Jangan Sampai Salah Langkah! Batasan Penting dalam Interaksi Kerja

Nazwa Putri KurniawanDiterbitkan 17 Januari 2026, 09:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Dalam ranah profesional, cara seseorang menjalin interaksi dengan rekan kerja sering kali menjadi tolok ukur bagaimana ia dipandang, baik secara personal maupun profesional. Bukan hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan, melainkan juga bagaimana menjaga perilaku, cara berbicara, serta sikap sehari-hari di lingkungan kantor.

Berdasarkan sumber dari abbymedcalf.com, batasan dalam interaksi kerja berperan layaknya pagar yang menuntun kita agar tetap berada pada jalur yang benar, sehingga hubungan kerja dapat berjalan harmonis tanpa menimbulkan konflik maupun kesalahpahaman. Tanpa pemahaman mendalam mengenai batasan ini, seseorang bisa saja terperangkap dalam tindakan atau sikap yang merugikan dirinya sendiri.

Ada banyak contoh ketika reputasi seseorang merosot bukan karena kinerja kerja yang kurang baik, melainkan akibat perilaku yang dinilai melampaui batas. Contohnya, bercanda secara berlebihan. Hal-hal seperti ini, walaupun terlihat sederhana, mampu menimbulkan dampak serius dalam jangka panjang, seperti menurunnya kepercayaan, hilangnya rasa hormat, hingga terganggunya keharmonisan tim.

Inilah alasan mengapa memahami batasan mutlak diperlukan agar setiap interaksi tetap terjaga profesionalismenya, terasa nyaman, sekaligus produktif.

Menegakkan profesionalisme bukan berarti harus bersikap kaku atau menjaga jarak terlalu jauh. Sebaliknya, dengan memahami batasan, kita dapat membangun suasana kerja yang lebih sehat sekaligus dipenuhi rasa saling menghormati. Interaksi yang seimbang akan membuat rekan kerja merasa dihargai, serta mencerminkan kedewasaan dalam bersikap.

Dengan demikian, tidak hanya kinerja yang meningkat, melainkan juga tercipta iklim kerja yang positif dan kondusif. Inilah sebabnya mengenali batasan dalam interaksi kerja menjadi langkah penting yang sama sekali tidak boleh diabaikan.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Membawa masalah pribadi secara berlebihan ke kantor

Curhat terus-menerus atau membiarkan emosi pribadi mengganggu pekerjaan. (Foto: Christin Hume/Unsplash)

Membawa terlalu banyak masalah pribadi ke tempat kerja dapat berdampak negatif pada konsentrasi dan kinerja, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Saat emosi pribadi ikut terbawa ke lingkungan profesional, suasana kerja bisa menjadi kurang nyaman dan bahkan melemahkan motivasi tim.

Sesekali berbagi cerita masih bisa dimaklumi, namun jika dilakukan terus-menerus, hal ini dapat dinilai tidak profesional. Menjaga pemisahan yang sehat antara urusan pribadi dan pekerjaan menjadi langkah penting agar performa tetap terjaga dan hubungan di kantor tetap harmonis.

3 dari 5 halaman

Bercanda yang tidak pantas

Mengeluarkan humor yang menyinggung SARA, fisik, atau kehidupan pribadi rekan kerja. (Foto: Christina/Unsplash)

Humor memang dapat membuat suasana kerja lebih hangat, namun jika dilakukan berlebihan atau menyentuh topik sensitif, hal itu bisa dianggap melewati batas. Lelucon yang menyinggung penampilan, asal-usul, maupun kehidupan pribadi rekan kerja berisiko menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan memicu konflik.

Perilaku seperti ini bukan hanya merusak hubungan, tetapi juga mencoreng citra profesional. Karena itu, menjaga humor agar tetap wajar sekaligus menghormati batas kenyamanan orang lain sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif dan saling menghargai.

4 dari 5 halaman

Menggosip dan menyebarkan rumor

Sebaiknya hindari menyebarkan informasi yang tidak jelas kebenarannya baik tentang pekerjaan maupun rekan kerja (Foto: Dylan Gillis/Unsplash)

Kebiasaan bergosip dan menyebarkan rumor di kantor dapat meruntuhkan rasa percaya serta mengurangi sikap saling menghargai antar rekan kerja. Perilaku ini kerap memicu kesalahpahaman, menciptakan atmosfer yang kurang nyaman, hingga berdampak pada menurunnya kinerja tim.

Lebih dari itu, pelaku gosip juga berisiko kehilangan reputasi karena dipandang tidak profesional dan sulit dipercaya. Untuk membangun lingkungan kerja yang kondusif, sebaiknya utamakan komunikasi yang jujur, terbuka, dan membawa energi positif daripada terlibat dalam obrolan yang tidak bermanfaat. 

5 dari 5 halaman

Mengabaikan etika komunikasi

Berbicara dengan nada kasar, meremehkan, atau tidak sopan dalam rapat maupun percakapan sehari-hari. (Foto: bruce mars/Unsplash)

Mengabaikan etika komunikasi di lingkungan kerja dapat menimbulkan citra tidak profesional sekaligus merusak relasi dengan rekan maupun atasan. Ucapan bernada kasar, kebiasaan menyela, atau penggunaan bahasa yang merendahkan berpotensi membuat orang lain merasa tidak dihormati.

Padahal, komunikasi yang santun dan jelas merupakan kunci terciptanya kolaborasi yang efektif serta suasana kerja yang kondusif. Dengan menjaga etika dalam berkomunikasi, pesan dapat tersampaikan dengan tepat tanpa menyinggung, sekaligus mencerminkan kedewasaan dan sikap profesional.