Seberapa Besar Orangtua Harus Khawatir Terhadap AI? Ini Kata Para Ahli!

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 28 Januari 2026, 09:20 WIB

ringkasan

  • Orang tua perlu mengembangkan literasi AI untuk membimbing anak-anak di tengah perkembangan teknologi yang pesat, meskipun kewaspadaan diperlukan tanpa perlu panik.
  • Pendamping AI berpotensi mengisolasi anak-anak rentan dan merusak kemampuan berpikir kritis serta keterampilan hubungan mereka, karena perusahaan teknologi beralih ke "ekonomi keterikatan".
  • Kesenjangan pemahaman AI antara orang tua dan anak-anak menuntut orang tua untuk aktif memahami teknologi ini guna melindungi anak dari risiko yang belum diatur pemerintah.

Fimela.com, Jakarta - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang masif kini menjadi sorotan utama, memicu berbagai pertanyaan di kalangan orang tua. Teknologi ini semakin meresap ke dalam kehidupan sehari-hari anak-anak, dari hiburan hingga pendidikan. Banyak orang tua bertanya-tanya, seberapa besar kekhawatiran yang harus mereka rasakan terhadap AI?

Para ahli di bidang keselamatan digital dan keamanan siber sepakat bahwa kewaspadaan memang penting, namun kepanikan tidak diperlukan. Mereka menekankan bahwa kunci utamanya adalah meningkatkan literasi AI bagi orang tua sendiri. Dengan pemahaman memadai, orang tua dapat membimbing anak menavigasi lanskap digital yang terus berubah ini.

Pentingnya literasi ini bukan tanpa alasan, mengingat kecepatan perkembangan AI yang melampaui tumbuh kembang anak. Kesenjangan pemahaman antara generasi orang tua dan anak-anak yang tumbuh bersama AI menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, memahami AI adalah langkah krusial untuk melindungi dan memberdayakan anak di era digital.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Literasi AI: Kunci Memahami Dunia Anak di Era Digital

Batasi penggunaan gadget pada anak menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan sosial anak. Jika ingin memainkan gadget sebaiknya juga didampingi olehmu agar anak tahu batasan waktu menggunakan gadget ataupun barang elektronik lainnya. (Foto: Unsplash.com/Alexander Dummer)

Perusahaan teknologi besar kini mengubah fokus mereka dari "ekonomi perhatian" menjadi "ekonomi keterikatan", strategi yang menempatkan pendamping AI di garis depan. Yasmin London, pemimpin keselamatan digital anak dari Qoria, menjelaskan pergeseran ini. Aplikasi dan platform dirancang untuk menciptakan hubungan mendalam dengan pengguna, termasuk anak-anak.

Contoh nyata fenomena ini adalah situs Nomi, tempat anak-anak dapat membuat avatar virtual sebagai teman. Mereka berinteraksi dengan avatar ini, yang dirancang memberi respons positif dan validasi secara konsisten. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana interaksi tersebut memengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak.

Sahabat Fimela, penting bagi kita memahami mekanisme di balik "ekonomi keterikatan" ini. Dengan mengetahui bagaimana AI dirancang berinteraksi dengan anak, kita dapat lebih proaktif membimbing mereka. Literasi AI bukan hanya tentang memahami teknologi, tetapi juga dampaknya pada psikologi dan perilaku anak.

3 dari 4 halaman

Risiko Pendamping AI: Antara Validasi dan Isolasi Sosial

Pendamping AI, meskipun tampak tidak berbahaya, membawa potensi risiko, terutama bagi anak-anak rentan. Anak-anak yang kesepian, memiliki masalah harga diri, atau kesulitan hubungan dunia nyata, tertarik pada chatbot yang selalu memberi komentar positif. Chatbot ini terus-menerus memvalidasi perasaan mereka, menciptakan rasa nyaman semu.

Namun, kenyamanan semu ini dapat berakibat fatal. Ketergantungan pada pendamping AI dapat mengisolasi anak lebih jauh dari interaksi sosial di dunia nyata. Ini berpotensi menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan hubungan interpersonal mereka.

Jake Moore, penasihat keamanan siber global dari ESET, menyoroti "ketakutan akan hal yang tidak diketahui" karena kecepatan AI. Teknologi ini bergerak jauh lebih cepat daripada fase tumbuh kembang anak, menciptakan kesenjangan pemahaman signifikan. Kesenjangan ini membuat orang tua semakin terasing dari teknologi baru anak-anak mereka.

4 dari 4 halaman

Peran Orang Tua di Tengah Regulasi AI yang Tertinggal

Di tengah pesatnya inovasi AI, regulasi pemerintah seringkali tertinggal. Ini berarti orang tua harus proaktif memahami risiko yang mungkin dihadapi anak-anak mereka di ruang digital. Kita tidak ingin menciptakan generasi orang tua fobia teknologi, melainkan orang tua yang berdaya dan memahami pengalaman anak mereka.

Memahami AI bukan hanya tentang mengelola waktu layar atau menjauhkan ponsel saat makan malam. Ini adalah tentang menghadapi potensi "teror" baru yang dibawa oleh teknologi canggih ini. Orang tua perlu menjadi garda terdepan melindungi anak dari dampak negatif AI, sambil tetap membuka peluang positif yang ditawarkannya.

Oleh karena itu, Sahabat Fimela, keterlibatan aktif dan pendidikan berkelanjutan tentang AI adalah esensial. Dengan demikian, kita dapat membekali anak-anak dengan keterampilan yang diperlukan menavigasi dunia yang didominasi AI. Ini memastikan mereka tumbuh menjadi individu kritis dan adaptif.