Belum Usai Kasus Hepatitis, Kini WHO Prediksi Kasus Cacar Monyet Semakin Bertambah

Fimela Reporter diperbarui 24 Mei 2022, 19:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Dunia kini tengah dihadapkan dengan kasus baru setelah hepatitis akut yaitu kasus cacar monyet. Hingga saat ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan setidaknya terdapat 92 kasus cacar monyet yang telah terkonfirmasi. Serta, 28 kasus yang dicurigai ada pada 12 negara. Terkait hal ini, WHO memberikan panduan dan rekomendasi lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang untuk negara-negara tentang cara mengurangi penyebaran cacar monyet.

 

Dikutip dari Liputan6.com, Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa penularan dari manusia ke manusia terjadi diantara orang-orang yang melakukan kontak fisik dekat dengan kasus-kasus yang menunjukkan gejala. Cacar monyet merupakan penyakit menular yang bersifat ringan dan biasanya orang yang terinfeksi akan sembuh dalam waktu dua hingga empat minggu tanpa perlu melakukan perawatan rumah sakit. Namun terkadang dalam beberapa kasus, penyakit satu ini dapat menyebabkan kematian.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Para Ahli Melakukan Pertemuan untuk Mempelajari Kasus Cacar Monyet Lebih Lanjut

Ilustrasi gejala cacar monyet yang mirip seperti flu. Credits: pexels.com by Andrea Piacquadio

David yang merupakan spesialis penyakit menular dari WHO mengatakan bahwa Pertemuan tersebut dilakukan untuk mempelajari lebih lanjut soal wabah cacar monyet dan apa yang nantinya akan dikomunikasikan ke publik termasuk juga soal penyebaran tanpa gejala dan orang-orang yang paling beresiko. Kontak dekat adalah jalur penularan utama karena penyakit ini sangat menular. Misalnya, orang tua yang merawat anak-anak sakit itu beresiko, seperti petugas kesehatan. 

 

3 dari 3 halaman

Resiko Penularan

Ilustrasi orang yang memakai masker untuk mencegah virus. Credits: pexels.com by Polina Tankilevitch

Resiko penularan dari cacar monyet sejauh ini ada pada kategori yang rendah. Gejala pada sebagian besar orang dewasa juga relatif ringan. Secara biologis masuk akal bahwa virus tersebut beredar di luar negara-negara endemik. Namun tidak menyebabkan wabah besar bila dilakukan lockdown seperti COVID-19, adanya jaga jarak, dan pembatasan perjalanan. Wabah ini tidak seperti virus COVID-19 yang mudah menular dan para ahli menduga mereka mungkin telah terpapar atau yang menunjukkan gejala ,termasuk ruam bergelombang dan demam dan harus menghindari kontak dekat dengan orang lain.

 

Penulis : Saffa Sabila

#Woman For Woman