Saat Berada di Titik Terendah, Ingatlah bahwa Berdoa Bisa Menguatkan

Endah Wijayanti diperbarui 23 Apr 2021, 13:35 WIB

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Lathifah Iffah

Bulan Ramadan menjadi bulan yang dinanti seluruh umat Islam, di dalamnya banyak pahala, kebaikan, keberkahan dan yang tentunya kenangan. Bulan Ramadan adalah masa-masa yang sangat dirindukan terutama saat menghabiskan waktu dengan keluarga, berbuka, sahur, ke masjid bersama keluarga.

Demikian juga dengan Ramadan tahun ini yang saya rasakan sangat berbeda. Ramadan tahun ini, kedua orangtua saya dalam kondisi kurang sehat. Bisa dimaklumi karena usia bapak sudah melewati 70 tahun. Kami tinggal di kota yang berbeda. Dan beberapa hari sebelum Ramadan, ibu mertua ikut dengan kami yang juga dalam terapi pengobatan pasca stroke. Begitulah, saya menjalani Ramadan tahun ini dengan merawat simbah putri dan memikirkan kondisi orangtua yang juga dalam kondisi kurang sehat.

Jika pada Ramadan tahun-tahun sebelumnya kami menghabiskan waktu bersama anak-anak, kadang ngabuburit, antar jemput anak ke pesantren Ramadan, membuat atau membeli menu berbuka suka-suka, atau tahun lalu karena adanya pandemi kami sekeluarga berkumpul di rumah karena suami WFH, tahun ini sangat berbeda. Dalam menu makan misalnya, saya mengutamakan menu untuk simbah, lalu anak-anak, belum lagi mengurus rumah, keperluan suami, belajar daring anak, saya juga tengah menjalani kuliah online, berjualan online dan lain-lain yang sangat menguras waktu dan tenaga. 

Saya semakin menyadari begini rasanya merawat orang tua yang sakit. Butuh kesabaran dan badan yang fit. Di hari-hari pertama puasa, badan sempat drop mungkin karena kelelahan, namun saya segera menyemangati diri sendiri dan minum multivitamin agar badan bugar kembali.

Saat ngedrop, saya merasa lelah luar biasa, berbagai perasaan muncul, antara hopeless, rasa tidak sanggup yang bercampur dengan berbagai pekerjaan yang belum selesai. Ada rasa semacam berada di titik nadir, perasaan tak berdaya, dan rasa kenapa seolah saya stagnan, tidak ada kemajuan. Saya merasa sangat minder dan tidak bisa apa-apa. Ada perasaan tidak percaya diri melihat teman-teman seangkatan yang tampak bahagia dengan karier dan kehidupannya masing-masing.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Senantiasa Melakukan yang Terbaik dan Berserah kepada-Nya

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Hafizussalam

Saya mencari waktu untuk benar-benar menyendiri, benar-benar sendiri, hingga saya menemukan sebuah titik yang membuat saya merasa, iya saya juga bahagia, punya keluarga yang baik dan mencintai, saya juga sudah berusaha melakukan hal yang terbaik sebagai anak, istri, ibu dan menantu. Baik dalam versi saya tentu banyak kekurangan dan tidak ada ujung dari sebuah kebaikan dan kesuksesan. Karena yang terbaik adalah dari Allah, kesempurnaan adalah milik-Nya.

Dalam salah satu postingannya di instagram, Bapak Ridwan Kamil (Gubernur Jabar) menuliskan bahwa yang menghalangi cita-cita kita terkadang adalah diri kita sendiri. Karena sejatinya, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.

Saya memberi waktu untuk diri ini merasa lelah dan istirahat. Ibarat sebuah kurva, setelah turun lalu siap untuk kembali naik lebih tinggi dari sebelumnya. Di tengah panasnya siang hari di Ramadan ini, saya berharap Tuhan mengampuni dosa-dosa kami. Di malam-malam yang penuh bintang, saya berharap Tuhan mengaruniakan banyak kebaikan untuk keluarga kami.

Di saat saya merasa lelah merawat simbah dan anak-anak, saya percaya inilah hal terbaik yang di beri Tuhan untuk saya lakukan saat ini. Saya menghibur diri dengan membaca biografi orang-orang hebat, yang tidak takut lelah dan mengurangi makan serta tidur untuk menuntut ilmu dan melakukan banyak kebaikan selagi masih hidup di dunia.

Saya menyemangati diri dengan banyak bersyukur kedua orang tua masih hidup meski kondisi sakit karena faktor usia. Saya menyemangati diri banyak di luar sana orang yang memiliki banyak potensi sembari tetap mengutamakan keluarga, saya berharap banyak semoga Tuhan mengabulkan doa-doa kami.

Semoga orang tua kami bisa sehat dan menghabiskan usia senja dengan bahagia dan banyak beribadah, dan tentu doa-doa terbaik tak lupa kami mohonkan untuk anak-anak kami serta kehiduan kami di masa-masa mendatang. Ramadan demi Ramadan berlalu dan selalu meninggalkan cerita dan kesan yang tak terlupakan.

#ElevateWomen