Rahasia Cepat Pulihkan Emosi Si Kecil Setelah Tantrum dengan Efektif

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 09 Februari 2026, 14:08 WIB

ringkasan

  • Setelah tantrum balita, penting untuk membangun kembali koneksi melalui sentuhan fisik yang menenangkan dan validasi perasaan mereka tanpa menyetujui perilakunya.
  • Gunakan strategi komunikasi yang tenang, tawarkan pengalihan perhatian atau pilihan, serta ajarkan cara mengekspresikan emosi setelah si kecil tenang.
  • Orang tua berperan krusial dengan tetap tenang, memberikan perhatian positif pada perilaku baik, serta mengidentifikasi pemicu tantrum untuk pencegahan yang efektif.

Fimela.com, Jakarta - Tantrum adalah fase perkembangan normal balita, seringkali antara usia 1 hingga 3 tahun. Ini terjadi karena mereka belum memiliki kemampuan komunikasi yang memadai untuk mengungkapkan perasaan, menyebabkan frustrasi yang hebat. Otak balita juga belum sepenuhnya mampu mengendalikan diri dari ledakan emosi tersebut.

Frustrasi akibat keterbatasan bahasa dan ketidakmampuan mengontrol impuls seringkali menjadi pemicu utama tantrum pada si kecil. Orang tua sering merasa bingung dan kewalahan menghadapi momen ledakan emosi ini. Namun, ada cara untuk tetap terhubung.

Setelah badai emosi mereda, sangat penting bagi Sahabat Fimela untuk membangun kembali koneksi dengan balita. Artikel ini akan membahas cara menenangkan emosi setelah tantrum pada balita agar si kecil merasa aman dan dicintai kembali.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Membangun Kembali Kedekatan Fisik dan Emosional

Setelah tantrum, menawarkan koneksi fisik adalah langkah awal yang krusial untuk menenangkan balita. /Copyright depositphotos.com/geargodz

Setelah tantrum, menawarkan koneksi fisik adalah langkah awal yang krusial untuk menenangkan balita. Sahabat Fimela bisa memberikan pelukan hangat, mengusap lembut rambutnya, atau sekadar duduk diam di sampingnya. Kontak fisik ini membantu proses co-regulation, di mana ketenangan Anda akan menular pada si kecil.

Namun, penting untuk selalu peka terhadap keinginan anak. Jika balita tidak ingin dipeluk atau disentuh, berikan mereka ruang yang cukup untuk menenangkan diri sendiri. Setelah itu, berbicaralah dengan suara yang tenang dan lembut; bahkan berbisik bisa menjadi cara efektif untuk mengalihkan perhatian dan membangun kembali kedekatan.

Mengakui perasaan anak juga sangat vital dalam proses ini. Validasi emosi mereka dengan kalimat seperti, "Kamu sangat marah karena TV dimatikan, ya? Itu memang sulit." Ini menunjukkan bahwa Anda memahami perasaannya tanpa harus menyetujui perilaku tantrumnya. Emosi mereka nyata dan valid.

3 dari 4 halaman

Strategi Komunikasi dan Pengalihan Perhatian yang Efektif

Selain validasi emosi, Sahabat Fimela dapat mencoba mengalihkan perhatian si kecil dengan menawarkan aktivitas menarik lainnya. Misalnya, ajak mereka bermain pasir atau air, membaca buku cerita favorit, atau sekadar berjalan-jalan santai di sekitar rumah. Pengalihan ini bisa membantu mengubah fokus mereka dari pemicu tantrum.

Memberikan pilihan juga merupakan strategi yang ampuh untuk mengembalikan rasa kontrol pada balita. Alih-alih melarang sepenuhnya, coba tawarkan alternatif. Contohnya, "Kita tidak bisa minum soda, tapi bagaimana kalau kita minum susu cokelat yang enak?" Ini membantu mereka merasa didengar dan memiliki opsi.

Setelah suasana benar-benar tenang, ini adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan balita cara mengekspresikan perasaannya dengan lebih baik. Anda bisa meminta mereka membuat ekspresi wajah untuk menunjukkan kesedihan atau mencontohkan bagaimana Anda mengekspresikan kemarahan, misalnya dengan menghentakkan kaki. Ini penting untuk perkembangan emosional mereka.

4 dari 4 halaman

Peran Orangtua dalam Mengelola dan Mencegah Tantrum Berulang

Ketenangan orangtua adalah kunci utama dalam menghadapi dan cara menghubungkan diri setelah tantrum balita. Usahakan untuk tetap setenang mungkin, karena ketenangan Anda akan menular kepada anak. Berteriak atau merespons dengan marah hanya akan memperburuk situasi dan mungkin membuat anak meniru perilaku tersebut.

Hindari memberikan perhatian negatif saat tantrum sedang berlangsung. Tujuan utamanya adalah agar anak belajar bahwa tantrum tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan teguran pun bisa dianggap sebagai bentuk perhatian. Sebaliknya, berikan perhatian positif saat mereka berperilaku baik, berkompromi, atau mencoba menenangkan diri.

Mengidentifikasi pemicu tantrum adalah langkah pencegahan yang efektif. Perhatikan pola apa yang sering mendahului tantrum, seperti kelelahan, lapar, atau stimulasi berlebihan. Dengan mengetahui pemicunya, Sahabat Fimela dapat menghindarinya atau mempersiapkan diri. Konsistensi dalam rutinitas dan aturan rumah juga sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan dapat diprediksi bagi balita.