3 dari 3 halaman

Cek Video di Bawah Ini

#Changemaker