Memulai Bisnis dari Rumah dengan Membuat Masker Kain khas Jumputan Palembang

Endah Wijayanti diperbarui 30 Okt 2020, 10:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Nursittah Nasution

Memutuskan resign dari pekerjaan pada awalnya membuatku dilema. Mengingat selama ini semenjak wisuda aku belum pernah menganggur. Namun kondisiku yang tengah hamil 9 bulan dan LDM (Long Distance Marriage) dengan suami membuatku pada akhirnya berhenti dari pekerjaan sebagai seorang Research Assistant di salah satu kampus negeri di kota Palembang.

Sempat mementingkan ego sendiri ingin terus bekerja dan menyerahkan bayi kami ke baby sitter karena tak satu pun keluarga yang tinggal di Kota Palembang. Namun suami menyadarkanku betapa pentingnya peran orangtua dalam perkembangan buah hati. Berhubung suami jauh dan hanya bisa pulang sebulan sekali, akhirnya kumantapkan kaki untuk keluar dari pekerjaan. Paling tidak aku bisa menemani buah hati kami dalam bertumbuh meski suami tak bisa selalu disisi.

Menjadi seorang ibu rumah tangga (IRT) ternyata tak sebosan pandanganku selama ini. Banyak hal yang bisa kulakukan dari rumah tanpa harus meninggalkan si kecil yang sedang bertumbuh. Berbekal pengalaman selama kerja dulu, aku membuka jasa data processing, journal editor, dan jasa translator bahasa Indonesia ke Inggris dengan sasaranku adalah mahasiswa pascasarjana (S2 dan S3) yang kuliah sambil bekerja sehingga biasanya tak punya banyak waktu untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Namun pekerjaan itu aku lakoni hanya berlangsung beberapa bulan saja sebelum akhirnya virus corona mulai menancapkan taringnya di Indonesia.

Penyebaran covid-19 di Indonesia sangat hebat dan tak terkendal. Akibatnya sekolah, kampus dan perkantoran diliburkan. Kondisi tersebut tentu saja berdampak pada pekerjaanku, pesanan akan jasaku semakin berkurang dari hari ke hari hingga pada akhirnya hanya satu dua orang saja yang masih memintaku untuk mengolah data dan translate tugas kuliah.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Menjual Masker

Menjual masker./Copyright Nursittah Nasution

Pandemi yang tak kunjung berakhir membuat suamiku tak bisa pulang, perusahaan tempat dia bekerja membuat kebijakan untuk melarang seluruh karyawannya melakukan aktivitas keluar-masuk untuk mencegah rantai penularan covid-19 sehingga karyawan terpaksa libur di tempat. Hati siapa yang tak hancur, mengingat bayi kami yang baru berusia 3 bulan dan masih membutuhkan bonding dengan ayahnya.

Banyaknya pemberitaan di media televisi terkait ribuan karyawan yang di-PHK dari pekerjaan membuatku merinding, aku takut jika perusahaan suami melakukan hal yang sama, pengangguran merajalela, perekonomian indonesia mengalami krisis. Saat itu aku hanya berpikir aku harus melakukan sesuatu paling tidak untuk menstabilkan perekonomian rumah tangga kami, di samping pekerjaanku sebagai freelancer yang sekarang memang sedang macet karena covid-19.

Mencoba peruntungan dengan beralih menjadi pedagang, terbersit di pikiranku untuk menjual masker saja karena di masa pandemi seperti ini masker sangatlah dibutuhkan. Namun aku tidak ingin menjual masker yang sama dengan yang dijual di pasaran. Aku ingin sesuatu yang berbeda sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Aku tinggal di Kota Palembang yang memiliki tiga bahan kain utama yang menjadi warisan budaya turun-temurun yaitu songket palembang, kain jumputan, dan kain blongket. Kalian tentunya tak asing dengan songket Palembang yang memang sangat terkenal di seantero Indonesia dengan motifnya yang khas, tapi bagaimana dengan kain jumputan dan kain blongket? Tentunya masih asing di pendengaran masyarakat luar Kota Palembang.

Padahal kain jumputan tak kalah bagusnya dengan songket Palembang, harga kain jumputan juga dibandrol lebih murah dibandingkan kain songket. Di masa New Normal ini acara pernikahan juga sudah mulai digelar, sehingga masker kain jumputan sangat cocok dipadukan dengan setelan kebaya atau gaun pesta sehingga penampilan terlihat match dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

 

3 dari 3 halaman

Bertahan di Tengah Pandemi

ilustrasi./Photo by Vera Davidova on Unsplash

Berawal dari keunikan tersebut sekaligus sebagai salah satu media untuk memperkenalkan kain jumputan khas Palembang ke khalayak ramai aku pun membuat masker berbahan dasar kain jumputan yang bekerja sama dengan penjahit rumahan, harga untuk 1 masker jumputanku bandrol cukup murah yaitu Rp15.000 sehingga tak hanya kalangan atas saja yang bisa membelinya namun seluruh kalangan. Karena selama ini sama halnya dengan songket, kain jumputan pun biasanya hanya dimiliki oleh mereka dari kalangan atas.

Baru dua minggu produksi, tak kusangka masker kain jumputan sangat diminati oleh masyarakat khususnya di Sumatera Selatan yang memang tahu bagaimana indah dan uniknya ragam motif kain jumputan. Padahal promosiku hanya sebatas share foto produk di media sosial WhatsApp dan Instagram pribadiku. Namun, antusias masyarakat di luar ekspektasiku hingga aku mampu menjual masker jumputan sebanyak 6 lusin atau 72 pcs hanya dalam waktu 2 minggu. Pencapaian yang luar biasa mengingat banyaknya ragam motif masker di luar sana seperti batik, brukat, renda, shabbic chic, dan lain-lain yang menjadi saingan di pasaran.

Aku sangat berharap nantinya bisa memasarkan masker kain jumputan lebih luas lagi sehingga dikenal oleh masyarakat di seluruh Indonesia sesuai dengan visi awalku memulai bisnis ini. Sama halnya dengan batik dan songket, kain jumputan juga perlu dilestarikan dan dikreasikan sehingga menjadi warisan budaya yang tak lekang oleh zaman. Selain kain jumputan aku juga berharap semoga suatu saat nanti bisa memproduksi masker dengan bahan dasar kain blongket yang juga menjadi kain khas Sumatera Selatan.

Jangan pernah berkecil hati dan insecure dengan mereka yang kerja di kantoran karena berkarir bisa darimana saja tak terkecuali dari rumah. Setiap kita pasti punya pilihan, bagi para ibu yang membuat keputusan resign dari pekerjaan karena ingin fokus merawat buah hati, kalian hebat karena menyingkirkan ego dan mengorbankan karir demi keluarga. Begitu juga dengan para Ibu yang harus tetap bekerja, kalian juga perempuan hebat karena rela berpisah dengan buah hati demi mencari nafkah. Apa pun pilihannya kita semua adalah super lady.

#ChangeMaker