Berkat Menyisihkan Uang Saku dengan Rutin Akhirnya Impianku Terwujud

Endah Wijayanti diperbarui 27 Sep 2021, 11:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

Oleh: Novita Nur Azizah

Aku adalah anak tunggal yang jauh dari kata mewah dan serba keturutan. Aku terlahir dari keluarga yang secara ekonomi serba kekurangan. Seringkali hatiku iri melihat teman-temanku bisa beli ini itu, sedangkan aku yang pengen sesuatu harus memecah celenganku terlebih dahulu. Ketika aku umur 3 tahunan mainanku tidak sebanyak yang dimiliki teman-temanku, sehingga kerap kali aku meminjam milik mereka dan merengek kepada ibuku agar dibelikan.

Ibuku yang tidak memiliki uang untuk menuruti keinginanku sering bilang “besok yaaa kita jalan-jalan lihat-lihat dulu” meskipun ucapan itu tidak serta merta menuruti keinginanku, aku yang belum mengetahui kondisi ekonomi keluarga sering marah dan nangis seharian. Namun ibuku selalu memiliki ide cemerlang entah aku diajak main ke sungai, sawah, atau sekadar jalan-jalan keliling kampung.

Aku ingat waktu sekolah TK dulu, aku tidak pernah diberi uang saku. Tapi aku selalu diberi bekal sekotak nasi dengan lauk seadanya. Saat kenaikan kelas TK, ibuku memberikan tantangan kepadaku, “kalau nilaimu bagus, ibu belikan mainan di bapak itu”. Aku mendengar kalimat itu seketika langsung bersemangat ketika berada di kelas dari pada hari-hari sebelumnya. Semangat yang muncul ini membawaku mendapatkan hadiah yang aku tunggu, dan pada akhirnya aku mendapatkannya juga.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Uang Saku Bertambah Seiring Bertambahnya Usiaku

Ilustrasi/copyright shutterstock/Syda Productions

Ketika aku memasuki Sekolah Dasar, aku mulai diberi uang saku. Saat kelas 1 aku mendapat uang saku 700 rupiah, aku tahu tidak banyak jajanan yang dapat aku beli dengan uang di genggamanku ini. Dan yang aku beli hanyalah permen 3 biji dan permen karet 2 bungkus. Waktu itu aku tidak membawa bekal sehingga perutku melilit kelaparan saat aku mengunyah permen karet secara tidak sadar malah ketelan. Sempat khawatir dengan hal itu namun tidak kudapati kekhawatiranku itu terjadi setelah beberapa hari kemudian.

 Setiap aku naik kelas, uang sakuku bertambah. Saat aku duduk di bangku kelas 4, aku diberi uang saku sebesar 2000 rupiah setiap hari. Karena sering pulang siang sekitar jam 2, aku juga diberi bekal dengan lauk baceman tahu atau tempe. Uang saku yang ibu beri aku masukkan dalam celenganku, harapanku saat besar nanti bisa aku puaskan dengan memecah celengan. Bekal yang aku bawa saat kelas 4 itu tidak berubah lauknya setiap hari, hanya itu-itu aja sehingga aku sering diledek dengan makan baceman sandal.

Bukan itu aja, botol minum yang sering aku bawa adalah botol air mineral bekas karena ibuku tidak mau membelikan aku sebuah botol minum dengan alasan menghemat uang. Hal itu membuatku juga sering diledek teman sekelas, aku merasa sungguh sedih dan sering malas untuk berangkat ke sekolah.

3 dari 3 halaman

Semangat Menerapkan Hidup Hemat Ajaran dari Ibu

Ilustrasi/Shutterstock.com/Photo_imagery

Cara hidup hemat yang selalu ibu terapkan dalam keseharian membuatku meniru sikapnya hingga aku SMP. Saat aku SMP keluargaku tidak kekurangan seperti saat aku kecil dulu. Ibuku sudah bekerja di sebuah tenda persewaan untuk membantu bapakku membiayai uang sppku. Uang sakuku sehari adalah 4000 rupiah. Di samping itu aku masih sering bawa bekal untuk menghemat pengeluaran dan untuk menabung. Aku sering menyisihkan 2000 rupiah setiap harinya, memang sama saja sih jajannya dengan saat aku TK karena perjalanan ke sekolah jaraknya tidak begitu jauh sehingga setiap hari aku jalan kaki.

Saat aku jajanpun aku sering ditertawai oleh temanku karena irit banget hanya mengeluarkan 500 rupiah pada setiap penjual, namun tawa yang mereka lontarkan bukanlah ejekan seperti yang dilakukan teman SDku melainkan sebuah hal yang mengherankan. Teman-teman SMPku malah ingin menitipkan uangnya padaku berharap kalau uangnya dipegang aku bisa tambah banyak, padahal itu semua juga tergantung usaha menahan hawa nafsu juga.

Semua Keinginan Mulai Terwujud Satu Persatu

 Ketika aku sudah berada di bangku SMK, aku berkeinginan untuk memiliki sebuah laptop dan ponsel. Perjalanan menuju sekolah sekarang jauh menjadikan aku harus naik angkot setiap hari. Namun uang sakuku melonjak tinggi, ibuku memberi 15.000 rupiah setiap kali aku berangkat. Namun kebutuhan sekolah juga semakin banyak membuatku lebih mengikat nafsu makan, padahal jajanan di SMK jauh lebih menggoda dari tingkat sekolah sebelumnya.

Aku putar otak untuk selama 2 minggu setiap bulannya. Aku tidak akan mengeluarkan uang untuk jajan, dan ideku itu didukung oleh bekal yang selalu aku bawa sehingga  tidak lapar saat di sekolah.

3 tahun berlalu, aku menginjak kelas 3 semester 2 akhirnya kedua hal yang selama itu aku impikan bisa aku wujudkan. Dengan memecah celenganku dengan ditambah uang tabungan yang tersisih selama aku SD dan SMP. Aku begitu senang mendapat pengalaman yang luar biasa dalam hidup ini, walaupun harus mengalami ejekan. Terima kasih bu telah mengajariku untuk mengelola uang dengan bijak.