Mengenal Model Baru Eco-Luxury Retreat dari Bali yang Jadi Favorit Wisatawan Korea

Hilda IrachDiterbitkan 21 Januari 2026, 18:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ubud, Bali, semakin menguat sebagai destinasi pilihan bagi wisatawan yang mencari pengalaman liburan lebih dari sekadar menginap. Di tengah pergeseran tren pariwisata Bali menuju segmen wellness dan retret premium, Sanggraloka Ubud muncul sebagai salah satu barometer baru konsep eco-luxury retreat di Indonesia, terutama dengan dominasi tamu asing asal Korea Selatan sepanjang akhir 2025.

Dalam periode soft-opening, Sanggraloka Ubud mencatat tingkat hunian yang diperkirakan mencapai 65–70 persen. Angka ini menjadi sinyal bahwa pasar merespons positif konsep retret mewah yang memadukan privasi, kedekatan dengan alam, serta pengalaman budaya Bali yang autentik.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Tren Pariwisata Bali Menguat, Eco-Luxury Jadi Primadona Baru

Bukan Sekadar Menginap, Ini Eco-Luxury Retreat di Ubud yang Bikin Turis Korea Ketagihan. [Dok/redhill asia].

Momentum ini sejalan dengan peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali selama periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyampaikan bahwa jumlah kedatangan wisatawan mancanegara sempat menembus lebih dari 20.000 orang per hari, meningkat dibandingkan sebelum libur panjang yang berada di kisaran 17.000 orang per hari.

Secara total, Bali tercatat menerima sekitar 6,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara dari Januari hingga pertengahan Desember 2025, meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang berada di angka 6,3 juta kunjungan. Kenaikan ini memperlihatkan bahwa Bali bukan hanya pulih, tetapi juga bergerak menuju fase baru: quality tourism dengan pengalaman yang lebih terkurasi.

3 dari 5 halaman

Eco-Luxury Retreat Bukan Sekadar Menginap, Tapi Perjalanan Utuh

Bukan Sekadar Menginap, Ini Eco-Luxury Retreat di Ubud yang Bikin Turis Korea Ketagihan. [Dok/redhill asia].

Sanggraloka Ubud mengusung pendekatan berbeda dengan merancang pengalaman tamu layaknya sebuah perjalanan bertahap yang menyentuh sisi fisik, mental, hingga emosional. Konsepnya mengarah pada slow dan meaningful journey, di mana setiap aktivitas disusun berurutan agar memberi dampak yang terasa.

Perjalanan dimulai dari Forest Path dan area sungai yang menjadi fase awal untuk healing dan emotional cleansing. Melalui outdoor escalator, tamu diajak turun perlahan menuju jalur hutan dan tepian sungai, menciptakan transisi alami dari hiruk-pikuk aktivitas menuju suasana yang lebih hening dan kontemplatif. Di area ini, tamu dapat mengikuti ritual melukat hingga sound bath by the river, yang dirancang untuk membantu tubuh kembali rileks dan pikiran lebih seimbang.

Setelah fase pemulihan, pengalaman berlanjut ke area kebun organik. Di sini, tamu diajak membangun koneksi lebih dalam melalui aktivitas yang bersifat “meaning making”, mulai dari mengenal proses tanam, peran lebah penyerbuk, hingga memanen bahan segar yang menjadi bagian penting dari identitas Sanggraloka Ubud.

Puncak perjalanan kemudian hadir dalam bentuk farm-to-table dining dan cooking class. Makanan tak lagi diposisikan sebagai sekadar menu, melainkan menjadi “perayaan” atas alam, budaya, serta proses yang telah dilalui sejak awal. Rangkaian pengalaman yang terkurasi ini disebut turut mendorong length of stay, meningkatkan potensi kunjungan berulang, sekaligus memperkuat positioning Sanggraloka Ubud sebagai destinasi retret dengan nilai lebih dari sekadar akomodasi.

4 dari 5 halaman

Wisatawan Korea Selatan Jadi Pasar Utama, Ini Alasannya

Bukan Sekadar Menginap, Ini Eco-Luxury Retreat di Ubud yang Bikin Turis Korea Ketagihan. [Dok/redhill asia].

