Perkembangan Penyakit Kardiovaskular di Indonesia

Fimela Reporter diperbarui 06 Okt 2022, 17:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Data registri nasional terhadap penyakit kardiovaskular, seperti gagal jantung dan penyakit jantung koroner telah menjelaskan sebab tingginya angka kematian penduduk Indonesia. Berdasarkan data dari World Heart Federation, penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian dari 30% penduduk populasi Asia Tenggara.

Menurut data dari sebuah penelitian bernamakan REPORT-HF, penyakit gagal jantung di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh penyakit jantung iskemik, sehingga hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi para tenaga kesehatan.

Walaupun demikian, perlu diketahui bahwa insidensi pelaporan penyakit jantung dan pembuluh darah berbeda di antara pria dan wanita. Hal ini terlihat pada beberapa contoh penyakit jantung dan pembuluh darah seperti penyakit katup jantung, penyakit irama jantung, dan komplikasi jantung akibat infeksi Coronavirus disease-19 (COVID-19).

Permasalahan mengenai rendahnya deteksi penyakit jantung bawaan di Indonesia juga membawa masalah krusial. Sebab, rendahnya deteksi penyakit jantung bawaan akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak, yang secara tidak langsung berdampak terhadap masa depan dari sebuah bangsa dan negara.

Disinilah, di tahun keempatnya simposium Indonesian Congenital Heart Disease (INACHD) yang bergandengan tangan dengan 31st ASMIHA berperan dalam memberikan penyegaran ilmu, serta membahas secara kritis mengenai kardiovaskular, terkait manajemen dari penyakit jantung bawaan, dimulai dari sebab terjadinya penyakit jantung bawaan dari dalam kandungan hingga rencana pemilihan penanganan berupa tindakan operasi ataupun tindakan bukan operasi.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Penyakit Jantung Koroner di Indonesia

Laki-laki lebih besar memiliki potensi terkena serangan jantung. Credits: pexels.com by Karolina Grabowska

Ketua Ilmiah 31st ASMIHA dr. Siska Suridanda Danny, Sp. JP(K) mengatakan bahwa laki-laki lebih besar memiliki potensi terkena serangan jantung. Selain itu, terdapat hal lain yang dapat memicu serangan jantung, seperti perokok, hipertensi, dan diabetes.

Pengobatan yang dapat dilakukan, mulai dari Fibrinolitik yaitu menghancurkan sumbatan gumpalan darah dalam pembuluh koroner dengan menggunakan obat pengencer darah intravena dan Angioplasti Koroner yaitu membuka sumbatan pembuluh koroner dengan menggunakan balon dan stent/ring koroner di laboratorium kateterisasi.

Diagnosa Serangan Jantung Akut dibangun dari tiga komponen

1. Keluhan

  • Nyeri dada berat
  • Dapat disertai sesak nafas, keringat dingin, mual dan muntah, hingga pingsan

2. EKG/ Rekam Jantung

  • Adanya gangguan aktivitas listrik akibat cidera otot jantung
  • ST elevansi/ST depresi/ T inversi

3. Protein Jantung

  • Terdeteksi protein sel jantung di dalam darah
  • Cardiac troponins, CK/CK-MB

Adapun tantangan penanganan serangan jantung di Indonesia, antara lain:

  • Pasien datang ke RS relatif terlambat (periode emas <12 jam)
  • Pengetahuan terbatas mengenai gejala dan tanda serangan jantung
  • Ketersediaan obat jantung yang tidak merata di seluruh Indonesia
  • Penyebaran fasilitas kateterisasi jantung terpusat di kota besar
  • Kurangnya kesadaran untuk memiliki asuransi kesehatan aktif
3 dari 5 halaman

Penyakit Jantung Bawaan

kelainan struktur jantung yang ditemukan sejak lahir. Credits: pexels.com by CDC

dr. Oktavia Lilyasari, Sp.JP(K) selaku Ketua Panitia 31st ASMIHA menjelaskan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kelainan struktur jantung yang ditemukan sejak lahir akibat gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin. Insiden ini dapat terjadi mulai dari 8-10/1000 kelahiran hidup, 30% ditemukan pada bulan pertama kehidupan dan 50% meninggal pada bulan pertama kehidupan.

