Kenali Arti di Balik Jawaban Ketus Anak dan Cara Efektif Mengatasinya

Siti Nur ArishaDiterbitkan 08 Oktober 2026, 16:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ketika anak mulai merespons dengan nada tinggi, jawab seperlunya, atau bahkan terkesan tidak sopan, orang tua biasanya langsung merasa kesal atau tersinggung. Padahal, jawaban ketus sering kali bukan sekadar bentuk pembangkangan. Ada proses perkembangan, emosi, dan kebutuhan anak yang sedang berusaha mereka ungkapkan, meskipun caranya belum tepat. Memahami hal ini menjadi langkah penting untuk membangun komunikasi yang lebih hangat dan efektif dalam keluarga.

Pada usia 9—18 tahun, anak mengalami perubahan besar dalam aspek perkembangan otak, emosi, hingga kebutuhan untuk menunjukkan identitas diri. Mereka sedang belajar mengekspresikan pendapat, memahami perbedaan pandangan, sekaligus mencari ruang untuk mandiri. Karena itu, wajar jika terkadang muncul sikap seperti mengangkat bahu, menjawab singkat, atau menunjukkan ekspresi malas menanggapi. Dalam banyak kasus, jawaban ketus ini hanyalah cara mereka menguji batas, mencari ruang privasi, atau meluapkan emosi yang belum stabil.

Dilansir dari The Raising Children, perilaku ketus ataupun tidak menghargai pada remaja termasuk fase normal yang biasanya akan berlalu. Mereka masih menghargai waktu untuk berbicara dan terhubung dengan orang tua, meski sering terlihat moody, cepat tersinggung, atau berubah-ubah. Dengan pendekatan yang tepat, hubungan dengan anak justru bisa semakin kuat di tengah proses mereka menuju kemandirian.

2 dari 3 halaman

Mengapa Anak Memberi Jawaban Ketus?

Seiring pertumbuhan, anak mulai membentuk ide, pendapat, serta nilai-nilai mereka sendiri. Mereka perlu ruang untuk mengekspresikan ini, sehingga terkadang muncul perbedaan pandangan yang membuat mereka terlihat membantah. (foto/dok: freepik/8photo)

1. Sedang Mengembangkan Kemandirian

Seiring pertumbuhan, anak mulai membentuk ide, pendapat, serta nilai-nilai mereka sendiri. Mereka perlu ruang untuk mengekspresikan ini, sehingga terkadang muncul perbedaan pandangan yang membuat mereka terlihat membantah. Ini sebenarnya tanda positif bahwa anak sedang belajar bertanggung jawab atas dirinya.

2. Perkembangan Otak Remaja

Perubahan besar pada otak remaja membuat mereka lebih sensitif, mudah marah, atau cepat tersinggung. Emosi yang naik turun inilah yang sering memicu jawaban pendek dan ketus, bahkan dalam situasi yang seharusnya biasa saja. Pada fase ini, kemampuan mereka memahami perspektif orang lain juga masih berkembang.

3. Pengaruh Pertemanan dan Lingkungan

Anak bisa meniru perilaku teman atau orang-orang yang mereka kagumi. Jika mereka melihat perilaku ketus dianggap “keren” atau diterima dalam lingkungannya, mereka bisa menirunya di rumah. Selain itu, rasa cemas, stres, atau tekanan sekolah juga bisa memengaruhi sikap mereka.

4. Mencari Ruang Privasi

Ketika merasa terlalu diawasi atau ditanyai, anak bisa memberi respons ketus sebagai sinyal bahwa mereka membutuhkan lebih banyak ruang untuk diri sendiri.

Cara Efektif Menghadapi Jawaban Ketus Anak

1. Tetap Tenang Ketika Mereka Menjawab dengan Nada Tinggi

Menghadapi jawaban ketus dengan emosi hanya akan memperbesar konflik. Tarik napas dalam-dalam, tahan diri untuk tidak membalas dengan nada yang sama, dan lanjutkan pembicaraan secara tenang. Sikap ini membantu meredakan situasi dan mengajarkan anak cara berkomunikasi yang lebih baik.

