5 Tipe Orangtua Toxic, Jangan Sampai jadi Salah Satunya

Fimela Reporter diperbarui 29 Des 2022, 09:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Pada umumnya orangtua sangat menyayangi anak-anaknya. Mereka rela berkorban apapun demi kebahagiaan sang anak. Namun tidak semua orang mampu menjadi orangtua yang baik untuk anak-anaknya. Bahkan belakangan ini ramai disebut istilah ‘toxic parent’.

Seperti namanya, toxic parent adalah orangtua beracun dengan pola asuh yang dapat memberikan dampak buruk terhadap anaknya, terutama pada kondisi psikis anak. Toxic parent membuat anak menjadi kurang percaya diri, stres, dan merasa takut dan tidak nyaman berada di dekat orangtuanya. Toxic parent sendiri terbagi menjadi beberapa tipe. Apa sajakah itu? Yuk, simak penjelasan berikut ini

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

1. Tiger Parent

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/oduaimages

Dilansir dari laman verywellmind tipe tiger parent adalah tipe orangtua yang umumnya selalu berusaha untuk mendominasi dan mengontrol anaknya secara ekstrem agar berhasil di kehidupanya, khususnya di lingkup akedemiknya. Tiger parent cenderung sangat perfeksionis kepada anaknya. Mereka menuntut anaknya untuk menjadi seperti apa yang mereka mau tanpa memberikan anaknya ruang untuk bebas memilih apa yang mereka inginkan. Dampak dari pola asuh tiger parent menyebabkan anak takut untuk menjadi dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan diri yang rendah.

3 dari 6 halaman

2. Helicopter Parent

Ilustrasi/copyrightshutterstock/calcassa

Dilansir dari laman verywellfamily tipe helicopter parent adalah tipe orang tua yang memiliki pola asuh yang terlalu protektif pada anak. Tipe orang tua toxic ini akan mengobservasi segala aktivitas anak, mulai dari aktivitas harian yang cenderung sepele hingga hal-hal besar yang bersangkutan dengan sang anak.

Tipe helicopter parent biasanya berawal dari niat baik orangtua yang ingin memperhatikan anaknya namun tanpa sadar menjadi berlebihan. Dampak dari pola asuh helicopter parent ini membuat anak tidak memiliki batasan privasi. Selain itu pola asuh ini membuat para orang tua tidak memahami kebutuhan anak dari perspektif anak.  Anak sering dibuatkan keputusan oleh orangtuanya sehingga ia akan kesulitan untuk berpikir dan membuat keputusan sendiri.

4 dari 6 halaman

3. Dismissive Parent

ilustrasi anak sedih /MaeManee/Shutterstock

Dismissive parent adalah tipe orangtua yang memiliki pola perilaku dan sikap yang menandakan penolakan terhadap anak. Orangtua toxic dengan tipe ini seringkali menganggap anaknya sebagai beban. Bahkan beberapa orang tua dengan tipe ini merendahkan dan menghina anak mereka sendiri. Dalam beberapa kasus, dismissive parent bahkan sampai mengeluarkan kata-kata yang melukai anak seperti “buat apa kamu lahir?” atau “kamu hanya buat orangtua susah saja”. Hal ini akan melukai batin anak dan mempengaruhi mental anak. Anak jadi merasa minder dengan dirinya sendiri.

5 dari 6 halaman

4. Explosive Parent

Ilustrasi/copyright shutterstock.com/PR Image Factory

Explosive parent adalah tipe orangtua yang hypersensitive terhadap keadaan. Orang tua dengan tipe ini sangat mudah marah, emosi, dan menangis. Umumnya, tipe orangtua toxic ini melakukan tindakan mereka secara tidak sengaja. Mereka cendrung tidak bisa mengontrol emosi mereka. Hal ini akan mengakibatkan sang anak jadi takut berbuat salah kepada orangtuanya.

6 dari 6 halaman

5. Narcistic Parent

ilustrasi anak sedih/photo created by freepik - www.freepik.com

Tipe toxic parent yang terakhir adalah narcistic parent. Pola asuh dari orangtua narcistic sangat merusak mental anak. Orangtua toxic tipe ini adalah orangtua yang manipulative dan suka mengontrol anak-anaknya. Orangtua toxic tipe ini akan mempengaruhi anak dan mengendalikannya secara langsung. Orangtua dengan tipe ini merasa khawatir bila anak menjadi mandiri dan independen. Dampak dari pola asuh narcistic parent membuat sang anak menjadi tertutup dengan dunia luar 

Nah, itulah beberapa tipe-tipe toxic parent. Semoga informasi mengenai tipe-tipe toxic parent ini dapat bermanfaat untukmu serta menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

 

Penulis: Diah Ayu V.