Doa Ibu Memudahkan Jalanku Lolos CPNS, Senyuman Itu pun Kembali

Endah Wijayanti diperbarui 14 Des 2020, 13:51 WIB

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: S

Dua tahun sudah berlalu semenjak kepergian bapak. Fase tersulit dalam kehidupan kami terjadi dalam rentang itu. Bapak yang awalnya tulang punggung keluarga kini tugasnya beralih kepadaku, putri sulungnya. Ya, aku memang sudah bekerja kala itu. Tapi aku tak bisa bilang bahwa itu adalah suatu keuntungan. Bagaimanapun, ditinggal seorang yang tercinta adalah pukulan terhebat dalam hidup kami.

Aku bekerja di salah satu penerbitan. Gajiku bisa dibilang cukup untuk menghidupi adik dan ibuku. Ya, cukup tak berarti banyak. Aku hidup dalam kesederhanaan. Gajiku hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan primer kami. Aku merasa bersalah tentang itu. Aku tak bisa memberi sebanyak apa yang telah bapak berikan untuk kehidupan kami sebelumnya. 

Ibuku juga tak diam saja. Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Melihatku kelimpungan mencari nafkah mungkin membuatnya merasa bersalah. Semenjak kepergian bapak, ibuku juga membantuku mencari uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya adik sekolah. Beliau mulai menerima berbagai ajakan tetangga untuk bekerja di sawah.

Ya, ibuku menjadi buruh di sawah tetangga. Aku sungguh tak tega. Beberapa kali kulihat beliau memegangi lututnya tanda kesakitan dan kelelahan. Tapi beliau tak mengeluh. Rasa capek dan kulitnya yang terbakar matahari menjadi cokelat tua tak menyurutkan semangatnya untuk mencari nafkah. Saat itu, aku tak bisa bilang untuk menghentikan aktivitasnya karena jujur saja bahwa gajiku terbatas.

Aku memutar otak bagaimana membalikkan kehidupan kami. Ibuku tak menuntut banyak hal. Beliau mendukung apa pun pekerjaan yang aku lakukan selama itu halal dan baik. Tiba-tiba, pada saat itu, berita tentang CPNS sedang menjadi perbincangan di mana pun. Ibuku menyuruhku untuk mencobanya. Sebenarnya aku agak takut karena aku pernah gagal di tahun sebelumnya. Tapi, aku tetap harus mencobanya.

 

2 dari 2 halaman

Doa-Doa Ibu

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/AnnRodchua

Aku belajar banyak hal dari kegagalanku tahun sebelumnya. Salah satu faktor terpenting kegagalanku saat itu adalah aku tak melibatkan ibuku dalam langkahku. Aku tak minta doa restunya. Hal itu karena aku memang bukan orang yang terbuka. Kali ini, aku pasrahkan semuanya.

Pagi itu, sebelum berangkat tes, aku mencoba minta doa ibuku lewat Whatsapp.  Ibuku mendoakan aku dengan sungguh-sungguh. Tak tahu suatu keajaiban atau apa. Tapi nilaiku saat tes pertama 100 poin lebih tinggi dari saat tes tahun sebelumnya. Aku bergumam dalam hati bahwa kekuatan doa itu memang ada.

Berlanjut pengumuman dan masya Allah aku berada di peringkat satu. Aku lanjut ke tes ke dua. Karena pandemi, ujian tes kedua mundur sekitar 5 bulan dan baru dapat terselenggara pada September 2020. Malam hari sebelum hari ujian, ibuku meneleponku. Beliau bilang untuk tak khawatir pada apa pun hasilnya dan lakukan yang terbaik.

Aku memberi tahu waktu tesku sekitar pukul 8.30 sampai 10.00 WIB. Setelah tes, nilai seketika muncul dan nilaiku bisa dibilang tinggi. Setelah tes aku langsung menelepon ibu. Masya Allah aku tak bisa lebih bahagia saat itu. Dari kedua tes akhirnya diumumkan bahwa aku bisa mempertahankan posisiku di peringkat pertama dan lolos CPNS.

Ibuku bahagia sekali mendengar hal tersebut. Ibuku bercerita bahwa selama aku tes, beliau salat dan mendoakan aku tanpa henti. Beliau berzikir selama itu. Aku sungguh percaya bahwa rida Allah itu tergantung pada rida orang tua. Ibuku kini dapat tersenyum lebar kembali.

Sekarang, aku bisa bilang pada ibuku untuk berhenti bekerja. Aku berjanji bahwa ibu tak perlu capek-capek lagi di sawah dan aku akan menanggung biaya sekolah adikku. Terima kasih untuk ibuku. Kesuksesanku adalah berkat doamu. 

 

 

#ChangeMaker