Diary Fimela: Sanguine, Bisnis Tas Rajut yang Lahir dengan Misi Pemberdayaan Perempuan

Fimela Editor diperbarui 19 Apr 2021, 20:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Sebagai perempuan membuat pilihan kerap menjadi tantangan. Sering kali kita dihadapi pilihan antara bekerja atau menjadi ibu rumah tangga? Seolah-olah memilih salah satu berarti harus mengorbankan yang lainnya.

Padahal perempuan tidak harus memilih. Perempuan berhak melakukan apapun tanpa diliputi kekhawatiran akan celaan dari sekitar.

Paradigma tersebutlah yang mendorong Dea Fitria membangun Sanguine. Brand lokal dengan produk utama tas rajut fashion ini berdiri dengan misi pemberdayaan perempuan.

Dalam menjalankan bisnisnya, Sanguine melibatkan para ibu dari seluruh Indonesia yang ia temui melalui sebuah komunitas di Facebook. Dengan harapan yang sama, yaitu ingin menjadi lebih berdaya dan ingin punya waktu luang yang lebih bermakna selama di rumah, khususnya di tengah pandemi Covid-19.

“Aku ingin semua perempuan Indonesia berdaya dengan tangan mereka masing-masing. Aku ingin mereka bangga atas apa yang mereka buat. Aku ingin mereka bercerita lewat karya mereka, dan betapa indahnya bila Sanguine bisa memediasi itu. Bisa menjadi wadah untuk para perempuan berkarya dan ceritanya di dengar. Sanguine akan menuju ke sana dengan usaha-usaha kecilnya yang dilakukan dari sekarang, " ungkap perempuan yang akrab disapa Dey itu.

Karena harapan yang sama itulah, kampanye #MothersNotMachine lahir. Tanpa bantuan mesin, seluruh produk Sanguine diproduksi secara manual hasil tangan-tangan para ibu, mulai dari mewarnai benang, merajut, hingga menjahit label produk. Pemberdayaan perempuan kemudian yang menjadi value terbesar Sanguine.

Untuk menghasilkan satu produk, dibutuhkan waktu yang tak singkat. Dey mengatakan, para perajin biasanya menghasilkan satu tas dalam sehari.

"Karena memang mereka lebih efisien kalau satu hari satu tas. Aku juga sangat menghargai waktu luang yang mereka punya, mungkin mereka hanya punya waktu sekian jam untuk mengerjakan tas Sanguine, maka aku tidak memaksa. Itulah mengapa aku punya banyak para perajin untuk saling backup satu sama lain," kata dia.

Menariknya, setiap pembeli Sanguine akan diberikan sepucuk surat terkait identitas berupa nama pembuat dan keterangan waktu pengerjaanya. Bukan tanpa alasan, Dey mengatakan bahwa dia ingin menghilangkan jarak antara pembeli dan perajin.

"Dengan pembeli tahu tas ini dibuat oleh seorang ibu dengan waktu yang sebegitu lama, mereka jadi bisa lebih apresiasi dan menghargai tasnya. Selain itu, kita juga jadi tahu bahwa ada satu orang yang menginvestasikan waktunya, jiwanya, dan kesabarannya untuk membuat satu barang dari seseorang yang mungkin tinggal lebih jauh dari kita. Tentu ini jadi lebih personal dan valuable," lanjutnya.

 

 

2 dari 4 halaman

Bagi Dey, merajut adalah terapi

Foto: dok Sanguine

Bukan semata-mata mencari profit, Dey mengungkapkan Sanguine sendiri berangkat dari sebuah hobi merajut yang dilakoninya selama pandemi. Berawal pada bulan April tahun 2020 lalu, kejadian memilukan menimpa Dey yang membuat dirinya mengalami trauma. Dia kehilangan buah hatinya tepat di usia 9 bulan masa kandungan.

Masa-masa sulit itu tentu tidak mudah untuk Dey. Terlebih di tengah pandemi yang membatasi dirinya untuk bertemu orang-orang terdekat. Hingga suatu waktu, Dey menemukan hobi baru yang bisa memberikannya ketenangan, yakni merajut.

"Di masa-masa healing setelah melahirkan, setelah ditinggal anakku, aku menemukan suatu kegiatan yang enggak disangka-sangka jadi terapi, itu adalah merajut. Padahal aku bukan orang yang crafty sama sekali. Tapi aku harus menemukan satu hobi baru diproses healing-ku di tengah pandemi yang mana enggak bisa ketemu orang, dan aku menemukan merajut sebagai sebuah distraction sebenarnya," cerita dia soal kehilangannya.

Hanya ketika sedang merajut, Dey merasa lebih tenang, tidak sedih, merasa senang dan bangga akan satu karya yang dihasilkan. Merajut menjadi proses healing yang cukup panjang untuk menyembuhkan luka-lukanya.

Tak pernah memiliki pengalaman merajut, Dey mengaku bahwa ia mempelajari semuanya hanya melalui YouTube. Karya pertama yang dibuatnya adalah keranjang.Hingga seiring waktu, Dey berhasil menghasilkan karya-karya rajut lainnya seperti scrunchie, cover laptop, dan tas yang kini dipasarkannya secara online.

 

3 dari 4 halaman

Perjalanan memulai bisnis

Foto: dok Sanguine

Berkat dukungan teman-teman dan suami, Dey kemudian memberanikan diri untuk berjualan. Dey tidak langsung membuka Sanguine, dia mencoba mengamati pasar terlebih dahulu dengan mengadakan 'give away' di Instagram pribadinya.

Cukup dengan syarat-syarat yang sederhana, peserta hanya perlu mengikuti akun Instagram @sanguinegoods dan memberi nama masing-masing tas yang dijadikannya sebagai give away.

Tak disangka, banyak orang yang antusias mengikuti give away tersebut. Bahkan meski produk Sanguine belum resmi dipasarkan, pengikutnya sudah melonjak drastis.

"Walaupun Instagram Sanguine belum ada postingan apapun, tapi udah ada 200 lebih followers. Dan aku pikir, itu trik marketing yang lumayan oke, benar-benar effortless tetapi banyak orang yang exicted karena hal itu," terang Dey.

 

4 dari 4 halaman

Membuka kesempatan para perempuan untuk bergabung

Foto: dok Sanguine

Dey bersyukur kehadiran Sanguine memberikannya banyak pelajaran hidup, terutama mengantarkannya pada tujuan mulia untuk memberdayakan para perempuan. Dey mengatakan, akan selalu membuka kesempatan bagi para perempuan lain yang ingin bergabung dan berdaya bersama Sanguine.

"Kalau ingin bergabung bisa hubungi dm Instagram @sanguinegoods atau Whatsapp aku, lalu kirim portofolio hasil karya rajutan yang pernah dibuat. Jadi aku bisa tahu bahwa ibu-ibu ini bisa di challange untuk bikin tas Sanguine yang mana. Atau justru kita bisa kerja bareng untuk new collection,“ katanya.

Di akhir, Dey berpesan kepada semua perempuan untuk tetap kuat dan bertahan di segala situasi. "Perempuan diberi kemampuan yang berkali-kali lipat lebih banyak dibanding laki-laki. Perempuan bisa mengurus rumah, anak, dan suami. Jadi perempuan sudah berdaya dengan tubuhnya sendiri, hanya tinggal bagaimana caranya kita memanfaatkan itu. Jangan pernah kalah dengan situasi baik itu masalah, overthinking, atau insecurity. Justru itu yang bisa menjadi kendaraan kita untuk tetap bisa maju."

Penulis: Hilda Irach