Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, di balik gemerlap dunia selebriti, tak jarang kita melihat keluarga yang tampil harmonis dan sempurna di mata publik. Namun, apa jadinya jika citra tersebut hanyalah sebuah pertunjukan yang telah diatur secara strategis? Konsep “keluarga performatif” kini menjadi sorotan, terutama setelah pengakuan mengejutkan dari Brooklyn Beckham.
Keluarga performatif merujuk pada keluarga yang secara sengaja menampilkan citra publik yang dikurasi, seringkali mengaburkan batas antara kehidupan pribadi dan aktivitas komersial mereka. Model bisnis ini mengubah hubungan personal menjadi aset komersial strategis, menciptakan jaringan pendapatan di mana setiap anggota keluarga berfungsi sebagai merek individu dan bagian dari identitas kolektif yang lebih besar.
Fenomena ini bukan hal baru, namun media sosial telah mempercepat penyebarannya, memungkinkan keterlibatan langsung dan menumbuhkan koneksi emosional melalui konten yang tampak otentik. Namun, di balik layar, praktik ini menimbulkan kekhawatiran etika seputar privasi dan komersialisasi, terutama yang berkaitan dengan anak-anak dalam keluarga selebriti.
Keluarga Beckham: Sebuah Merek yang Terkurasi
Keluarga Beckham, yang dipelopori oleh David dan Victoria Beckham, telah lama dikenal sebagai “merek” yang kuat dan ikonik di seluruh dunia. Dari lapangan sepak bola hingga panggung catwalk, pasangan ini dengan mulus telah beralih melalui berbagai tahap karier mereka, mengelola krisis dan kebangkitan media sosial dengan mudah.
Mereka berhasil membangun citra publik yang sangat terkurasi, menampilkan disiplin, cinta, dan ketenaran yang seimbang dengan makan malam keluarga serta anak-anak yang dibesarkan dengan “nilai-nilai normal” meskipun kehidupan mereka tidak biasa. “Brand Beckham” adalah contoh brilian dari kesadaran diri yang sebenarnya dalam tindakan, di mana mereka merangkul narasi mereka dan bersedia menertawakannya bersama publik, yang membuatnya sangat menarik.
Anak-anak dari pasangan ini seringkali dilihat sebagai perpanjangan dari “merek” keluarga ini. Contohnya, Romeo Beckham pernah membintangi kampanye Burberry pada usia 12 tahun. Dokumenter Netflix “Beckham” pada tahun 2023 semakin memperkuat narasi ini, menunjukkan kebanggaan, persatuan, dan pengabdian sebagai fondasi keluarga mereka.
Pengakuan Brooklyn Beckham tentang Sisi Performatif Keluarga
Brooklyn Beckham, putra tertua David dan Victoria Beckham, baru-baru ini secara terbuka mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap sifat “performatif” keluarganya. Ia menuduh orang tuanya dan tim mereka menggunakan pers untuk membangun citra buatan dari keluarga yang sempurna.
Brooklyn menyatakan bahwa citra publik lebih diutamakan daripada ikatan pribadi dalam keluarganya, dengan klaim bahwa “Brand Beckham didahulukan”. Ia menggambarkan “unggahan media sosial yang performatif, acara keluarga yang diatur, dan hubungan yang tidak otentik” sebagai bagian tetap dari kehidupannya sejak lahir.
Konflik ini memuncak sejak pernikahannya dengan Nicola Peltz pada tahun 2022, di mana Brooklyn menuduh ibunya membatalkan gaun pengantin Nicola pada menit terakhir dan menekannya untuk menandatangani perjanjian komersial. Ia juga mengungkapkan bahwa ia tumbuh dengan kecemasan luar biasa yang hilang setelah menjauh dari keluarganya, dan menegaskan tidak ingin berdamai, merasa membela diri untuk pertama kalinya.
Dampak pada Anak-anak dalam Keluarga Selebriti
Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga selebriti seringkali menghadapi tantangan unik karena sorotan publik dan tekanan untuk mempertahankan citra tertentu. Mereka mengalami kehilangan kepemilikan narasi, di mana identitas pribadi terjalin dengan merek dan kinerja publik.
Perhatian media yang konstan, pengawasan publik, dan tekanan hidup di bawah sorotan dapat memengaruhi kehidupan pribadi mereka secara signifikan. Ada ekspektasi konstan agar mereka mengikuti jejak orang tua mereka, baik dalam kesuksesan akademik, kinerja atletik, atau bahkan pilihan karier.
Anak-anak selebriti, khususnya, rentan terhadap perhatian media. Meskipun banyak orang tua terkenal berusaha keras melindungi privasi anak-anak mereka, munculnya media sosial dan siklus berita 24/7 membuat perlindungan ini semakin sulit. Mereka sering menjadi bagian integral dari narasi merek sebelum dapat memahami atau menyetujui peran publik mereka, mengubah pengalaman masa kecil yang otentik menjadi konten yang dirancang untuk konsumsi publik.