Functional Training! Kunci Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Senang Belajar

Nazwa Putri KurniawanDiterbitkan 29 Januari 2026, 09:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Di tengah perkembangan dunia digital, anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan aktivitas yang minim gerak. Kebiasaan ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak pada fokus dan motivasi belajar mereka. Karena itu, orangtua perlu mencari cara kreatif untuk memberikan stimulasi yang bermanfaat sekaligus menyenangkan. Salah satu pendekatan yang bisa menjadi solusi adalah functional training, metode latihan sederhana yang membantu memperkuat tubuh sekaligus mengasah keterampilan motorik anak.

Berbeda dengan olahraga biasa, functional training tidak semata-mata membangun kekuatan otot, tetapi juga melatih keseimbangan, koordinasi, dan konsentrasi. Berdasarkan sumber informasi dari alexandriastylebook.com, gerakannya meniru aktivitas sehari-hari sehingga anak lebih mudah menyesuaikan diri, bergerak lebih lincah, dan merasa percaya diri. Menariknya, latihan ini bisa dikemas dalam bentuk permainan, membuat anak menikmatinya layaknya bermain, bukan berolahraga. Dengan cara ini, proses belajar menjadi lebih ringan, alami, dan menyenangkan.

Manfaat functional training tidak hanya terlihat pada fisik, tetapi juga pada perkembangan mental anak. Tubuh yang lebih sehat dan bugar membuat aliran darah ke otak meningkat, sehingga daya ingat dan konsentrasi ikut membaik. Hasilnya, anak lebih siap menerima pelajaran, lebih tenang menghadapi tugas, serta memiliki sikap positif terhadap kegiatan belajar. Dengan kata lain, functional training membantu membangun rutinitas sehat yang mendukung pertumbuhan anak, baik untuk masa kini maupun masa depannya.

2 dari 5 halaman

Meningkatkan konsentrasi

Gerakan latihan membuat aliran darah ke otak lancar sehingga anak lebih fokus saat belajar. (Foto: Gilmanshin/Pixabay)

Functional training bukan sekadar menjaga kebugaran fisik, tetapi juga memiliki peran besar dalam melatih konsentrasi anak. Setiap gerakan yang menuntut koordinasi tubuh dan perhatian pada instruksi membuat anak terbiasa fokus penuh terhadap aktivitas yang dijalani. Latihan ini turut memperlancar aliran darah serta pasokan oksigen ke otak, sehingga kemampuan berpikir menjadi lebih optimal dan anak lebih mudah berkonsentrasi saat belajar. Jika dilakukan secara rutin, kebiasaan ini akan membentuk daya fokus yang lebih tahan lama. Dengan demikian, functional training tidak hanya memperkuat tubuh, tetapi juga mempersiapkan anak untuk belajar dengan lebih tenang, terarah, dan menyenangkan.

3 dari 5 halaman

Membangun disiplin dan kebiasaan positif

Anak terbiasa mengikuti pola latihan sederhana, yang bisa terbawa ke rutinitas belajar. (Foto: Pezibear/Pixabay )

Tidak hanya memberi manfaat fisik, tetapi juga membantu anak membangun disiplin dan kebiasaan positif sejak dini. Setiap sesi latihan menuntut anak untuk mengikuti pola gerakan secara teratur, mematuhi instruksi, serta menyelesaikan aktivitas hingga tuntas. Proses ini secara tidak langsung melatih mereka untuk lebih konsisten, tekun, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. Ketika disiplin sudah terbentuk melalui latihan sederhana, anak akan lebih mudah menerapkannya pada rutinitas lain, termasuk belajar. Kebiasaan positif seperti menghargai proses, fokus pada tujuan, dan tidak mudah menyerah pun tumbuh secara alami, menjadikan functional training sebagai sarana efektif untuk mendukung perkembangan karakter sekaligus prestasi anak.

4 dari 5 halaman

Meningkatkan rasa percaya diri

Berhasil menyelesaikan gerakan membuat anak merasa mampu, sehingga lebih berani menghadapi tantangan akademik. (Foto: Pexels/Pixabay)

Functional training bisa menjadi cara efektif untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Dalam setiap sesi yang dipenuhi tantangan sekaligus keseruan, anak berlatih menguasai gerakan demi gerakan hingga akhirnya mampu menyelesaikan aktivitas dengan baik. Pencapaian kecil yang mereka raih menghadirkan pengalaman positif serta rasa bangga atas kemampuan diri. Dari sinilah tumbuh keyakinan bahwa mereka mampu menghadapi berbagai tantangan, baik dalam latihan maupun dalam proses belajar sehari-hari. Saat rasa percaya diri semakin kuat, anak menjadi lebih berani mencoba hal baru, aktif berpartisipasi, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Dengan demikian, functional training bukan hanya membentuk tubuh yang sehat, tetapi juga menanamkan pondasi mental yang kuat, optimis, dan siap menghadapi masa depan.

5 dari 5 halaman

Belajar jadi menyenangkan

Functional training bisa dikemas dalam bentuk permainan, sehingga anak mengaitkan aktivitas fisik dengan rasa gembira, dan efek positif ini menular ke kegiatan belajar. (Foto: MiguelRPerez/Pixabay)

Functional training mampu membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan karena setiap aktivitas disajikan dalam bentuk permainan. Anak diajak bergerak dengan gerakan sederhana yang meniru aktivitas sehari-hari, sehingga mereka tidak merasa sedang berolahraga, melainkan menikmati permainan yang edukatif. Cara ini membantu anak lebih rileks, penuh semangat, dan terhindar dari rasa jenuh yang biasanya muncul dalam metode belajar konvensional. Dengan tubuh yang aktif bergerak, energi tersalurkan dengan baik, pikiran menjadi segar, dan anak lebih siap menyerap pelajaran baru dengan perasaan gembira. Alhasil, functional training tidak hanya menyehatkan fisik, tetapi juga menjadikan belajar sebagai pengalaman positif yang selalu dinantikan.