2. Gunakan Humor Ringan

Kadang, humor yang tepat bisa mencairkan suasana tegang. Senyum kecil atau candaan ringan dapat membuat anak sadar bahwa mereka sedang berlebihan. Namun, hindari humor yang merendahkan atau bersifat sarkasme.

3. Abaikan Bahasa Tubuh Ketus Selama Anak Masih Mau Bicara

Mata melotot, bahu terangkat, atau wajah bosan adalah bagian dari fase remaja. Selama anak masih bersedia berdialog, fokuslah pada isi pembicaraan, bukan gesturnya.

4. Klarifikasi Jika Mereka Tidak Bermaksud Kasar

Terkadang anak tak sadar bahwa jawabannya terdengar ketus. Sahabat Fimela bisa berkata, “Tadi jawabannya terdengar kurang sopan, kamu maksud begitu atau lagi capek?” Pendekatan ini membantu anak untuk lebih sadar cara mereka berkomunikasi.

5. Beri Pujian Ketika Anak Komunikatif

Saat anak menunjukkan sikap tenang, terbuka, atau bisa berdiskusi dengan baik, berikan pujian deskriptif seperti, “Mama senang kamu bisa ngobrol dengan jelas barusan.” Ini memperkuat perilaku positif.

3 dari 3 halaman

Bangun Hubungan yang Lebih Hangat

Jadilah contoh untuk anak karena mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua berbicara sopan, tidak merendahkan, dan bisa mengatur emosi, anak akan lebih mudah meniru. (foto/dok: freepik/fwstudio)

1. Jadilah Contoh

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua berbicara sopan, tidak merendahkan, dan bisa mengatur emosi, anak akan lebih mudah meniru.

2. Libatkan Orang Dewasa Lain Jika Perlu

Jika hubungan sangat tegang, sosok dewasa lain yang dipercaya seperti paman, tante, atau guru bisa membantu meredakan situasi.

3. Kenali Teman dan Lingkungan Anak

Semakin Anda memahami dunia mereka, semakin mudah membangun komunikasi yang akrab dan terbuka.

Aturan dan Konsekuensi yang Sehat

1. Buat Aturan Keluarga yang Jelas

Misalnya, “Di rumah ini kita bicara dengan sopan tanpa saling menghina.” Ajak anak berdiskusi agar mereka merasa dilibatkan.

2. Fokus pada Perilaku, Bukan Kepribadian

Alih-alih berkata, “Kamu kok kasar banget?”, lebih baik gunakan kalimat seperti, “Ibu merasa sedih kalau kamu jawab seperti itu.”

3. Terapkan Konsekuensi Sewajarnya

Konsekuensi dapat diberikan untuk perilaku seperti memaki atau membentak, namun jangan terlalu banyak agar tidak membuat anak bingung atau makin memberontak.

Hal yang Sebaiknya Dihindari

1. Berdebat Saat Emosi

Pertengkaran jarang menghasilkan solusi. Jika situasi memanas, ajukan waktu lain untuk bicara ketika keduanya sudah tenang.

2. Bersikap Defensif

Ingatlah bahwa mereka sedang dalam proses belajar menjadi mandiri. Jangan mengambil hati setiap komentar ketus mereka.

3. Menguliahi atau Menyindir

Ceramah panjang atau sindiran pedas hanya membuat anak menutup diri dan enggan mendengarkan.

4. Kebiasaan Mengomel

Ini hanya meningkatkan frustrasi dan akhirnya anak tidak lagi memedulikan perkataan Anda.

Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?

Jika sikap ketus atau kasar anak tidak membaik meski berbagai strategi telah dicoba, ini bisa jadi tanda adanya masalah yang lebih dalam. Waspadai jika anak:

  • Menunjukkan tanda depresi atau kecemasan
  • Menarik diri dari aktivitas dan keluarga
  • Bercanda secara kasar hingga menyakiti
  • Menggunakan kekerasan fisik atau verbal

Saat hal ini terjadi, jangan ragu mencari bantuan profesional seperti konselor sekolah, psikolog, atau dokter. Anda juga bisa berdiskusi sebagai keluarga dan mencari dukungan dari sesama orang tua.

Penulis: Siti Nur Arisha