Kondisi terkait Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di Indonesia. PJB berkontribusi pada angka kematian bayi yang tinggi di Indonesia. Sebanyak 80 ribu bayi lahir dengan PJB per tahun di Indonesia. 1 dari 4 bayi tersebut dengan PJB kritis yang memerlukan intervensi segera. Dan peningkatan angka rujukan nenoatus dengan PJB kritis ke RS Jantung dan Pembuluh darah sebagai pusat rujukan nasional PJB di Indonesia.

Beberapa faktor yang menyebabkan PJB pada bayi adalah gen, riwayat keluarga dengan PJB, Sindroma, Rubella, CMV, Toxoplasma, diabetes melitus, penggunaan obat-obatan, alkohol, dan merokok.

4 dari 5 halaman

Skrining Premarital

berguna untuk mengidentifikasi dan memodifikasi yang dapat mempengaruhi hasil kehamilan. Credits: pexels.com by Alex Green

Program skrining premarital dan konseling genetik dapat mengidentifikasi dan memodifikasi, melalui pencegahan dan manajemen, beberapa kebiasaan, medis, dan faktor risiko lainnya yang dapat mempengaruhi hasil kehamilan. Melibatkan promosi kesehatan dan kesehatan wanita serta pasangannya sebelum terjadinya sebuah kehamilan merupakan pencegahan primer dan merupakan langkah yang penting dalam membentuk masyarakat yang sehat.

Skrining bayi baru lahir untuk PJB kritis dilakukan dengan pulse oxymetri. Skrining dilakukan ketika bayi berusia minimal 24 jam atau setelat mungkin sebelum bayi dipulangkan jika diukur sebelum berusia 24 jam. Sensitivitas 78% spesifisitas 99.7 %.

Beberapa PJB dapat dikenali saat masih dalam kandungan, atau segera setelah lahir. Tetapi sebagian lainnya kadang tidak diketahui sampai anak menjadi besar atau bahkan pada sebagian kasus, saat usia dewasa.

Deteksi dini PJB melalui:

  • Gejala
  • Pemeriksaan fisik → kadar oksigen, bising jantung, Pemeriksaan penunjang → rekam listrik jantung (EKG), rontgen dada, dan ultrasonografi jantung (ekokardiografi)
  • Pemeriksaan penunjang lanjut: Kateterisasi jantung, MSCT, MRI kardiak.

 

5 dari 5 halaman

Gejala Penyakit Jantung Bawaan (PJB)

beberapa gejala PJB pada buah hati. Credits: unsplash.com by Aditya Romansa

1. Bayi Baru Lahir

  • Sulit menyusu
  • Gangguan tumbuh kembang
  • Biru
  • Nafas cepat
  • Keringat dingin

2. Anak

  • Sulit menyusu
  • Gangguan tumbuh kembang
  • Biru
  • Infeksi saluran nafas berulang
  • Keterbatasan aktivitas

3. Remaja

  • Sesak nafas
  • Mudah lelah
  • Sakit dada
  • Berdebar
  • Pingsan
  • Bengkak

Perkembangan tatalaksana PJB akan mengurangi morbiditas dan mortalitas pasien dengan PJB. Teknik Intervensi non bedah menjadi salah satu pilihan dalam tatalaksana PJB. Hal ini dikarenakan tidak ada atau dengan scar minimal, menurunkan morbiditas dan mortalitas, cost lebih rendah daripada tindakan bedah, lama perawatan lebih singkat.

 

*Penulis: Sri Widyastuti

#Women For Women