7 Tahun Pernikahan, 7 Tahun Merindukan Ramadan di Kampung Halaman

Endah Wijayanti diperbarui 04 Mei 2021, 12:35 WIB

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Nanik Prasasti

Kampung halaman yang kurindukan itu adalah sebuah desa kecil dengan poros jalan masuknya melewati rawa di sebelah kanan dan kiri, pemandanganya tentu syahdu, apalagi saat senja, pantulan cahaya pada air begitu gemerlap membuat mata tidak ingin berpaling. Suasana sore hari yang menyenangkan dan menenangkan. Belum lagi saat angin semilir berhembus, menambah satu kenikmatan senja yang luar biasa di kampung halamanku. Bisa dibayangkan bagaimana teduhnya saat menunggu waktu berbuka di desaku? Syahdu tentunya.

Menulis ini saat Ramadan 2021 dan menjadi Ramadan ketujuh aku melewati suasana sore desaku hanya dalam angan-angan. Mengumpulkan kembali serpihan kenangan masa sebelum kuliah dan menikah, yang memaksaku untuk beranjak dari desa demi menuntut ilmu di kota besar. Kalau dihitung sejak kuliah, sebenarnya lebih dari tujuh tahun, tetapi saat kuliah masih beberapa kali menikmati suasana Ramadan di desa meskipun tidak selama satu bulan penuh. 

Saat menikah di tahun 2014 aku telah melewatkan suasana Ramadan di desaku yang syahdu seperti yang kuceritakan di atas untuk mengikuti suami ke kotanya. Iya, suasana desa yang senyap seketika berubah menjadi suasana kota yang hingar-bingar. Pekerjaan suami sejak awal memang ada di kota asalnya dan setahun kemudian disusul dengan aku yang mendapatkan pekerjaan di sana pula. Akibatnya, pulang kampung menjadi hal yang langka bagiku, apalagi ibu mertua selalu menginginkan anak-anaknya untuk menghabiskan lebaran hari pertama di rumahnya dulu, jadi selama 7 tahun aku merindukan suasana Ramadan di desaku, bahkan sangat rindu.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Rindu dengan Suasana Syahdu Kampung Halaman

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Kdonmuang

Desaku yang cukup berjarak dari kota membuat suasananya sangat hening dan tenang. Setiap selesai sahur, biasanya masih banyak anak yang melakukan jalan pagi, sehingga riuh saat pagi hari oleh keceriaan anak masih nampak jelas. Suara tadarus mereka sebelum azan Zuhur dilanjutkan saat sore setelah salat Asar membuat suasana desa menjadi lebih terasa ramadannya.

Menjelang berbuka puasa, senja di rawa menjadi pilihan yang tepat, tidak perlu ke pasar takjil atau ngabuburit jauh ke kota, cukup dengan menghabiskan waktu di tepi rawa melihat matahari senja hilang perlahan sudah menjadi hal yang membahagiakan, sederhana namun berkesan itulah senja di desaku.

Beberapa saat sebelum azan magrib berkumandang, gerombolan anak, remaja dan bapak-bapak di tepi rawa bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan senja yang perlahan lenyap oleh malam.

Langit di desaku saat Ramadan memang lebih teduh, lebih sejuk dan lebih nyaman dipandang. Begitupun saat malam hari, saat Ramadan entah kenapa bintang dan bulan juga terlihat lebih jelas, sehingga saat berangkat ke musala atau masjid untuk tadarus, seolah langit mengiringi dengan indahnya.

Di desa ada 1 masjid utama dan 3 musala yang cukup besar, terserah pilih salat dan tadarus di mana pun boleh, semua orangnya ramah menerima karena memang saling mengenal antara satu dengan yang lainnya. Dengan adanya 4 masjid atau musala, membuat malam Eamadan semakin hidup dengan ayat-ayat-Nya. Menyenangkan, bukan?

Belum lagi saat sahur, anak-anak membangunkan dengan mengetuk kentongan yang berirama, mana ada di kota hal seperti itu, mungkin memang ada tapi sudah sangat jarang ditemui kebersamaan dan semangat yang demikian.

Itulah suasana Ramadan di desaku yang sangat kurindukan selama ini, bahkan tahun ini pun aku belum bisa menikmati suasana Ramadan di desa karena tuntutan pekerjaan suami yang cukup padat. Salam rindu untuk langit senja saat Ramadan di desaku.

#ElevateWomen