Saat Semua Persiapan Pernikahan Diatur Keluarga Calon Suami, Ini yang Kurasakan

Endah Wijayanti diperbarui 14 Jul 2021, 08:28 WIB

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh:  Vanessa Lontoh

Pernikahanku dan suamiku berlangsung sekitar tiga tahun yang lalu sejak tulisan ini aku buat. Menyenangkan, super bahagia saat kita tahu pada akhirnya kami akan menikah setelah delapan tahun berpacaran. Kalau juga bukan karena desakan dari orang tua suamiku untuk menikahkan kami berdua, entah kapan kita bisa menikah karena tabungan belum cukup sama sekali.

Bersyukurnya, orang tua kami berdua sudah sangat menyetujui hubungan kami sejak awal. Ditambah ayah dari suamiku baru akan pensiun saat itu, jadi beliau sangat ingin mengadakan pernikahan untuk anaknya, agar masih bisa mengundang orang-orang di tempat beliau bekerja. Dibilang terburu-buru sih, tidak. Tapi persiapan kami memang kurang dari setahun.

Awalnya agak ragu, karena kami pribadi berdua belum ada dana yang cukup. Terutama untuk aku sendiri, yang dimana baru mulai bekerja dan belum punya banyak tabungan. Sempat gusar, karena orang tuaku pun belum bisa bantu dana untuk menikah.

Akan tetapi, semacam mukjizat, kedua orang tua suamiku menyanggupi untuk semua biaya pernikahan mereka yang siapkan. Ada rasa tidak enak, ada rasa malu. Tapi suamiku bilang saat itu tidak apa-apa, "Yang penting kita buktikan kalau kita cukup dewasa untuk membina rumah tangga setelah menikah."

2 dari 2 halaman

Semua Diatur oleh Keluarga dari Pihak Calon Suami

Ilustrasi/copyright shutterstock/Prostock-studio

Persiapan kami cukup dramatis. Rasa ingin dilibatkan dari persiapan pernikahan sendiri, pasti ada. Tapi apa daya, karena semua biaya dari orang tua suamiku, jadi semua sudah diatur pihak keluarga suami.

Aku dan keluarga tinggal "duduk manis" saja. Sempat terbesit, "Batalkan saja kah?" tapi terlintas lagi bagaimana perasaan keluarga suamiku yang sudah begitu baik selama ini? Pasti mereka akan kecewa.

Aku pun harus menjembatani beberapa hal dalam persiapan pernikahan kepada kedua orangtuaku yang juga tidak dilibatkan dalam persiapannya. Harus super kuat dalam meyakinkan mereka, walaupun ada rasa sedih, sedikit.

Bersyukurnya semua sudah dilewati dan pernikahan kami saat itu berjalan dengan lancar. Semua keluarga turut merasakan kebahagiaan. Dan yang paling penting kami berdua juga sangat bahagia saat itu dan sampai sekarang dengan dua anak kami yang lucu-lucu. Tidak ada penyesalan atau rasa pahit. Semua manis sampai hari ini.

#ElevateWomen