Berbisnis Tulisan dari Rumah, Menambah Pundi-Pundi Rupiah

Endah Wijayanti diperbarui 05 Nov 2020, 09:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Fuatuttaqwiyah 

Bisnis tulisan? Sama sekali tidak terlintas dalam benakku. Aku hanya senang menulis. Berpikir menjadikan tulisan sebagai lahan mencari uang tidak pernah terpikirkan, apalagi menjalaninya seperti sekarang. Saat itu aku hanya ingin bersama suami di awal tahun pernikahan. Aku tidak mau menjalani long distance marriage yang berisiko tinggi.

Berbisnis dari Rumah

Pindah ke desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, tentu saja aku harus siap dengan kehidupan serba  minimalis. Secara kualitas kesehatan, di desa jauh lebih baik. Udara bersih melimpah ruah. Begitu juga dengan air bersih. Namun, secara finansial, jauh dari penghasilan ketika aku bekerja di kota.

Sulitnya mencari pekerjaan di desa, akhirnya kuputuskan untuk kembali kepada hobiku, menulis. Aku pun memulai bisnisku, bisnis tulisan. Kupilih bisnis ini karena nyaris tanpa modal. Laptop dan gawai aku sudah punya. Tinggal beli kuota internet saja.

Bisnis Tulisan

Hidup di desa dan jarang keluar rumah karena nulis, sempat membuat hubunganku dengan mertua renggang. Maklum, di desa masih belum umum pekerjaan penulis. Apalagi hampir tiap jam aku pegang gawai dan laptop. Padahal dari menulis, kebutuhan harian keluarga kecilku terpenuhi.

Setiap mendapatkan proyek menulis, kukerjakan dengan sepenuh hati. Jika terlambat pun aku mengabari kendala yang kuhadapi. Di desa terkadang koneksi internet sangat jelek sehingga menganggu proses pengiriman naskah.

2 dari 2 halaman

Hasil Menulis

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Pondsaksit

Hasil menulis sebagian besar kutabung. Prinsipku tidak setiap hari ada transferan. Jadi, aku berusaha hidup sehemat mungkin. Aku hanya mengambil uang seperlunya saja.

Awalnya aku sempat ragu apakah bisa hidup dari menulis? Nyatanya aku bisa memenuhi kebutuhanku. Mulai dari kebutuhan dasar, harian, hingga kebutuhan yang bersifat mewah. Aku memang belum sesukses penulis lain. Namun, aku bisa berbangga hati, keuangan rumah tanggaku tercukupi. Bahkan terkadang lebih.

Tak terasa bisnis tulisan sudah kujalani selama 2 tahun. Sejauh ini tiada kendala yang berarti. Apalagi aku dibantu suami yang selalu membantu ketika pesanan naskah menumpuk. Ya, selama ini memang aku berdua dengan suami menjalankan bisnis tulisan ini. Tentu aku yang menjadi bos. Mulai dari mencari klien, menego harga, pengiriman naskah, hingga pembayaran.

Komunitas Nderes Literasi

Aku berharap ke depan bisnis yang kujalani menjadi agensi yang besar dan melibatkan banyak orang. Terutama perempuan. Aku memang konsen dengan pemberdayaan perempuan. Aku ingin mereka berdaya dari rumah dengan menulis. Langkah ini sudah kumulai dengan mendirikan Komunitas Nderes Literasi. Komunitas yang kudirikan 2 tahun lalu. Ilmu menulis yang telah kudapatkan kubagikan di sana.

Beberapa perempuan yang kulatih pun sudah mulai menunjukkan hasil. Ada yang menang lomba menulis, ada yang mempunyai buku solo, ada yang menjadi blogger, dan sebagainya. Aku bahagia ketika mereka satu per satu berhasil meraih mimpinya menjadi penulis.

Langkahku masih panjang, apalagi aku masih ingin memiliki bisnis penerbitan buku. Semoga suatu saat nanti aku bisa memiliki penerbitan sendiri dengan nama Nderes Literasi. Aku bersyukur, saat ini sudah menjadi bos untuk bisnis yang kubangun.

#ChangeMaker