Kenali 9 Kebiasaan Sejak Kecil yang Membentuk Percaya Diri Anak

Siti Nur ArishaDiterbitkan 11 Maret 2026, 12:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Setiap orangtua tentu ingin melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani mengambil keputusan, dan mampu menghargai dirinya sendiri. Percaya diri bukanlah sifat bawaan semata, melainkan hasil dari proses panjang yang dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari sejak anak masih kecil. Cara orangtua berbicara, memberi contoh, memberikan pujian, hingga merespons kesalahan anak memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana anak memandang dirinya sendiri.

Di masa kanak-kanak, anak sedang membangun konsep diri. Mereka belajar memahami kemampuan, keterbatasan, serta nilai dirinya dari lingkungan terdekat, terutama keluarga. Ketika anak sering mendapatkan dukungan positif, kesempatan untuk mencoba, dan ruang untuk belajar dari kesalahan, kepercayaan diri akan tumbuh secara alami. Sebaliknya, kritik berlebihan atau tuntutan yang tidak realistis bisa membuat anak ragu dan merasa tidak cukup baik.

Dilansir dari Kids Health, ada beberapa cara efektif yang dapat diterapkan sejak dini untuk membantu anak merasa lebih yakin, mandiri, dan berani menghadapi tantangan. Berikut ini rangkuman kebiasaan positif yang bisa mulai Sahabat Fimela terapkan bersama si kecil.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

1. Membiasakan Anak Belajar Melakukan Sesuatu Sendiri

Ketika bertambah besar, keterampilan seperti memakai baju sendiri, membaca, atau belajar bersepeda menjadi kesempatan emas untuk menumbuhkan rasa mampu dalam diri anak. (foto/dok: freepik)

Sejak bayi, anak sebenarnya sudah belajar membangun rasa percaya diri melalui hal-hal kecil, seperti memegang botol susu, belajar duduk, hingga berjalan. Ketika bertambah besar, keterampilan seperti memakai baju sendiri, membaca, atau belajar bersepeda menjadi kesempatan emas untuk menumbuhkan rasa mampu dalam diri anak.

Orangtua sebaiknya memberikan contoh terlebih dahulu, lalu membiarkan anak mencoba sendiri meskipun masih melakukan kesalahan. Kesempatan untuk mencoba dan memperbaiki diri akan membuat anak merasa bangga terhadap usahanya.

2. Membiasakan Memberi Pujian pada Usaha, Bukan Hanya Hasil

Alih-alih hanya memuji nilai bagus atau bakat anak, fokuslah pada usaha dan proses yang mereka lakukan. Ucapan seperti, “Kamu sudah berusaha keras,” atau “Ibu bangga kamu terus berlatih,” membantu anak memahami bahwa kerja keras lebih penting daripada hasil instan.

Kebiasaan ini menanamkan mental pantang menyerah dan membuat anak lebih berani mencoba tantangan baru.

3. Mengajarkan Kejujuran dalam Memberi Apresiasi

Pujian yang tidak sesuai kenyataan justru bisa membuat anak merasa tidak nyaman atau tidak percaya diri. Jika hasil anak belum maksimal, tetap berikan dukungan dengan cara jujur, misalnya, “Hari ini belum maksimal, tapi kamu sudah berusaha dan tidak menyerah.”

Kejujuran yang disertai dukungan akan membantu anak belajar menerima kegagalan tanpa merasa rendah diri.

4. Menjadi Role Model Sikap Positif di Rumah

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika orangtua menunjukkan semangat dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, tidak mudah mengeluh, dan bangga terhadap hasil kerja sendiri, anak akan meniru sikap tersebut.

Sikap positif orangtua secara tidak langsung membentuk pola pikir anak bahwa usaha dan tanggung jawab adalah hal yang bernilai.

3 dari 3 halaman

5. Menghindari Kritik yang Menjatuhkan

Kata-kata keras atau label negatif seperti “malas” atau “tidak bisa” dapat melukai harga diri anak. Sebaiknya koreksi dilakukan dengan sabar dan fokus pada solusi, bukan kesalahan. (foto/dok: freepik)

Kata-kata keras atau label negatif seperti “malas” atau “tidak bisa” dapat melukai harga diri anak. Sebaiknya koreksi dilakukan dengan sabar dan fokus pada solusi, bukan kesalahan.

Tunjukkan cara yang benar dan berikan kesempatan anak memperbaiki diri tanpa merasa dihakimi.

6. Membantu Anak Mengenali dan Mengembangkan Kelebihannya

Setiap anak memiliki keunikan dan kekuatan masing-masing. Orangtua dapat membantu anak mengenali apa yang mereka sukai dan kuasai, seperti seni, olahraga, atau akademik.

Dengan memberikan ruang untuk mengembangkan minatnya, anak akan merasa dihargai dan lebih percaya pada kemampuan dirinya.

7. Membiasakan Anak Melihat Hal Positif dalam Sehari-hari

Anak cenderung mudah fokus pada hal yang gagal atau tidak berjalan sesuai harapan. Orangtua bisa membantu menyeimbangkannya dengan mengajak anak menyebutkan hal-hal baik yang terjadi setiap hari.

Kebiasaan ini melatih pola pikir positif dan membantu anak melihat sisi baik dari dirinya maupun lingkungannya.

8. Mengajarkan Anak Memilih Pertemanan yang Sehat

Lingkungan pertemanan sangat memengaruhi rasa percaya diri anak. Ajarkan anak untuk berteman dengan orang yang saling menghargai, mendukung, dan membuat mereka merasa nyaman menjadi diri sendiri.

Selain itu, dorong anak untuk menjadi teman yang baik bagi orang lain.

9. Melibatkan Anak dalam Kegiatan Membantu dan Berbagi

Memberi kesempatan anak membantu pekerjaan rumah, menolong saudara, atau ikut kegiatan sosial membuat anak merasa dirinya berguna dan berarti.

Perasaan dibutuhkan dan mampu memberi kontribusi akan memperkuat rasa percaya diri sekaligus empati.

Dengan membangun kebiasaan positif sejak dini, Sahabat Fimela dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang yakin pada diri sendiri, berani mencoba hal baru, dan mampu menghadapi tantangan dengan sikap optimis. Kepercayaan diri yang kuat akan menjadi bekal penting bagi anak dalam menjalani masa depan.

Penulis: Siti Nur Arisha