Menariknya, tren di tingkat properti menunjukkan dominasi wisatawan Korea Selatan sebagai pasar asing terbesar di Sanggraloka Ubud pada akhir 2025. Proporsinya diperkirakan berada di angka ±28–32 persen dari total tamu asing.

Fenomena ini memperlihatkan meningkatnya minat pasar Asia, terutama Korea Selatan, terhadap destinasi wellness yang menggabungkan unsur alam dan budaya. Karakter wisatawan Korea yang menghargai privasi, menyukai estetika alam yang tenang, serta mencari pengalaman healing yang emosional, dinilai selaras dengan konsep Sanggraloka Ubud.

Mulai dari vila privat, lanskap hijau Ubud, ritual wellness khas Bali, hingga suasana retret yang eksklusif menjadi faktor yang memperkuat daya tariknya.

“Kami melihat bahwa tamu kini datang dengan ekspektasi yang lebih dalam. Mereka menginginkan pengalaman yang menenangkan, autentik, dan bermakna. Capaian akhir 2025 menjadi validasi bagi arah yang kami pilih. Masuk 2026, kami akan memperdalam kualitas pengalaman, bukan sekadar mengejar volume,” ujar Komang Kariyana, General Manager Sanggraloka Ubud.

5 dari 5 halaman

Tetap Tenang dan Privat, Tapi Makin Lengkap untuk Beragam Segmen

Bukan Sekadar Menginap, Ini Eco-Luxury Retreat di Ubud yang Bikin Turis Korea Ketagihan. [Dok/redhill asia].

Meski menonjol sebagai retret wellness yang privat, Sanggraloka Ubud juga memperluas daya tariknya melalui fasilitas yang family-friendly dan celebration-ready. Kehadiran kids playground, wedding chapel, hingga ruang budaya membuat resor ini bisa menjangkau lebih banyak segmen tanpa kehilangan identitas utamanya sebagai tempat beristirahat yang tenang.

Strategi ini sekaligus membuka peluang untuk menghadirkan pengalaman yang lebih fleksibel, baik untuk pasangan yang mencari healing trip, keluarga yang ingin liburan santai, hingga tamu yang ingin merayakan momen spesial dalam suasana yang intimate.

Memasuki 2026, Sanggraloka Ubud memproyeksikan pertumbuhan yang tetap terukur. Fokusnya diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara okupansi, tarif premium, dan pengalaman bernilai tambah. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penguatan lini wellness retreat, culinary experience, hingga boutique events melalui paket-paket terkurasi yang dapat mendiversifikasi pendapatan di luar kamar.

Tak hanya itu, Sanggraloka Ubud juga merancang beberapa pengembangan fasilitas baru sepanjang 2026, di antaranya rencana pembangunan Wellness Pavilion untuk yoga dan breathwork, pengembangan Forest Path sebagai ruang kontemplatif yang lebih imersif, hingga menghadirkan Art & Craft Studio sebagai ruang kolaborasi seniman dan perajin lokal.

Seluruh pengembangan ini dilakukan secara bertahap dengan prinsip keberlanjutan dan sensitivitas lingkungan.

“Bagi kami, 2026 bukan tentang ekspansi agresif, melainkan pendalaman kualitas, baik dari sisi pengalaman tamu, keberlanjutan operasional, maupun dampak positif bagi komunitas,” lanjut Komang. Dengan fondasi okupansi yang solid di akhir 2025, tren wisata Bali yang menguat, serta prospek industri pariwisata 2026 yang tetap positif, Sanggraloka Ubud menempatkan diri sebagai salah satu model eco-luxury retreat yang relevan dengan arah pariwisata global.

Bukan sekadar resor mewah, tempat ini menawarkan gaya liburan yang lebih bermakna yang menyatu dengan alam, menghormati budaya, dan menghadirkan pengalaman wellness yang terasa personal. Tak heran jika wisatawan Korea Selatan menjadikannya favorit baru, dan Sanggraloka Ubud perlahan menjadi wajah baru retret premium di Bali.