Mengenal ADHD, Gangguan Mental yang Pengaruhi Perilaku Hiperaktif dan Impulsif

Fimela Reporter diperbarui 16 Apr 2022, 18:36 WIB

Fimela.com, Jakarta ADHD atau Attention-Deficit Hyperactivity Disorder adalah istilah medis untuk merujuk pada salah satu gangguan mental yang ditandai dengan perilaku hiperaktif dan impulsif. Selain dua perilaku tersebut, pengidap ADHD biasanya memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi dan mempertahankan fokusnya terhadap sesuatu. Hal tersebut yang kemudian membuat pengidap ADHD seringkali dianggap bodoh karena proses penerimaan informasi mereka lebih lambat dan berbeda dengan orang pada umumnya.

Mayoritas pengidap ADHD adalah anak-anak, tetapi gejala yang ditimbulkan bisa bertahan hingga remaja bahkan dewasa. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat memengaruhi seseorang mengidap ADHD:

  • Genetik
  • Lingkungan
  • Kelahiran prematur
  • Penggunaan obat terlarang, alkohol, dan rokok pada ibu hamil
  • Kerusakan atau cedera otak pada masa kehamilan atau usia dini
  • Ketidakseimbangan senyawa otak

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

4 Tanda anak mengidap ADHD

Ilustrasi Pola Asuh Penyandang Autis Credit: pexels.com/pixabay

1. Saat anak memiliki ADHD, mereka sulit berkonsentrasi karena pikirannya terbagi dua. Saat mereka harus menyelesaikan sesuatu, pikiran mereka sudah bercabang ke hal lain sebelum menyelesaikan hal tersebut. Menurut penelitian, pengidap ADHD memiliki kadar dopamine dan norepinephrine yang rendah. Keduanya adalah senyawa otak yang berfungsi menjaga fokus dan perhatian seseorang.

2. Penderita ADHD seringkali melupakan hal-hal yang baru saja atau akan ia lakukan. Hal ini dapat terjadi karena mereka memiliki cara yang berbeda saat memproses informasi. Oleh karena itu, mereka seringkali lupa akan berbagai hal dan sulit mempertahankan ingatan jangka pendek.

3. Anak yang memiliki ADHD biasanya memiliki kecenderungan fokus akan sebuah detail hingga mereka menghabiskan banyak waktu untuk detail tersebut. Saat mereka tertarik akan suatu hal, mereka akan menjadi benar-benar fokus, bahkan hyperfocus, terlebih dengan detail akan hal tersebut. Tak jarang mereka lupa waktu dan orang sekitarnya saat sudah berada dalam fase hyperfocus.

4. Saat anak menjadi sangat emosional akan hal-hal kecil, hal tersebut dapat menjadi salah satu tanda bahwa anak memiliki ADHD. Emosional dalam hal ini tidak hanya merujuk pada emosi yang berapi-api seperti marah, tetapi juga emosi lainnya seperti bahagia dan sedih. Hal tersebut dapat terjadi karena pengidap ADHD pada umumnya secara psikologis sangat sensitif atau hypersensitive. Sehingga seringkali mereka kesulitan dalam mengontrol emosi.

Tetapi, hal yang perlu diingat adalah diagnosa ADHD hanya boleh dilakukan oleh tenaga profesional. Sehingga, jika orang disekitarmu memiliki tanda-tanda diatas, akan lebih baik jika kamu langsung menghubungi tenaga profesional untuk meminta bantuan diagnosa agar mereka mendapatkan penanganan yang benar.

Ditulis oleh: Savitri Anggita Kusuma Wardani