Peran Media Sosial dalam Membentuk Kesadaran Green Living Gen Z

Ayu Puji LestariDiterbitkan 23 Januari 2026, 15:35 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di era digital seperti sekarang, media sosial bukan sekadar ruang hiburan bagi Gen Z. Lebih dari itu, platform seperti TikTok dan Instagram telah berubah menjadi “ruang belajar” yang membentuk cara berpikir, bersikap, hingga mengambil keputusan—termasuk soal gaya hidup ramah lingkungan atau green living. Lewat konten yang fun, visual, dan mudah ditiru, kesadaran terhadap isu lingkungan tumbuh secara organik di kalangan generasi ini.

Bagi Gen Z, informasi tentang lingkungan sering kali pertama kali ditemui lewat layar ponsel. Video singkat tentang memilah sampah, tips mengurangi plastik, hingga dampak fast fashion terhadap bumi terasa jauh lebih mudah dicerna dibandingkan artikel panjang atau kampanye formal. Media sosial menghadirkan edukasi yang terasa dekat dengan keseharian, membuat isu lingkungan tidak lagi terdengar rumit atau berat.

Algoritma juga berperan besar. Sekali kamu tertarik pada satu konten green living, platform akan menampilkan konten serupa secara berkelanjutan. Dari sinilah proses belajar terjadi secara tidak sadar—pelan tapi konsisten.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Konten yang Fun dan Tidak Menggurui

Hadirkan konten yang menyenangkan./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Salah satu alasan mengapa green living cepat diterima Gen Z adalah cara penyampaiannya. Banyak konten dikemas lewat format before-after, daily routine, hingga challenge ramah lingkungan. Alih-alih menghakimi atau memberi kesan “harus”, konten ini justru mengajak dengan cara yang santai.

Pendekatan ini membuat green living terasa realistis. Tidak harus langsung sempurna, tidak perlu mahal, dan bisa dimulai dari kebiasaan kecil. Pesan seperti inilah yang relevan dengan Gen Z yang cenderung menghargai kejujuran dan keaslian.

3 dari 5 halaman

Peran Konten Kreator sebagai Role Model

Konten kreator memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan Gen Z. Ketika kreator favorit menunjukkan kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler, thrifting pakaian, atau mengurangi pembelian impulsif, audiens pun terdorong untuk mencoba hal yang sama.

Menariknya, kreator yang paling berpengaruh bukan yang tampil sempurna, melainkan yang jujur dengan prosesnya. Mengakui masih belajar dan belum sepenuhnya eco-friendly justru membuat pesan terasa lebih manusiawi dan mudah diterima.

Tren viral dan hashtag menjadi alat ampuh untuk menggerakkan massa. Tantangan zero waste, no plastic day, atau outfit from thrift store bukan hanya ramai ditonton, tapi juga dipraktikkan. Efek FOMO membuat Gen Z tidak ingin hanya menjadi penonton. Dari sinilah perubahan kecil mulai terjadi. Awalnya ikut tren, lama-lama menjadi kebiasaan. Media sosial berhasil menjembatani jarak antara awareness dan aksi nyata.

4 dari 5 halaman

Media Sosial sebagai Alat Aktivisme Lingkungan

Selain gaya hidup, media sosial juga membuka ruang bagi aktivisme lingkungan. Petisi online, penggalangan dana, hingga kampanye digital kini mudah diakses dan dibagikan. Gen Z tidak ragu menyuarakan opini mereka, baik lewat unggahan, komentar, maupun repost.

Diskusi di kolom komentar pun sering kali menjadi ruang bertukar perspektif. Dari sini, kesadaran kolektif terbentuk—bahwa isu lingkungan bukan masalah individu, melainkan tanggung jawab bersama.

5 dari 5 halaman

Green Living sebagai Identitas Diri

Sebagai bentuk identitas dari Gen Z./copyright depositphotos/rawpexel

Bagi banyak Gen Z, green living bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari identitas diri. Apa yang mereka konsumsi, pakai, dan bagikan di media sosial mencerminkan nilai yang mereka pegang. Konten ramah lingkungan menjadi bentuk self-expression sekaligus pernyataan sikap.

Media sosial membantu memperkuat identitas ini, memberi rasa memiliki, dan menghubungkan dengan komunitas yang sejalan.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah pemicu. Perubahan sesungguhnya terjadi saat kamu menjadikannya kebiasaan. Green living bukan tentang sempurna, melainkan tentang terus belajar dan berproses demi bumi yang lebih baik.