Fimela.com, Jakarta - Momen ketika anak belajar mencoba hal baru, menghadapi rasa takut, atau berlatih keterampilan kecil adalah saat yang paling tepat bagi orangtua untuk menanamkan rasa percaya diri. Pada tahap tumbuh kembang, anak sangat sensitif terhadap kata-kata yang mereka dengar. Afirmasi positif yang terdengar sederhana ternyata dapat membantu membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan menilai kemampuan mereka.
Selain itu, dukungan verbal dari orangtua bukan hanya membuat anak lebih percaya diri, tetapi juga membantu mereka memiliki growth mindset, yaitu pola pikir yang membuat mereka berani mencoba, tidak takut salah, dan memahami bahwa usaha adalah bagian penting dari proses belajar. Dengan begitu, anak tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan, baik di sekolah maupun dalam interaksi sosial.
Tak berhenti di situ, hubungan emosional juga terbangun lebih kuat ketika anak merasa didengarkan dan diapresiasi. Dilansir dari Motherly, frasa-frasa positif yang diucapkan secara konsisten dapat memperkuat kepercayaan diri anak dan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh serta percaya diri. Berikut daftar kalimat pilihan yang dapat kamu gunakan sehari-hari.
1. Kamu mampu
Kalimat ini membantu anak menyadari bahwa kemampuan mereka tidak terbatas pada apa yang sudah pernah dilakukan. Mereka punya potensi besar yang bisa berkembang ketika mereka berani mencoba. Ketika orangtua melihat potensi itu, anak menjadi lebih yakin mengambil langkah baru tanpa takut gagal.
Contoh: “Kamu mampu kok menyelesaikan tugas ini perlahan.”
2. Tadi kamu berani sekali
Mengapresiasi keberanian membuat anak memahami bahwa keberanian tidak harus terlihat besar. Keberanian seperti mencoba makanan baru, berbicara pada orang baru, atau mencoba permainan baru juga layak diapresiasi. Itu akan membuat mereka bangga pada diri sendiri.
Contoh: “Tadi kamu berani banget menyapa teman baru di taman.”
3. Kamu pasti bisa melakukannya
Kalimat ini bertindak sebagai dorongan mental yang membantu anak melawan keraguan diri. Ketika mereka ragu atau takut gagal, ucapan ini memberi mereka dorongan ekstra untuk mencoba.
Contoh: “Kamu pasti bisa membaca halaman ini sendiri, coba pelan-pelan.”
4. Ibu/Ayah percaya sama kamu
Kepercayaan dari orangtua adalah bahan bakar besar untuk membangun kepercayaan diri. Anak merasa dihargai dan dianggap mampu membuat pilihan yang baik. Ini juga mendorong mereka belajar bertanggung jawab.
Contoh: “Ayah/Ibu percaya kamu bisa memilih permainan yang kamu suka hari ini.”
5. Kamu bisa menghadapi hal yang sulit
Anak perlu memahami bahwa tantangan adalah bagian alami dari hidup. Kalimat ini membuat mereka merasa bahwa kesulitan bukan akhir, tetapi sesuatu yang bisa ditaklukkan dengan usaha dan ketekunan.
Contoh: “Aku tahu ini sulit, tapi kamu bisa menghadapi hal sulit seperti ini.”
6. Apa pun hasilnya, Ibu/Ayah tetap sayang
Cinta tanpa syarat membantu anak tidak menghubungkan nilai dirinya dengan hasil. Mereka jadi lebih berani mencoba tanpa takut membuat orangtua kecewa.
Contoh: “Menang maupun kalah, Ibu tetap sayang sama kamu.”
7. Yuk kita coba bareng
Kalimat ini memberikan dukungan emosional. Anak tidak merasa sendirian saat menghadapi sesuatu yang membingungkan atau menakutkan. Ini juga mengajarkan bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan.
Contoh: “Kalau kamu bingung, yuk kita coba bareng dari langkah pertama.”
8. Kok kamu bisa melakukan itu
Pertanyaan reflektif ini membantu anak menyadari proses yang mereka lakukan sampai berhasil. Mereka belajar mengenali kemampuan dan bangga akan kerja keras mereka sendiri.
Contoh: “Kok kamu bisa bikin bangunan Lego setinggi itu? Ceritain dong.”
9. Ceritain lagi dong, kedengarannya seru
Ketertarikan orangtua terhadap cerita anak membuat mereka merasa dihargai dan didengarkan. Kualitas komunikasi keluarga juga meningkat sehingga anak lebih terbuka di masa depan.
Contoh: “Coba ceritain lagi deh soal kegiatan di sekolah, Ibu pengen tahu.”
10. Ada yang bisa Ibu/Ayah bantu
Pertanyaan ini menegaskan bahwa dukungan selalu ada tanpa menggurui. Anak belajar untuk mengatur kebutuhan mereka sendiri dan meminta bantuan secara sehat.
Contoh: “Kalau kamu kesulitan menggambar, ada yang bisa Ayah bantu?”
11. Coba lakukan sebaik yang kamu bisa
Mengajarkan prinsip bahwa usaha lebih penting daripada hasil membuat anak fokus pada proses. Ini membentuk sikap gigih dan tidak mudah menyerah.
Contoh: “Coba lakukan sebaik yang kamu bisa, nanti hasilnya kita lihat sama-sama.”
12. Ibu/Ayah tahu ini sulit, tapi kamu pernah berhasil sebelumnya
Kalimat ini menghubungkan keberhasilan masa lalu dengan tantangan baru, sehingga anak merasa lebih percaya diri. Mereka jadi tahu bahwa mereka mampu melewati hal sulit lebih dari sekali.
Contoh: “Dulu kamu juga takut naik sepeda, tapi kamu berhasil. Kamu pasti bisa menghadapi ini juga.”
Penulis: Siti Nur Arisha