Suka Duka Tawa, Potret Hangat Relasi Orangtua dan Anak yang Penuh Emosi

Ayu Puji LestariDiterbitkan 13 Januari 2026, 09:35 WIB

Fimela.com, Jakarta - Hubungan antara orangtua dan anak memang selalu punya cerita sendiri. Ada fase-fase canggung yang membuat obrolan terasa terhambat, namun di saat yang sama, terselip pula momen sederhana yang mengundang tawa dan haru. Perasaan “hahaha” dan “huhuhu” itu sering hadir bersamaan, menciptakan dinamika emosional yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Nuansa itulah yang ditangkap dengan hangat dalam film terbaru persembahan BION Studios dan Spasi Moving Image, Suka Duka Tawa, yang tayang mulai 8 Januari 2026. Film ini menjadi cermin bagi banyak perempuan—baik sebagai anak maupun sebagai ibu—tentang bagaimana komunikasi, luka, dan kasih sayang saling berkelindan di dalam keluarga. Lewat kisah Tawa dan kedua orangtuanya, penonton diajak menelusuri proses saling memahami yang tidak selalu mudah, namun selalu bermakna.

Disutradarai oleh Aco Tenriyagelli, Suka Duka Tawa menampilkan akting Rachel Amanda sebagai Tawa, bersama Teuku Rifnu Wikana sebagai sang ayah, Keset, dan Marissa Anita sebagai ibu, Cantik. Ketiganya menghadirkan dinamika keluarga yang terasa nyata—rapuh, jujur, sekaligus penuh emosi. Konflik antara ayah dan anak, hingga kekhawatiran seorang ibu, dirangkai dalam perjalanan yang perlahan mengarah pada makna memaafkan.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Film yang Menyentuh Sisi Personal

Film Suka Duka Tawa yang menyentuh sisi personal penontonnya./copyright istimewa

Bagi banyak penonton, film ini berhasil menyentuh sisi paling personal. Penyiar radio, MC, sekaligus aktor Reza Chandika menyebut film ini sebagai metafora tentang “seorang bapak yang menebus dosa,” sebuah gambaran yang terasa dekat dengan perjuangan banyak orangtua dalam memperbaiki hubungan dengan anak di usia dewasa. Ia pun mengaku tersentuh oleh ekspresi Keset yang tersenyum di tengah air mata—adegan sederhana namun begitu menghunjam.

Tak hanya itu, penonton lain seperti Bella Antika juga merasakan kedalaman emosi yang dihadirkan film ini. Baginya, Suka Duka Tawa terasa sangat personal dan relevan, seolah menggambarkan proses menjadi sebuah keluarga dengan segala kekurangannya. Perasaan itu diperkuat oleh perpaduan komedi dan drama yang membuat emosi penonton naik-turun, layaknya menaiki roller coaster.

Pengalaman serupa dirasakan Fia (@alifiaaaah) yang menggambarkan film ini sebagai perjalanan emosi yang “naik turun dan kebawa, tapi justru terasa sempurna.” Sementara itu, aktris Fita Anggriani menyoroti kuatnya ikatan bapak dan anak dalam cerita ini. Sosok orangtua Tawa terasa seperti potongan kehidupan nyata—membuat penonton tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan.

3 dari 3 halaman

Menyentuh dan Banyak Penonton yang Merasakan Kedekatan Emosi

Suka Duka Tawa./copyright istimewa

Kesan mendalam juga datang dari seorang ibu tunggal yang menonton bersama anaknya. Baginya, kisah dalam film ini begitu mirip dengan kehidupan yang mereka jalani sehari-hari. Sang anak pun mengungkapkan betapa dekatnya cerita Tawa dengan pengalaman pribadinya, terutama saat melihat kilas balik tentang sosok ayah yang pergi sejak kecil.

Lewat Suka Duka Tawa, kita diingatkan bahwa tak ada keluarga yang benar-benar sempurna. Namun, selalu ada ruang untuk belajar memahami, memaafkan, dan tertawa bersama—di tengah luka dan duka yang ada. Film ini menghadirkan kisah yang utuh tentang emosi manusia, dengan cara yang jujur dan menyentuh.

Saksikan Suka Duka Tawa di bioskop mulai 8 Januari 2026 di seluruh Indonesia. Jangan lupa mengikuti kabar terbarunya melalui akun media sosial resmi BION Studios dan Spasi Moving Image.